Assalammualaikum, Selamat tiba di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas wacana pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Kerajaan Majapahit“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Daftar Isi
- 1 Sejarah Kerajaan Majapahit
- 2 Raja-Raja Kerajaan Majapahit
- 3 Sumber Sejarah Kerajaan Majapahit
- 4 Maja Kejayaan Kerajaan Majapahit
- 5 Kehidupan Ekonomi Kerajaan Majapahit
- 6 Kehidupan Agama Kerajaan Majapahit
- 7 Kehidupan Budaya Kerajaan Majapahit
- 8 Runtuhnya Kerajaan Majapahit
- 9 Peninggalan Kerajaan Majapahit
Sejarah Kerajaan Majapahit
Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling berpengaruh di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang berjulukan Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan murka dan kemudian memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memperlihatkan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang tiba menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke Daha, yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya mengalah dan ingin mengabdi kepada Jayakatwang.Jawaban dari surat di atas disambut dengan bahagia hati.
Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa “pahit” dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang.
Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut alasannya mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson biar sanggup pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Tanggal niscaya yang dipakai sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit yakni hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil.
Pemberontakan Ranggalawe ini didukung oleh Panji Mahajaya, Ra Arya Sidi, Ra Jaran Waha, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Gelatik, dan Ra Tati. Semua ini tersebut disebutkan dalam Pararaton. Slamet Muljana menerka bahwa mahapatih Halayudha lah yang melaksanakan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, biar ia sanggup mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun sehabis simpulan hidup pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan kemudian dieksekusi mati. Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.
Putra dan penerus Wijaya yakni Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala Gemet, yang berarti “penjahat lemah”. Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun pemerintahan Jayanegara, seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni menentukan mengundurkan diri dari istana dan menjadi bhiksuni.
Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada ketika pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang memperlihatkan rencananya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit menjelma lebih besar dan populer di kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit hingga simpulan hidup ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.
Raja-Raja Kerajaan Majapahit
Berikut dibawah ini terdapat beberapa raja-raja kerajaan majapahit, terdiri atas:
Raden Wijaya
Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja pertama pada tahun 1293 M dengan gelar kertarajasa. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan akhir rasa tidak puas atas jabatan yang diberikan oleh raja. Pemberontakan tersebut dilakukan oleh teman Raden Wijaya sendiri yaitu Ranggalawe dan Lembu sora. Tetapi pemberontakan tersebut sanggup di padamkan oleh Nambi. Raden Wijaya wafat tahun 1309 M. Di darmakan di Simping (Blitar).
Sri Jayanegara
Kala Gemet yakni nama orisinil dari Sri Jayanegara. Kala Gemet artinya “Penjahat lemah”Kala Gemet kemudian bergelar Sri Jayanegara. Pada masa pemerintahnnya, terjadi banyak pemberontakan. Seperti pemberontakan Nambi, Semi, dan Ra Kuti. Namun pemberontakan yang paling berbahaya yakni pemberontakan Ra kuti.
Pada waktu itu, pasukan Kuti berhasil menduduki Ibu kota dan Jayanegara terpaksa menyingkir ke Desa Badander di bawah proteksi pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada. Gajah Mada, berhasil menghancurkan pasukan kuti. Pada masa pemerintahan Jayanegara, terjadi insiden Patanca.
Patanca yaitu Musibah yang mengejutkan, yang terjadi pada tahun 1328. Yaitu Jayanegara dibunuh oleh Tanca (seorang tabib kerajaan). Kemudian Tanca di bunuh oleh Gajah Mada.
Raja Tribhuwanatunggadewi
Pada masa pemerintahnnya, terjadi pemberontakan sadeng. Namun sanggup dipadamkan oleh Gajah Mada. Berkat Jasa dan kecakapannya, Gajah Mada diangkat sebagai “Patih Mangkubumi”. Pada ketika pelantikan, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa (Tan Mukti Palapa). Yang menyatakan bahwa : Gajah Mada tidak akan hidup bermewah-mewah sebelum Nusantara disatukan dibawah Kerajaan majapahit.
