Wednesday, January 31, 2018

√ Organisasi Bentukan Belanda

Assalammualaikum, Selamat tiba di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Organisasi Bentukan Belanda“. Berikut dibawah ini penjelasannya:


 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Organisasi Bentukan Belanda


Untuk mendukung kekuasaannya di Indonesia, dari Eropa, Afrika maupun India, Belanda juga membentuk aneka macam pasukan di Indonesia yang prajuritnya berasal dari penduduk setempat atau pribumi, tujuannya pembentukan organisasi tersebut yaitu untuk lebih mengenali abjad rakyat Indonesia selain tentu untuk mengadudomba, semoga persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia terpecah belah atau disebut juga Nusantara.





Organisasi Bentukan Belanda Di Indonesia


Berikut dibawah ini terdapat beberapa organisasi bentukan Belanda di Indonesia, terdiri atas:






  1. Mardijkers




 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Organisasi Bentukan Belanda


Sejak zaman VOC, keturunan dari mereka yang telah bebas dari perbudakan, atau yang sanggup membeli kemerdekaannya, dan kemudian bersedia menjadi serdadu “Kumpeni”, dinamakan Mardijkers. Mereka kebanyakan keturunan serdadu-serdadu pribumi yang ditawan oleh Spanyol dan Portugis, saat Belanda perang melawan kedua negara tersebut. Setelah dibebaskan, mereka bertugas kembali di ketentaraan VOC, dan secara tradisional, keturunan merekapun menjadi serdadu “kumpeni.”


Kemudian masuk juga mantan budak-budak yang berasal dari India dan Afrika, yang becampur dengan budak-budak yang berasal dari Sulawesi, Bali dan Melayu. Hampir seluruhnya menganut agama kristen. Mereka berpakaian menyerupai orang Portugis dan memakai bahasa Portugis-Kreol. Sampai era 18 orang-orang Mardijkers tinggal di kampung-kampung di Batavia.


Tahun 1777 masih terdapat 6 kompi Mardijkers (sekitar 1.200 orang) di dinas ketentaraan VOC yang bertugas menjaga perumahan Belanda di dalam kota. Tahun 1803 masih trsisa satu kompi, dan kompi terakhir dibubarkan tahun 1808.


Ketika masih berlangsung perbudakan di India-Belanda di mana diberlakukan passenstelsel (semacam kartu tanda penduduk-KTP), di tempat-tempat di mana diminta untuk menyampaikan KTP, mereka biasanya mengangkat satu tangan ke atas sambil menyampaikan “mardijkers”, yang usang kelamaan diartikan sebagai “merdeka”!






  1. Marechaussée




 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Organisasi Bentukan Belanda


Marechaussée sendiri bahwasanya merupakan unit pasukan kepolisian, yang berakar pada masa penjajahan Prancis di Belanda. Berdasarkan dekrit Republik Bataaf yang didirikan oleh Prancis, pada 4 Februari 1803 dibuat unit kepolisian yang dinamakan Marechaussée, namun tidak eksklusif dilaksanakan.


Pada 1805 dibuat satu unit Gendarmerie (semacam Brigade Mobil Brimob), dan gres pada 26 Oktober 1814, sehabis Republik Bataaf diganti dengan Kerajaan Belanda (wangsa Oranye), berdasarkan dekrit no. 498 yang dikeluarkan oleh Raja Belanda, Willem I, secara definitif dibuat Koninklijke Marechaussée.


Kata Marechaussée sendiri memiliki akar yang sangat panjang, yaitu semenjak masa pengadilan kuno di Paris tahun 1370 yang dinamakan “Tribunal of Constables and Marshals of France”. Constable dan Marshall ini kemudian menjadi anggota Gendarmerie, yang merupakan kekuatan kepolisian untuk Belanda dan Belgia.


Marechaussée yang dikenal di Indonesia sebagai Marsose berubah menjadi kekuatan tempur untuk mengamankan wilayah dan jalanan di Kerajaan Belanda. Selain tugas-tugas kepolisian, Marechaussée juga ditugaskan untuk membantu angkatan perang, terutama di waktu Perang Dunia I, tahun 1914 – 1918. Di masa ini juga Marechaussée ditigaskan di India-Belanda, antara lain dalam perang Aceh dan perang melawan Si Singamangaraja XII di Sumatera Utara, di mana kemudian pada tahun 1917, satuan Marechaussée berhasil mengalahkan dan menewaskan Si Singamangaraja XII.






  1. Tentara Bayaran




 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Organisasi Bentukan Belanda


Belanda yang kecil dengan penduduknya yang juga relatif sedikit, tentu tidak sanggup membangun tentara yang besar, yang hanya terdiri dari orang Belanda dan pribumi saja. Mereka juga memerlukan perwira yang handal untuk memimpin pertempuran, yang tidak sanggup dibutuhkan dari pribumi pada waktu itu.


Untuk membangun tentara yang tangguh di India-Belanda, di samping merekrut pribumi untuk menjadi serdadu dan paling tinggi bintara mereka juga menyewa perwira dan serdadu dari negara-negara Eropa lain, terutama dari Jerman. Belanda bahkan tidak tanggung-tanggung, yaitu mengontrak satu resimen dari Jerman. Tahun 1790-1808 terdapat Regiment Württemberg yang terdiri dari orang-orang Jerman asal Württemberg yang berjumlah 2000 (!) tentara.


Semula mereka mengabdi pada VOC, kemudian sehabis VOC dibubarkan, mereka berada di bawah Pemerintah India-Belanda. Regiment Württemberg ini dibubarkan pada tahun 1808. Banyak dari mantan serdadu dan perwira Jerman yang kemudian tinggal dan berkeluarga di Indonesia. Hal ini yang pertanda bahwa di Indonesia semenjak beberapa generasi ada keluarga Indonesia yang memiliki nama keluarga Jerman.






