Monday, January 15, 2018

√ Pantaskah Aku? Pantaskan Aku, Ya Rabb...


     Lagi dan lagi. Dia selalu memudahkan urusanku. Hikmah apa dibalik semua ini?. Aku sungguh tak percaya!. Sudah hampir 4 semester perkuliahan ku jalani, dan nilaiku belum ada B!. Semuanya A!. saya sendiri takjub dengan keadaan yang Allah berikan ini. Pantaskah saya dengan semua ini?. Pantaskah aku, ya Rabb?. Pantaskah aku??? Pantaskan aku, ya Rabb...
     Mengapa bisa???. Apa penyebabnya???.
     Entahlah.. Mungkin ini alasannya keajaiban doa. Ya, ku yakin itu. Terutama doa ayah dan ibu untukku, untuk kami anak-anaknya.

     Padahal untuk ujian semester kemarin, mata kuliah yang paling ku khawatirkan itu Analisis Air. Kemarin nilainya udah keluar, teman-teman pada sibuk. Aku akal-akalan dingin (meski bergotong-royong ingin tau minta ampun.. dumba`2, deg-deg-an tingkat tinggi). Aku sok sibuk menulis kiprah laporan. Setelah sibuk dengan nilai masing-masing, saya mendengar salah seorang temanku berseru, "Fatimah A. nilainya 96". Hah? 96? Ya Allah... kenapa tinggi sekali?. Tidak usang setelahnya, Kanda Supriyati Sinaga menyalamiku dan masih dengan senyuman tulusnya, ia mengucapkan selamat padaku, "Selamat ya, Fatimah... Nilainya yang tertinggi trus disusul Nini". Kujawab aja, "Makasih, Kak...". Pura-pura bersikap biasa, padahal bergotong-royong hatiku senaaang bukan main. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah.... I Love U, so much!. 
n_n

     Masih terang terekam di ingatanku dikala pertama kuliah. Ayah menyemangatiku, "Pokoknya semester ini harus the best, Zahra!. Harus jadi yang terbaik. Belajar memangmi  dari sekarang. Jangan nanti mau ujian gres sibuk setengah mati".
    Saat-saat mau ujian, ayah tetap memotivasiku, "Pokoknya berguru keras, Zahra!. Usahakan semester ini A semua. IPK 4,00". Oh iya, dulu saya juga gak menger loh apa itu IPK 4,00. koq rendah sekali yah?. Oh ternyata anak kuliahan emang ghitu yah? cuman hingga 4.. =)
Kemauan keras, motivasi tinggi, dukungan dari orang-orang terdekat, belajar, doa, dan tawakkal, semua terangkum jadi satu. Akhirnya kata itu jadi nyata!. 
     Terima kasih, ya Allah... Engkau memberiku ayah sebaik dia. Aku sangat bersyukur punya ayah yang sangat cinta pada ilmu dan punya semangat yang tinggi. Ayahku pernah berkata, "Tak ada yang bisa ku berikan padamu, Nak. selain semangat. Karena hidupmu itu tergantung dari dirimu sendiri -dan tergantung Allah tentunya-".

     Kamu mungkin berfikir saya ini anak yang berbakti dan sangat membanggakan orang tua. hehehe.. Nggak juga koq. Dulu -waktu kecil, semoga tidak lagi deh- saya sering menciptakan ayah atau ibuku marah!. Ada-ada saja tingkahku yang menyebalkan. Ya masuk akal dong.. mana ada anak yang baik terus. Hei!. saya juga manusia..!. Sudahlah. Cukup Allah yang tahu semua nya. Tak perlu saya mengungkapnya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu... aammiin...

          Sebab kesalahan ada untuk menjadi sosok guru, bukan mengajak kita sekedar tuk berbasah mata atas nama sesal!. Dunia selalu gembira melorotkan keburukan kita, menampakkan celah dari kesempurnaan yang kita kejar. Lalu berderai tawa sebagian manusia. Dan biarkan sajalah!
     Sebabnya pula, tak gampang merangkak di kegelapan tak bercahaya. dikala kau terantuk, terbentur, terhalangi, bagiku itu sebuah kesalahan. Lalu engkaupun belajar, menentukan arah lain, dan meneruskan perjalanan.

