Saturday, February 10, 2018

√ Sejarah Singkat Kerajaan Sriwijaya

Assalammualaikum, Selamat tiba di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Kerajaan Sriwijaya“. Berikut dibawah ini penjelasannya:


 Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran  √ Sejarah Singkat Kerajaan Sriwijaya


Kata Sriwijaya dijumpai pertama kali pada Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di pulau Bangka. Kerajaan Sriwijaya berdiri pada periode ke 7 (tujuh), bukti mengenai keberadaan sanggup kita ketahui dari beberapa peninggalannya, termasuk prasasti Kedukan Bukit. Munculnya Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan telah mengalihkan perhatian para mahir sejarah Indonesia dari kerajaan Mataram.





Sejarah Kerajaan Sriwijaya



Beberapa orang terkadang menyimpulkan bahwa keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Nusantara masih menjadi misteri, pendapat tersebut disebabkan lantaran sumber sejarah kerajaan Sriwijaya masih tidak cukup untuk menggambarkan sejarah dari awal sampai keruntuhan (akhir).


Bukti fisik Sriwijaya masih belum banyak ditemukan, terlebih lagi tidak ada catatan lebih lanjut terkait dengan Sejarah Kerajaan Sriwijaya. Bahkan sebelum tahun 1920, orang Indonesia modern belum ada yang mendengar mengenai Sriwijaya, sejarahnya benar-benar terlupakan. Baru sesudah tahun 1920an diangkat kembali oleh sarjana asing.


Sriwijaya ialah kerajaan terbesar di Nusantara pada periode ke 20, sekaligus menjadi simbol kebesaran Pulau Sumatera pada ketika itu. Ada beberapa sebutan atau julukan terkait dengan nama “Sriwijaya”, menyerupai Javadeh dan Yavadesh (dalam bahasa Pali dan Sanskerta). Sementara itu, orang Tiongkok atau Tionghoa menyebutnya dengan nama San Fo Qi atau San Fo Ts’i dan Li Fo Shih. Ada juga Zabaj (Arab) dan Melayu (Khamer). Banyaknya nama merupakan salah satu hambatan sulitnya menemukan kerajaan Sriwijaya.




Latar Belakang Berdirinya Sriwijaya


Berdasarkan sumber catatan I Tsing, Kerajaan Sriwijaya sudah ada semenjak tahun 671 Masehi. Kemudian dalam isi Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 682 menyebutkan bahwa Dapunta Hyang merupakan pemimpin atau raja pada ketika itu. Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan Maritim sekaligus sentra perdagangan di Asia Tenggara, khususnya Nusantara.


Kemudian pada peninggalan lain berupa prasasti dengan nama “Kota Kapur” berangka tahun 686 menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah menguasai wilayah menyerupai Lampung, Belitung, Sumatera Selatan dan Pulau Bangka. Isi lain menceritakan ihwal ekspedisi militer ke Bhumi Jawa (Pulau Jawa) yang bertujuan untuk melaksanakan penaklukan terhadap kerajaan yang ada. Bila mengacu pada tahun tersebut, maka ekspedisi ini bersamaan dengan runtuhnya kerajaan besar menyerupai Kalingga dan Tarumanegara di Jawa.




Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya


Berikut ini terdapat beberapa raja-raja yang memerintah kerajaan sriwijaya, antara lain :



  1. Srijayanasa (Dapunta Hyang), berkuasa pada tahun 671

  2. Rudra Vikraman (Lieou Teng Wei Kong), tahun 728

  3. Sri Indrawarman (Shih Li T’o Pa Mo), Tahun 708

  4. Sri Maharaja, berkuasa dari tahun 775

  5. Rakai Panangkaran, raja dari tahun 778

  6. Samaragrawira, 782

  7. Samaratungga, 792

  8. Balaputradewa, berkuasa pada tahun 856

  9. Sri Udayaditya Warmadewa

  10. Sri Caudamani Warmandewa

  11. Sri Mara Vijayottunggawaran

  12. Sangrama Vijayottunggawaran

  13. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa






Letak Geografi Kerajaan Sriwijaya


Menurut isi Prasasti Kedukan Bukit, kedatuan Sriwijaya didirikan pertama kali di tepi Sungai Musi, Palembang (sekarang). Sementara itu, pada teori Palembang dengan tokoh pencetus berjulukan Coedes dan Pierre Yvs Manguin, mereka beropini bahwa selain Palembang ada tempat lain yang diduga sebagai pusa ibu kota kerajaan Sriwijaya menyerupai di Muara Takus bersahabat Sungai Kampar di Riau dan bersahabat Sungai Batanghari Muaro Jambi.


