Wednesday, January 3, 2018

√ Yang Terlupa Dari Keikhlasan


Pemburu nilai, pemburu nilai di mata manusia!. Sampai kapan kamu menyerupai itu?. Tidakkah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik?. Kau hanya kagum pada orang-orang yang telah mendahuluimu. Mereka-mereka yang telah menunjukan apa yang mereka impikan. Mereka telah menunjukan bahwa mereka bisa. Sedangkan kau, ada apa denganmu?. Kau masih membisu di sini. Membisu. Tidakkah kamu berfikir bahwa kamu pun bisa menyerupai mereka atau bahkan lebih?. Bergeraklah!. Ayo bangkit!. Lupakan semua evaluasi insan kepadamu!. Mereka hanya mengukurmu dari apa yang telah kamu lakukan, sedangkan kau? Kau mengukur dirimu dari apa yang bisa kamu lakukan. Masih banyak yang harus diperjuangkan. Bergeraklah, bangkitlah, dan ikhlaskan semuanya!.

***

Yang Terlupa Dari Keikhlasan

Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak absurd lagi di pendengaran kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di alam abadi kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jikalau amal tersebut dilakukan tidak lapang dada sebab Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat dekat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitabMasobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah bantu-membantu makna dari lapang dada itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan yakni ketika engkau menimbulkan niatmu dalam melaksanakan suatu amalan hanyalah sebab Allah semata, engkau melakukannya bukan sebab selain Allah, bukan sebab riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula sebab engkau ingin mendapatkan kebanggaan serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan sebab engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melaksanakan suatu amalan hanya sebab Allah semata bukan sebab kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal sebab insan yakni syirik, meninggalkan amal sebab insan yakni riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian insan menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata menyerupai sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang bekerjasama dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata sebab Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan sebab supaya dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu supaya kelak suatu ketika nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula sebab engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut sebab Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang pria yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau mempunyai suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja saya mengunjunginya sebab saya mencintainya sebab Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya saya yakni utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa bantu-membantu Allah mencintaimu sebagaimana engkau menyayangi saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya sebab Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun menyayangi orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan hingga sesuap makanan yang engkau letakkan di verbal istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda dia ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di verbal istrinya, apabila dilakukan lapang dada sebab Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan lapang dada sebab Allah ? bukankah itu semua akan menerima ganjaran dan jawaban pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita sanggup menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, bantu-membantu yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya lapang dada sebab Allah, maka Allah akan mendapatkan dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar sebab niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya sebab niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang pria melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah saya akan singkirkan dahan pohon ini supaya tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk nirwana karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk nirwana karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati sebab kehausan, lalu hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memperlihatkan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya sebab memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong yakni seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang pria tiba kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu perihal seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan supaya dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mendapatkan suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan lapang dada karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak lapang dada dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah berinfak lapang dada sebab Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan bisa mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman perihal perkataan Iblislaknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau saya akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang lapang dada di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang lapang dada yakni orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman perihal Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, supaya Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan perihal penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga dia terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong dia untuk melaksanakan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi sebab Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh sebab itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah bantu-membantu hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menimbulkan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
Artikel www.muslimah.or.id 
***


Sumber http://teenozhealthanalyst.blogspot.com