Pada tahun 1372, Tribhuwanatunggadewi meninggal. Dalam melaksanakan cita-citanya (menyatukan nusantara), Gajah Mada didukung oleh Adityawarman dan laksamana Nala. Dibawah pimpinan Laksamana Nala, majapahit membentuk Angkatan Laut yang berpengaruh dengan tugasnya menguasai seluruh perairan yang ada di Nusantara.
Hayam Wuruk
Pada masa pemerintahnnya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaan majapahit, hampir seluas wilayah Indonesia sekarang. Muhammad Yamin menyebut Majapahit sebagai Negara Nasional Kedua Indonesia. Majapahit mengirim utusannya ke Campa, kamboja, Siam, Birma bab selatan dan Vietnam serta mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.
Pada masa ini terjadi insiden Bubat (Perang Bubat), yaitu insiden perselisihan antara Gajah Mada dan Raja Pajajaran. Sehingga dalam pertempuran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Raja Pajajaran dan Putrinya yang berjulukan Diah Pitaloka.
Dari insiden tersebut, politik Gajah Mada mengalami kegagalan. Karena, dengan adanya perang bubat bukan berarti Pajajaran sudah tunduk di bawah Majapahit namun Pajajaran terus berkembang secara terpisah dari Kerajaan majapahit. Hayam Wuruk wafat tahun 1389 M.
Wikramawardhana
Setelah Hayam Wuruk meninggal, digantikan oleh putrinya yang berjulukan Kusumawardhani. Kusumawardhani menikah dengan Wikramawardhana. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Wirabhumi (Putra Hayam Wuruk dari selir). Dalam kitab pararaton, pemberontakan tersebut di sebut perang Paregreg.
Sumber Sejarah Kerajaan Majapahit
Prasasti Butak, yang berisi insiden keruntuhan Kerajaan singasari dan usaha raden wijaya untuk mendirikan kerajaan. Prasasti Kudadu, berisi kisah pertempuran pasukan Raden Wijaya melawan pasukan Kediri. Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijakrama, menceritakan wacana Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit.
Kitab Pararaton, menceritakan wacana pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit. Kitab Nagarakertagama, menceritakan perjalanan Hayam Wuruk ke Jawa Timur. Sumber Asing berasal dari Cina, India dan Arab.
Maja Kejayaan Kerajaan Majapahit
Perkembangan Kemaharajaan Majapahit, bermula di Trowulan, Majapahit, Jawa Timur, pada kurun ke-13, kemudian membuatkan pengaruhnya atas kepulauan Nusantara, hingga surut dan runtuh pada awal kurun ke-16. Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan pemberian mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah.
Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina. Sumber ini memperlihatkan batas terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.
Namun, batasan alam dan ekonomi memperlihatkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut sepertinya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja.Majapahit juga mempunyai korelasi dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bab selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok. Selain melancarkan serangan dan ekspedisi militer, Majapahit juga menempuh jalan diplomasi dan menjalin persekutuan.
Kemungkinan alasannya didorong alasan politik, Hayam Wuruk berhasrat mempersunting Citraresmi (Pitaloka), putri Kerajaan Sunda sebagai permaisurinya. Pihak Sunda menganggap lamaran ini sebagai perjanjian persekutuan. Pada 1357 rombongan raja Sunda beserta keluarga dan pengawalnya bertolak ke Majapahit mengantarkan sang putri untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Akan tetapi Gajah Mada melihat hal ini sebagai peluang untuk memaksa kerajaan Sunda takluk di bawah Majapahit.
Pertarungan antara keluarga kerajaan Sunda dengan tentara Majapahit di lapangan Bubat tidak terelakkan. Meski dengan gagah berani memperlihatkan perlawanan, keluarga kerajaan Sunda kewalahan dan hasilnya dikalahkan. Hampir seluruh rombongan keluarga kerajaan Sunda sanggup dibinasakan secara kejam. Tradisi menyebutkan bahwa sang putri yang kecewa, dengan hati remuk redam melaksanakan “bela pati”, bunuh diri untuk membela kehormatan negaranya. Kisah Pasunda Bubat menjadi tema utama dalam naskah Kidung Sunda yang disusun pada zaman kemudian di Bali dan juga naskah Carita Parahiyangan.