     Kembali ke problem IPK. Pentingkah itu IPK 4,00?. Jawab sendiri aja deh. Oke, sebagian orang mungkin menganggapnya tidak penting. Katanya yang penting itu ilmunya. Memang benar. yang terpenting itu yaitu ilmunya. Aku juga malu bila dikatakan menyandang IPK 4,00 tapi ternyata dikala ditanya, eh tidak tahu jawabannya. Malu tau nggak seeh...!. Asal kau tahu ya, pertanggung-jawabannya itu berat sekali. Makanya dituntut untuk terus berguru semoga nilai itu bukan hanya nilai di atas kertas, tanpa bukti. Seorang sahabat pernah bertanya, bila kau disuruh menentukan antara "nilai cantik tapi ilmu tidak ada" dengan "ilmu cantik tapi nilai bobrok", pilih mana?. Hehehe... Bagaimana pun saya akan menentukan ilmu cantik dan nilai juga bagus. Kami bahkan sempat berdebat soal ini. Aku tetap dengan pilihanku doong...!. 
#rakus banget seeh...

     Okelah mungkin ada yang berfikir nilai itu tidak penting. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan orang yang berfikir sperti ini hanya mereka yang iri saja.. iri tanda tak mampu!. hehehe... :P.
     Bagiku, nilai itu yaitu citra seberapa jauh kerja keras seseorang. Efek samping dari perjuangan yang ia peroleh. Okelah ada yang sudah bekerja keras, sudah berguru keras tapi tetap ghitu-ghitu aja nilainya. Stop!. Jangan negative-thinking terus!. Gimana majunya bila gitu. 
     Menurutku, Orang yang menanam niscaya akan menuai hasilnya. Entah itu kini atau nanti. Kaprikornus tergantung apa yang kau tanam. 
     Dan ini bukti. Saat pemilihan nama-nama calon peserta beasiswa berprestasi di kampus, siapa yang akan dipilih oleh Ketua Jurusan?. Kalau di jurusanku -Analis Kesehatan-, dua orang dengan nilai tertinggi yang diambil, alhamdulillah saya salah satunya. =). Lumayan loh itu uang tujuh jutaan di tahun 2011. Apalagi buat mahasiswa yang keuangannya sering pas-pasan.. :D
     Nah, gak mungkin kan mereka yang biasa-biasa saja yang akan terpilih. Sebenarnya sih, di alam jagat raya ini tidak ada langsung yang biasa-biasa saja. Yang ada hanyalah orang yang gagal menimbulkan dirinya luarrr biasaa.

     Beberapa hari yang lalu, waktu aku bon alat di Gudang untuk praktikum, Ibu yang jaga bertanya, "Oh kau yang namanya Fatimah?". "Iya, Bu. Kenapa, Ibu...?". Trus Ibu itu ngejawab, "pintarko bede`". Melongo aku, "Ah, Ibu... biasajaka...". Dari mana lagi itu ibu sanggup info sedding... ckckck.
    Trus masih juga beberapa hari yang lalu, dosen Bakteriologiku bertanya, "Fatimah, belum ada nilai B-mu di`?". Dengan muka takut-takut (takutka ditanya-tanya trus tidak ku tahu gang...), ku jawab "iya, Bu...". Aku takutnya ia akan berkata, "nanti saya yang kasih B". Waaooouw... untungnya tidak deh. Cepat-cepat saya berlalu dari kawasan itu. Kabbuuurrr...!.
     

     Pesanku:
* Hati-hati dengan perkataan, alasannya perkataan yaitu DO`A.
* Selalulah berhusnuzh-zhan (berprasangka baik) kepada Allah, alasannya sesungguhnya Allah itu sesuai persangkaan hamba kepada-Nya.
* Berlomba-lombalah dalam kebaikan!
* Perbaiki kekerabatan dengan sesama!. Terutama orang-orang terdekatmu. Sebisa mungkin bantulah mereka dikala mereka membutuhkan bantuan. Karena suatu dikala kau pun niscaya akan butuh derma mereka. Bayangkan bila engkau yang berada di posisi mereka.
* Jangan sombong!. Ada hadist, "Sungguh tidak akan masuk Syurga orang yang dalam dirinya ada kesombongan meskipun hanya seberat dzarrah".


Sumber http://teenozhealthanalyst.blogspot.com