Assalammualaikum, Selamat tiba di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas ihwal pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Kerajaan Aceh“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Daftar Isi
Sejarah Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh berdiri menjelang keruntuhan Samudera Pasai. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada tahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majaphit, dan semenjak dikala itu, kerajaan Pasai terus mengalami kemudunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya kala ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Pasai, dan semenjak dikala itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang mempunyai dampak besar di tempat tersebut. Bisa dikatakan bahwa, bahwasanya kerajaan Aceh ini merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya.
Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya meliputi Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naih tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh dalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai. Saat itu, sekitar tahun 1511 M, kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Aceh dan pesisir timur Sumatera ibarat Peurelak (di Aceh Timur), Pedir (di Pidie), Daya (Aceh Barat Daya) dan Aru (di Sumatera Utara) sudah berada di bawah dampak kolonial Portugis. Mughayat Syah dikenal sangat anti pada Portugis, lantaran itu, untuk menghambat dampak Portugis, kerajaan-kerajaan kecil tersebut kemudian ia taklukkan dan masukkan ke dalam wilayah kerajaannya. Sejak dikala itu, kerajaan Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan wilayah yang luas, hasil dari penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.
Sejarah mencatat bahwa, usaha Mughayat Syah untuk mengusir Portugis dari seluruh bumi Aceh dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah berada di bawah Portugis berjalan lancar. Secara berurutan, Portugis yang berada di daerah Daya ia gempur dan berhasil ia kalahkan. Ketika Portugis mundur ke Pidie, Mughayat juga menggempur Pidie, sehingga Portugis terpaksa mundur ke Pasai. Mughayat kemudian melanjutkan gempurannya dan berhasil merebut benteng Portugis di Pasai.
Kemenangan yang berturut-turut ini membawa laba yang luar biasa, terutama dari aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan Aceh banyak meninggalkan persenjataan, lantaran memang tidak sempat mereka bawa dalam gerak mundur pasukan. Senjata-senjata inilah yang dipakai kembali oleh pasukan Mughayat untuk menggempur Portugis.
Ketika benteng di Pasai telah dikuasai Aceh, Portugis mundur ke Peurelak. Namun, Mughayat Syah tidak menawarkan kesempatan sama sekali pada Portugis. Peurelak kemudian juga diserang, sehingga Portugis mundur ke Aru. Tak berapa lama, Aru juga berhasil direbut oleh Aceh hingga kesudahannya Portugis mundur ke Malaka. Dengan kekuatan besar, Aceh kemudian melanjutkan serangan untuk mengejar Portugis ke Malaka dan Malaka berhasil direbut. Portugis melarikan diri ke Goa, India. Seiring dengan itu, Aceh melanjutkan ekspansinya dengan menaklukkan Johor, Pahang dan Pattani. Dengan keberhasilan serangan ini, wilayah kerajaan Aceh Darussalam meliputi hampir separuh wilayah pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya hingga Pattani.
Demikianlah, walaupun masa kepemimpinan Mughayat Syah relatif singkat, hanya hingga tahun 1528 M, namun ia berhasil membangun kerajaan Aceh yang besar dan kokoh. Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri kerajaan Aceh Darussalam, yaitu: (1) mencukupi kebutuhan sendiri, sehingga tidak bergantung pada pihak luar; (2) menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara; (3) bersikap waspada terhadap negara kolonial Barat; (4) mendapatkan pemberian tenaga hebat dari pihak luar; (5) menjalankan dakwah Islam ke seluruh tempat nusantara. Sepeninggal Mughayat Syah, dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh penggantinya.
Dalam sejarahnya, Aceh Darussalam mencapai masa kejayaan di masa Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1590-1636). Pada masa itu, Aceh merupakan salah satu sentra perdagangan yang sangat ramai di Asia Tenggara. Kerajaan Aceh pada masa itu juga mempunyai kekerabatan diplomatik dengan dinasti Usmani di Turki, Inggris dan Belanda. Pada masa Iskandar Muda, Aceh pernah mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah jawaban berupa sebuah meriam dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh.