Kisah ini disinggung dalam Pararaton tetapi sama sekali tidak disebutkan dalam Nagarakretagama. Kakawin Nagarakretagama yang disusun pada tahun 1365 menyebutkan budaya keraton yang adiluhung, anggun, dan canggih, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus dan tinggi, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Sang pujangga menggambarkan Majapahit sebagai sentra mandala raksasa yang membentang dari Sumatera ke Papua, meliputi Semenanjung Malaya dan Maluku. Tradisi lokal di aneka macam daerah di Nusantara masih mencatat kisah legenda mengenai kekuasaan Majapahit.
Administrasi pemerintahan pribadi oleh kerajaan Majapahit hanya meliputi wilayah Jawa Timur dan Bali, di luar daerah itu hanya semacam pemerintahan otonomi luas, pembayaran upeti berkala, dan ratifikasi kedaulatan Majapahit atas mereka. Akan tetapi segala pemberontakan atau tantangan bagi ketuanan Majapahit atas daerah itu sanggup mengundang reaksi keras.
Pada tahun 1377, beberapa tahun sehabis simpulan hidup Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan maritim untuk menumpas pemberontakan di Palembang. Meskipun penguasa Majapahit memperluas kekuasaannya pada aneka macam pulau dan adakala menyerang kerajaan tetangga, perhatian utama Majapahit nampaknya yakni mendapat porsi terbesar dan mengendalikan perdagangan di kepulauan Nusantara. Pada ketika inilah pedagang muslim dan penyebar agama Islam mulai memasuki daerah ini.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Majapahit
Kehidupan ekonomi Majapahit, menitikberatkan pada bidang pertanian, pelayaran, dan perdagangan. Majapahit merupakan negara Agraris dan Maritim. Agraris alasannya letaknya bersahabat dengan aliran sungai. Maritim alasannya mempunyai Angkatan Laut yang menanamkan pengaruhnya di seluruh Nusantara.
Kehidupan Agama Kerajaan Majapahit
Dharmadyaksa ring Kasaiwan tugasnya mengenai mengurusi Agama Syiwa (Hindu). Sedangkan Dharmadyaksa ring Kasogatan tugasnya mengenai mengurusi agama Budha. Dalam menjalankan tugasnya Dharmadyaksa dibantu oleh pejabat keagamaan yang di sebut Sang Pamegat.
Kehidupan Budaya Kerajaan Majapahit
Berikut dibawah ini terdapat dua (2) kehidupan budaya kerajaan majapahit, terdiri atas:
1. Bidang Sastra
Terdiri atas:
Sastra Jaman Majapahit awal :
- Kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca
- Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Dalam kitab tersebut memuat kata-kata “Bhineka Tunggal Ika” yang kini menjadi semboyan Indonesia
- Kitab Pararaton
- Kitab Kunjara Kunja
Sastra Jaman Majapahit Akhir :
- Kitab Sundayana = perang bubat antara Majapahit dan Pajajaran
- Kitab Sorandaka = pemberontakan sora di Lumajang
- Kitab Ranggalawe = pemberontakan ranggalawe
- Kitab Usana Jawa = penaklukan jawa
- Kitab usana Bali = penaklukan bali oleh Gajah Mada
2. Bidang Bangunan
Terdiri atas:
- Candi Panataran di Blitar
- Candi Sumberjati di Blitar
- Candi Srenggopara di Kapongpongan
- Candi jabung di Krasakan
Runtuhnya Kerajaan Majapahit
esudah mencapai puncaknya pada kurun ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akhir konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk yakni putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga mempunyai seorang putra dari selirnya Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta.
Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini hasilnya dimenangi Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang.
Pada kurun pemerintahan Wikramawardhana, serangkaian ekspedisi maritim Dinasti Ming yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim China, tiba di Jawa beberapa kali antara kurun waktu 1405 hingga 1433. Sejak tahun 1430 ekspedisi Cheng Ho ini telah membuat komunitas muslim China dan Arab di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, mirip di Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel; maka Islam pun mulai mempunyai pijakan di pantai utara Jawa.
