Tuesday, January 23, 2018

√ Wahai Puteriku يا ابنتي

Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, keinginan dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
    Aku juga telah mencicipi pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.
    Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, hingga pena tumpul, dan lisan letih, dan kami tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak sanggup kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para perempuan keluar dengan pakaian merangsang, terbuka pecahan lengan, betis dan lehernya.
    Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.
    Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan karena lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kamu katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.
    Demi Allah … dalam imajinasi seorang perjaka tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
    Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali susila dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
    Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan perjaka kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! sehabis itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kamu pikirkan!
    Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan mencicipi penderitaan jawaban kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.
    Bila engkau bertemu dengan pemuda, kamu palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang  usil, kamu lepaskan sepatu dari kakimu kemudian kamu lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu belum dewasa bandel itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.
    Cita-cita perempuan tertinggi yaitu perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya yaitu menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
    Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan menentukan perempuan jalang (nakal), akan tetapi ia akan menentukan perempuan yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya yaitu seorang perempuan amoral.
    Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para perjaka tidak membutuhkan isteri, balasannya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih bisa daripada kaum laki-laki  untuk melaksanakan perjuangan itu karena kalian telah mengerti bahasa perempuan dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini yaitu kalian, para perempuan mulia dan beragama.
    Maka hendaklah kalian mengajak mereka semoga bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan jawaban yang buruk dari perzinaan menyerupai terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian yaitu gadis-gadis dewasa putri yang cantik, oleh karena itu banyak perjaka mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?
    Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan menyayangi seorang nenek? Mereka yaitu anak dan para cucunya, ketika itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan menggunakan mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?    Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah jawaban itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
    Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak sanggup mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, semoga mereka tidak menempuh jalan yang salah.
    Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan perempuan kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian mendapatkan kerusakan sedikit demi sedikit.
    Perbaikan tersebut tidak sanggup diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu kini telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang perempuan membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup  wajah bukan berarti ia boleh menyambut mitra suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan mitra laki-laki di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, berguru bersama untuk ujian, beliau lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai perempuan dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain sanggup saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan bisa mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan sec dari dalam jiwa mereka.
    Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan yaitu pembohong dilihat dari dua karena :
    Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, menawarkan kenikmatan-kenikmatan melihat angota tubuh yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
    Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menyebabkan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak sanggup memahami kebenaran kecuali apa-apa yang tiba dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york. Sekalipun berupa dansa, p0rn*, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan berdasarkan mereka yaitu segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu sanggup mengurangi nafsu birahi, mendidik tabiat dan sanggup menekan libido secual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, menyerupai Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini sehabis melihat bahwa hal ini amat merusak?
    Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
    Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak mempunyai anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain  untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya yaitu seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian senang menyerupai yang saya inginkan untuk putri-putriku.
    Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan sanggup diketemukan kembali.
    Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun kemudian pergi menelantarkan, persisnya menyerupai anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
    Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.
(wallahul musta’an).

Disarikan dari   buku :  “Wahai Putriku” Ali Thanthawi


المكتب التعاوني لدعوة الجاليات بعنيزه


Sumber http://teenozhealthanalyst.blogspot.com