Hubungan dengan Perancis juga terjalin dengan baik. Pada masa itu, Perancis pernah mengirim utusannya ke Aceh dengan membawa hadiah sebuah cermin yang sangat berharga. Namun, cermin ini ternyata pecah dalam perjalanan menuju Aceh. Hadiah cermin ini sepertinya berkaitan dengan kegemaran Sultan Iskandar Muda pada benda-benda berharga. Saat itu, Iskandar Muda merupakan satu-satunya raja Melayu yang mempunyai Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di istananya yang megah, Istana Dalam Darud Dunya. Konon, berdasarkan utusan Perancis tersebut, luas istana Aceh dikala itu tak kurang dari dua kilometer. Di dalam istana tersebut, juga terdapat ruang besar yang disebut Medan Khayali dan Medan Khaerani yang bisa menampung 300 ekor pasukan gajah, dan aliran sungai Krueng yang telah dipindahkan dari lokasi asal alirannya.
Sebelum Iskandar Muda berkuasa, bahwasanya juga telah terjalin kekerabatan baik dengan Ratu Elizabeth I dan penggantinya, Raja James dari Inggris. Bahkan, Ratu Elizabeth pernah mengirim utusannya, Sir James Lancaster dengan membawa seperangkat pemanis bernilai tinggi dan surat untuk meminta izin biar Inggris diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Aceh. Sultan Aceh menjawab positif usul itu dan membalasnya dengan mengirim seperangkat hadiah, disertai surat yang ditulis dengan tinta emas. Sir James Lancaster sebagai pembawa pesan juga dianugerahi gelar Orang Kaya Putih sebagai penghormatan. Berikut ini cuplikan surat Sulta Aceh pada Ratu Inggris bertarikh 1585 M:
I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset.
(Hambalah Sang Penguasa Perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh, tanah Sumatera dan seluruh wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam).
Ketika Raja James berkuasa di Inggris, ia pernah mengirim sebuah meriam sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Hubungan ini memburuk pada kala ke 18, lantaran nafsu imperialisme Inggris untuk menguasai tempat Asia Tenggara. Selain itu, Aceh juga pernah mengirim utusan yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid ke Belanda, di masa kekuasaan Pangeran Maurits, pendiri dinasti Oranye. Dalam kunjungan tersebut, Abdul Hamid meninggal dunia dan dimakamkan di pekarangan sebuah gereja dengan penuh penghormatan, dihadiri oleh para pembesar Belanda. Saat ini, di makam tersebut terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana.
Ketika Iskandar Muda meninggal dunia tahun 1636 M, yang naik sebagai penggantinya yakni Sultan Iskandar Thani Ala’ al-Din Mughayat Syah (1636-1641M). Di masa kekuasaan Iskandar Thani, Aceh masih berhasil mempertahankan masa kejayaannya. Penerus berikutnya yakni Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M), putri Iskandar Muda dan permaisuri Iskandar Thani. Hingga tahun 1699 M, Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh empat orang ratu. Di masa ini, kerajaan Aceh sudah mulai memasuki era kemundurannya. Salah satu penyebabnya yakni terjadinya konflik internal di Aceh, yang disebabkan penolakan para ulama Wujodiyah terhadap pemimpin perempuan. Para ulama Wujodiyah dikala itu berpandangan bahwa, aturan Islam tidak membolehkan seorang wanita menjadi pemimpin bagi laki-laki. Kemudian terjadi konspirasi antara para hartawan dan uleebalang, dan dijustifikasi oleh pendapat para ulama yang kesudahannya berhasil memakzulkan Ratu Kamalat Syah. Sejak dikala itu, berakhirlah era sultanah di Aceh.