Wikramawardhana memerintah hingga tahun 1426, dan diteruskan oleh putrinya, Ratu Suhita, yang memerintah pada tahun 1426 hingga 1447. Ia yakni putri kedua Wikramawardhana dari seorang selir yang juga putri kedua Wirabhumi. Pada 1447, Suhita mangkat dan pemerintahan dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik laki-lakinya. Ia memerintah hingga tahun 1451. Setelah Kertawijaya wafat, Bhre Pamotan menjadi raja dengan gelar Rajasawardhana dan memerintah di Kahuripan. Ia wafat pada tahun 1453 AD.
Terjadi jeda waktu tiga tahun tanpa raja akhir krisis pewarisan takhta. Girisawardhana, putra Kertawijaya, naik takhta pada 1456. Ia kemudian wafat pada 1466 dan digantikan oleh Singhawikramawardhana. Pada 1468 pangeran Kertabhumi memberontak terhadap Singhawikramawardhana dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit.
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada simpulan kurun ke-14 dan awal kurun ke-15, imbas Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada ketika bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan gres yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bab barat Nusantara. Di bab barat kemaharajaan yang mulai runtuh ini, Majapahit tak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan kurun ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan kekuasaannya ke Sumatera.
Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan Majapahit di daerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Sebuah tampilan model kapal Majapahit di Museum Negara Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah mengalami kekalahan dalam kudeta dengan Bhre Kertabumi, Singhawikramawardhana mengasingkan diri ke pedalaman di Daha (bekas ibu kota Kerajaan Kediri) dan terus melanjutkan pemerintahannya di sana hingga digantikan oleh putranya Ranawijaya pada tahun 1474.
Pada 1478 Ranawijaya mengalahkan Kertabhumi dengan memanfaatkan ketidakpuasan umat Hindu dan Budha atas kebijakan Bhre Kertabumi serta mempersatukan kembali Majapahit menjadi satu kerajaan. Ranawijaya memerintah pada kurun waktu 1474 hingga 1498 dengan gelar Girindrawardhana hingga ia digulingkan oleh Patih Udara. Akibat konflik dinasti ini, Majapahit menjadi lemah dan mulai bangkitnya kekuatan kerajaan Demak yang didirikan oleh keturunan Bhre Wirabumi di pantai utara Jawa.
Waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka, berakhirnya kurun dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1518.
Peninggalan Kerajaan Majapahit
Berikut dibawah ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan majapahit, terdiri atas:
1. Candi Sukuh

Candi Sukuh yakni sebuah kompleks candi agama Hindu yang terletak di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu alasannya ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial alasannya bentuknya yang kurang lazim dan alasannya banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan secualitas. Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia semenjak tahun 1995.
Candi Pari

Candi Pari yakni sebuah peninggalan Masa Klasik Indonesia di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur. Lokasi tersebut berada sekitar 2 km ke arah barat maritim sentra semburan lumpur PT Lapindo Brantas ketika ini. Dahulu, di atas gerbang ada watu dengan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M.
Candi Wringin Branjang

Candi Wringin Branjang terletak di Blitar, Jawa Timur. Candi yang terbuat dari watu andesit ini mempunyai bentuk yang sangat sederhana. Struktur bangunannya tidak mempunyai kaki candi, tetapi hanya mempunyai badan dan atap candi saja, dengan ukuran panjang 400 cm, lebar 300 cm dan tingginya 500 cm.
Sedangkan pintu masuknya berukuran lebar 100 cm, tingginya 200 cm dan menghadap ke arah selatan. Pada bab dinding tidak terdapat relief atau hiasan lainnya, tetapi dinding-dinding ini mempunyai lubang ventilasi yang sederhana. Bentuk atap candi mirip atap rumah biasa, dan diduga bangunan candi ini merupakan tempat penyimpanan alat-alat upacara dari zaman Kerajaan Majapahit yakni pada kurun ke 15 M.
Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Raja-Raja Kerajaan Majapahit: Sejarah, Kejayaan, Kehidupan Ekonomi, Agama, Budaya, Runtuhnya dan Peninggalan
Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!
Baca Artikel Lainnya:
- Pengertian Wilayah Menurut Para Ahli, Ciri dan Macam Lengkap
- Pengertian Manajemen Menurut Para Ahli, Fungsi, Prinsip dan Unsur
- Pengertian Valuta Asing Menurut Para Ahli, Fungsi, Jenis dan Pelaku
- [Inilah] Kisah Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja)
Sumber aciknadzirah.blogspot.com