  1. KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger)




 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Organisasi Bentukan Belanda


Ketika berlangsung Perang Diponegoro (1825 – 1830), tahun 1826/1827 pemerintah Hindia-Belanda membentuk satu pasukan khusus. Setelah Perang Diponegoro usai, pada 4 Desember 1830 Gubernur Jenderal van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan “Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger” di mana ditetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang gres untuk Hindia-Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Willem I, tentara ini menerima predikat “Koninklijk.”


Namun dalam penggunaan sehari-hari, kata ini tidak pernah dipakai selama sekitar satu abad, dan gres tahun 1933, saat Hendrik sdfdfjn yang juga pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di Hindia-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL.


Undang-Undang Belanda tidak mengizinkan para wajib militer untuk ditempatkan di wilayah jajahan, sehingga tentara di India Belanda hanya terdiri dari prajurit bayaran atau sewaan. Kebanyakan mereka berasal dari Prancis, Jerman, Belgia dan Swiss. Tidak sedikit dari mereka yang yaitu desertir dari pasukan-pasukannya untuk menghindari hukuman.


Namun juga tentara Belanda yang melanggar peraturan di Belanda diberikan pilihan, menjalani eksekusi penjara atau bertugas di Hindia-Belanda. Mereka menerima honor bulanan yang besar. Tahun 1870 misalnya, seorang serdadu mendapatkan f 300,-, atau setara dengan penghasilan seorang buruh selama satu tahun.


Dari catatan tahun 1830, terlihat perbandingan jumlah perwira, bintara serta prajurit antara bangsa Eropa dan pribumi dalam dinas ketentaraan Belanda. Di tingkat perwira, jumlah pribumi hanya sekitar 5% dari seluruh perwira; sedangkan di tingkat bintara dan prajurit, jumlah orang pribumi lebih banyak daripada jumlah bintara dan prajurit orang Eropa, yaitu sekitar 60%. Kekuatan tentara Belanda tahun 1830, sehabis selesai Perang Diponegoro adalah:



  • 603 perwira bangsa Eropa

  • 37 perwira pribumi

  • 5. 699 bintara dan prajurit bangsa Eropa

  • 7.206 bintara dan prajurit pribumi.


Tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi serdadu KNIL mencapai 33 ribu orang, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.


Apabila meneliti jumlah perwira, bintara serta prajurit yang murni orang Belanda terlihat, bahwa bahwasanya jumlah mereka sangat kecil. Juga stigmatisasi bahwa orang Ambon yaitu acuan Belanda dalam dinas ketentaraan yaitu tidak benar, alasannya yaitu ternyata jumlah orang Ambon yang menjadi serdadu Belanda jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah orang Jawa. Juga pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL bukanlah orang Ambon, melainkan Kolonel KNIL R. Abdulkadir Wijoyoatmojo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam negosiasi di atas kapal perang AS Renville, yang membuahkan Persetujuan Renville.


Tahun 1950, sehabis penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, jumlah orang Indonesia yang masih menjadi serdadu KNIL diperkirakan sekitar 60.000 orang, dan sebagian besar dari mereka diterima ke dalam badan Tentara nasional Indonesia (TNI). Jumlah orang Ambon diperkirakan sekitar 5.000 orang, yang sebagian besar ikut dibawa ke Belanda dan tinggal di sana hingga sekarang.


Dengan merekrut tentara yang berasal dari pribumi danpolitik divide et impera-nya, menjadi tulangpunggung yang memungkinkan Belanda menang dalam banyak pertempuran melawan kerajaan-kerajaan di Hindia-Belanda, dan di beberapa tempat menyerupai di Jakarta mereka sanggup berkuasa selama sekitar 300 tahun.


Hal tersebut terjadi alasannya yaitu juga ditunjang oleh keserakahan dan egoisme para raja dan sultan serta pribumi lain yang bersedia berhubungan dengan penjajah.






  1. Belanda Hitam (zwarte Nederlander)




 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Organisasi Bentukan Belanda


Selain mengontrak orang-orang Eropa untuk menjadi serdadu di dinas ketentaraan Hindia-Belanda, juga terdapat pasukan yang terdiri dari yang dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander).


Mulai tahun 1830, di Gold Coast (sekarang Ghana) Afrika Barat, Belanda membeli budak-budak, dan melalui St George d’Elmina dibawa ke India Belanda untuk dijadikan serdadu. Untuk setiap kepala, Belanda membayar f 100,- kepada Raja Ashanti. Sampai tahun 1872, jumlah mereka kemudian mencapai 3.000 orang dan dikontrak untuk 12 tahun atau lebih.


Berdasarkan Nationaliteitsregelingen (Peraturan Kewarganegaraan), mereka masuk kategori berkebangsaan Belanda, sehingga mereka dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander). Karena mereka tidak menerima kesulitan dengan iklim di Indonesia, mereka menjadi tentara yang tangguh dan berharga bagi Belanda, dan mereka mendapatkan bayaran sama dengan tentara Belanda. Namun mereka harus mencicil uang tebusan sebesar f 100,- dari honor mereka. Memang orang Belanda tidak mau rugi, walaupun orang-orang ini telah berjasa bagi Belanda dalam mempertahankan kekuasaan mereka di Hindia-Belanda.


Sebagian besar dari mereka ditempatkan di Purworejo. Tahun 1950, sekitar 60 keluarga Indo-Afrika dibawa ke Belanda dalam rangka “repatriasi.”




Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang 5 Organisasi Bentukan Belanda Di Indonesia


Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!




Baca Artikel Lainnya:




Sumber aciknadzirah.blogspot.com