Memasuki paruh kedua kala ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris yang memuncak pada kala ke-19. Pada selesai kala ke-18 tersebut, wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang dirampas oleh Inggris. Pada tahun 1871 M, Belanda mulai mengancam Aceh atas restu dari Inggris, dan pada 26 Maret 1873 M, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh. Pada tahun 1883, 1892 dan 1893 M, perang kembali meletus, namun, lagi-lagi Belanda gagal merebaut Aceh. Pada dikala itu, Belanda bahwasanya telah frustasi untuk merebut Aceh, hingga akhirnya, Snouck Hurgronye, seorang sarjana dari Universitas Leiden, menyarankan kepada pemerintahnya biar mengubah fokus serangan, dari sultan ke ulama. Menurutnya, tulang punggung perlawanan rakyat Aceh yakni para ulama, bukan sultan. Oleh alasannya yakni itu, untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh, maka serangan harus diarahkan kepada para ulama. Saran ini kemudian diikuti oleh pemerintah Belanda dengan menyerang basis-basis para ulama, sehingga banyak masjid dan madrasah yang dibakar Belanda.
Saran Snouck Hurgronye membuahkan hasil: Belanda kesudahannya sukses menaklukkan Aceh. J.B. van Heutsz, sang panglima militer, kemudian diangkat sebagai gubernur Aceh. Pada tahun 1903, kerajaan Aceh berakhir seiring dengan menyerahnya Sultan M. Dawud kepada Belanda. Pada tahun 1904, hampir seluruh Aceh telah direbut oleh Belanda. Walaupun demikian, bahwasanya Aceh tidak pernah tunduk sepenuhnya pada Belanda. Perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh masyarakat tetap berlangsung. Sebagai catatan, selama perang Aceh, Belanda telah kehilangan empat orang jenderalnya yaitu: Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Demmeni dan Jenderal J.J.K. De Moulin.
Kekuasaan Belanda berlangsung hampir setengah abad, dan berakhir seiring dengan masuknya Jepang ke Aceh pada 9 Februari 1942. Saat itu, kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh p0juang Aceh dan masyarakat umum. Hubungan baik dengan Jepang tidak berlangsung lama. Ketika Jepang mulai melaksanakan pelecehan terhadap wanita Aceh dan memaksa masyarakat untuk membungkuk pada matahari terbit, maka, dikala itu pula mulai timbul perlawanan. Di antara tokoh yang dikenal gigih melawan Jepang yakni Teungku Abdul Jalil. Kekuasaan para penjajah berakhir ketika Indonesia merdeka dan Aceh bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kehidupan Politik Kerajaan Aceh
Kehidupan politik dan pemerintahan Kerajaan Aceh dipimpin oleh seorang sultan. Sultan atau raja awal mulanya berkedudukan di Gampong Pande, namun kemudian dipindahkan ke dalam Darud Dunia atau di sekitar Pendopo Gubernur Aceh (sekarang). Ibu kota kesultanan Aceh berada di Bandar Aceh Darussalam, namun pada tahun 1873 ibukota dipindahkan ke Keumala di pedalaman Pidie.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Aceh
Kehidupan ekonomi di kerajaan Aceh bertumpu di bidang pelayaran dan perdagangan. Perekonomian Aceh tumbuh pesat, alasannya yakni letaknya strategis di Selat Malaka. Selain itu, semakin meluasnya dampak kerajaan Aceh dan hubungan-hubungan dengan pihak absurd juga menjadi faktor perkembangan ekonomi yang semakin maju.
Dibawah ini beberapa komoditas perdagangan Kerajaan Aceh, antara lain:
- Lada
- Emas
- Minyak Tanah
- Kapur
- Sutera
- Kapas
- Kapur barus
- Menyan
- Belerang
Selain itu, perekonomian di Ibukota kerajaan juga tumbuh pesat, dibuktikan dengan sudah adanya pengolahan materi mentah menjadi barang jadi. Di bidang pertanian, daerah Sedang Pidie yakni lumbung bagi komoditas padi. Namun komoditas utama atau bisa dikatakan unggulan di kesultanan Aceh yang diekspor ke luar yakni lada.
Dengan kemakmuran dan kemajuan dibidang perekonomian, kesultanan Aceh kemudian tumbuh menjadi kerajaan Islam besar yang diperkuat oleh armada bersenjata yang besar dan kuat, terutama armada lautnya.
Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Aceh
Selain di bidang perekonomian, dampak letak yang strategis menciptakan kehidupan sosial budaya di kerajaan Aceh tumbuh pesat. Hal ini disebabkan lantaran interaksi dengan orang-orang luar ibarat pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan Eropa.
Kehidupan sosial budaya sanggup dilihat landasan aturan yang berlaku yang didasari dari aliran Islam. Hukum susila ini disebut aturan susila Makuta Alam. Berdasarkan aturan ini, pengangkatan seorang sultan diatur dengan sedemikian rupa dengan melibatkan ulama dan perdana menteri.
Sisa-sisa arsitektur bangunan peninggalan kesultanan Aceh keberadaannya tidak terlalu banyak, disebabkan lantaran sudah terbakar pada masa perang Aceh. Beberapa bangunan yang masih tersisa contohnya ibarat Istana Dalam Darud Donya yang kini menjadi Pendopo Gubernur Aceh.
Selain istana, beberapa peninggalan yang masih sanggup kita lihat hingga kini ibarat Masjid Tua Indrapuri, Benteng Indra Patra, Gunongan, Pinto Khop, dan kompleks pemakaman keluarga kesultanan Aceh.
Kehidupan Agama Kerajaan Aceh
Mayoritas masyarakat di kesultanan Aceh beragama Islam. Perkembangan agama Islam di kerajaan ini disebabkan lantaran terjadi kekerabatan interaksi dengan pedagang Arab dan India. Peran kesultanan Aceh dalam membuatkan agama Islam sanggup dibuktikan dari karya-karya ulama Aceh yang di pakai di Asia Tenggara.
Contohnya ibarat karangan Risalah Masailal Muhtadin li Ikhwanil Muhtadi yang diterbitkan oleh Syaikh Daud Rumy. Kemudian Syaikh Nuruddin Ar Raniry yang setidaknya telah menulis sebanyak 27 kitab dalam bahasa Arab dan Melayu. Karyanya yang paling terkenal yaitu Sirath al-Mustaqim.
Masa Kejayaan Kerajaan Aceh
Masa kejayaan kerajaan Aceh berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, tepatnya pada tahun 1607 hingga 1636. Pada masa pemerintahannya, kesultanan Aceh berhasil menaklukkan wilayah penghasil timah di Pahang. Pada masa ini juga armada kapal Aceh begitu banyak, dibuktikan dari serangan yang dilakukan terhadap Portugis dengan 500 kapal dan 60 ribu pasukan militer laut.
Silsilah Raja Kerajaan Aceh
Berikut ini terdapat beberapa silsilah raja kerajaan aceh, antara lain:
1. Sultan Ali Mughayat Syah
Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M. Di bawah kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melaksanakan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru.
2. Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oelh lantaran itu, Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg berjulukan Alauddin Riayat Syah al-Kahar.
3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar
Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melaksanakan banyak sekali bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.
Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melaksanakan perluasaan wilayah kekuasaannya ibarat melaksanakan serangan terhadap Kerajaan Malaka ( tetapi gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya, kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan kudeta sering terjadi.
4. Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di bawah pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerjaan besar adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi bandar transito yg sanggup menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat.
Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan usaha Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya yakni menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah – daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda juga menolak usul Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera serpihan barat. Selain itu, kerajaan Aceh melaksanakan pendudukan terhadap daerah – daerah ibarat Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahannya Kerajaan aceh mempunyai wilayah yang sangat luas.
Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang hebat tasawwuf yg terkenal di Ace, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi. Setelah Sultam iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani.
5. Sultan Iskandar Thani
Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar yg berjulukan Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai ulama besar, Nuruddin ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam Permaisuri ( 1641-1675 M ).
6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
Keruntungan Kerajaan Aceh
Berikut ini penyebab keruntuhan kerajaan aceh, antara lain:
- Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tdk ada raja – raja besar yg bisa mengendalikan daerah Aceh yg demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani ( 1637 – 1641 ), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa & terlebih lagi sesudah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
- Timbulnya pertikaian yg terus menerus di Aceh aantara golongan aristokrat ( teuku ) dgn golongan utama (teungku) yg menjadikan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri prtikaian terjadi lantaran prbedaan aliran dlmm agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah )
- Daerah kekuasaannya banyak yg melepaskan diri ibarat Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara-negara itu menjadikan wilayahnya sbg negara merdeka kembali, kadang – kadang di bantu bangsa absurd yg menginginkan laba perdagangan yg lebuh besar.