Penelitian ihwal sentra kerajaan Sriwijaya pernah dilakukan oleh Pierre Yves Manguin melalui observasi yang dilakukan pada sekitar tahun 1993. Hasil penelitiannya yaitu sentra ibu kota Sriwijaya terletak di Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di Sungai Musi antara Sabokingking dan Bukit Seguntang. Lokasi tersebut sangat bersahabat dengan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di Situs Karanganyar.




Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya


Penguasa atau Raja di Kerajaan Sriwijaya disebu Maharaja atau Dapunta Hyang. Jabatan-jabatan lain dibawah raja menyerupai putra mahkota (Yuvaraja), putra mahkota 2 (Pratiyuvaraja) dan pewaris-pewaris selanjutnya disebut (Rajakumara). Informasi terkait dengan kehidupan politik sanggup kita ketahui dari isi prasasti Telaga Batu. Disitu dijelaskan mengenai struktur jabatan dalam pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.


Selain berisi jabatan dalam struktur pemerintahan, diceritakan juga mengenai kutukan raja bagi yang menentangnya dan kehidupan sosial ekonomi berupa pekerjaan yang ada pada ketika itu.





Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya



Setiap kerajaan niscaya mengalami masa keemasan, demikian halnya dengan Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II disitu dijelaskan bahwa Sriwijaya mengalami masa kejayaan ketika Raja Balaputradewa berkuasa.


Saat itu, Kerajaan Sriwijaya melaksanakan relasi baik dengan kerajaan dari India, relasi baik ditandai dengan dikirimnya pendeta dari Sriwijaya ke India. Balaputradewa kemudian mengajukan kepada raja tersebut untuk membangun biara bagi para Pendeta Sriwijaya.


Kerajaan Sriwijaya juga menjadi sentra pendidikan dan pengembangan agama Budha di Asia Tenggara. Lokasi yang strategis menciptakan rute jalur maritim dimanfaatkan sebagai salah satu pemasukan ekonomi, setiap kapal lewat akan dikenai biaya bea cukai.




Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya



Berikut ini terdapat beberapa keruntuhan kerajaan sriwijaya, antara lain:




  • Akibat serangan dari India, ketika itu yang menjadi raja Kerajaan Sriwijaya ialah Sri Sundamani Warmadewa. serangan tersebut berhasil melemahkan Kerajaan Sriwijaya.

  • Melemahnya Sriwijaya lantaran terjadi ekspedisi besar-besaran ke semenanjung Malaya yang diperintahkan oleh raja Kertanegara.

  • Munculnya kerajaan islam baru, yaitu Samudra Pasai, yang menciptakan melemahnya Kerajaan Sriwijaya.

  • Serangan pada tahun 1023 dan 1030, serangan tersebut berhasil menawan Raja Kerajaan Sriwijaya.

  • Serangan dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1477, yang menyebabkan Kerajaan Sriwijaya takluk.





Peninggalan Kerajaan Sriwijaya


Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan sriwijaya, antara lain:




1. Palas Pasemah


Prasasti ini berisi tigabelas kalimat yang memakai bahasa melayu kuno, berhasil ditemukan di desa Palas Pasemah tepatnya di sekitar tempat rawa.




2. Hujung Langit


Prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya kedua ini dibentuk sekitar tahun 997 masehi, ditemukan di desa Haur Kuning, isinya berupa kisah dukungan tanah oleh raja Sima.




3. Kota Kapur


Prasasti Kota Kapur ditemukan di pesisir pulau bangka, isinya berupa kutukan bagi siapa saja yang membantah sang raja dan struktur pemerintahan kerajaan.




4. Talang Tuo


Prasasti ini berisi kumpulan doa-doa bekas peninggalan Kerajaan Sriwijaya.




5. Kedukan Bukit


Isi prasasti Kedukan Bukit berkaitan dengan kisah seorang utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang melaksanakan perjalanan memakai perahu, dan berhasil menaklukan tempat lain.




6. Telaga Batu


Prasasti ini berisi mengenai kutukan bagi siapa saja yang berbuat jahat dalam kehidupan masyarakat Kerajaan Sriwijaya.




7. Leiden


Prasasti terakhir yakni prasasti Leiden, berisi ihwal relasi baik antara dinasti Sailendra Kerajaan Sriwijaya dengan dinasti  Chola.




Sumber: Buku Sejarah Kelas X




Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Letak, Raja, Masa Kejayaan dan Keruntuhan


Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!




Baca Artikel Lainnya:






Sumber aciknadzirah.blogspot.com