Kerajaan Aceh yg berkuasa selama kurang lebih 4 abad, akhinya runtuh lantaran dikuasai oleh Belanda awal kala ke-20.
Peninggalan Kerajaan Aceh
Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan aceh, antara lain:
1. Peninggalan dalam Bentuk Bangunan
Bangunan yang menjadi ciri khas Islam antara lain ialah masjid, istana/keraton, dan makam (nisan).
- Masjid
Masjid merupakan tempat salat umat Islam. Masjid tersebar di banyak sekali daerah.
Namun, biasanya masjid didirikan pada tepi barat alun-alun bersahabat istana. Alun-alun yakni tempat bertemunya rakyat dan rajanya. Masjid merupakan tempat bersatunya rakyat dan rajanya sebagai sesama mahkluk Illahi dengan Tuhan. Raja akan bertindak sebagai imam dalam memimpin salat.
Bentuk dan ukuran masjid bermacam-macam. Namun, yang merupakan ciri khas sebuah masjid ialah atap (kubahnya). Masjid di Indonesia umumnya atap yang bersusun, makin ke atas makin kecil, dan tingkatan yang paling atas biasanya berbentuk limas.
Jumlah atapnya selalu ganjil. Bentuk ini mengingatkan kita pada bentuk atap candi yang denahnya bujur kandang dan selalu bersusun serta puncak stupa yang adakalanya berbentuk susunan payung-payung yang terbuka. Dengan demikian, masjid dengan bentuk ibarat ini menerima dampak dari Hindu-Buddha.
Beberapa di antara masjid-masjid khas Indonesia mempunyai menara, tempat muadzin menyuarakan adzan dan memukul bedug. Contohnya menara Masjid Kudus yang mempunyai bentuk dan struktur bangunan yang ibarat dengan bale kul-kul di Pura Taman Ayun. Kul-kul mempunyai fungsi yang sama dengan menara, yakni memberi informasi atau tanda kepada masyarakat mengenai banyak sekali hal berkaitan dengan acara suci atau yang lain dengan dipukulnya kul-kul dengan irama tertentu.
Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid, sanggup kita lihat antara lain pada beberapa masjid berikut.
- Masjid Banten (bangun beratap tumpang)
- Masjid Demak (dibangun para wali)
- Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)
- Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)
- Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)
- Masjid renta di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di Kalteng)
- Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)
- Makam dan Nisan
Makam mempunyai daya tarik tersendiri lantaran merupakan hasil kebudayaan. Makam biasanya mempunyai kerikil nisan. Di samping kebesaran nama orang yang dikebumikan pada makam tersebut, biasanya kerikil nisannya pun mempunyai nilai budaya tinggi. Makam yang terkenal antara lain makam para anggota Walisongo dan makam raja-raja.
Pada makam orang-orang penting atau terhormat didirikan sebuah rumah yang disebut cungkup atau kubah dalam bentuk yang sangat indah dan megah. Misalnya, makam Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan sunan-sunan besar yang lain.
Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk makam sanggup kita lihat antara lain pada beberapa makam berikut:
- Makam Sunan Langkat (di halaman dalam masjid Azisi, Langkat)
- Makam Walisongo
- Makam Imogiri (Yogyakarta)
- Makam Raja Gowa
Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk nisan sanggup kita lihat antara lain pada beberapa nisan berikut.
- Di Leran, Gresik (Jawa timur) terdapat kerikil nisan bertuliskan bahasa dan huruf Arab, yang memuat keterangan ihwal meninggalnya seorang wanita berjulukan Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475 Hijriah (1082 M);
- Di Sumatra (di pantai timur maritim Aceh utara) ditemukan kerikil nisan Sultan Malik alsaleh yang berangka tahun 696 Hijriah (!297 M);
- Di Sulawesi Selatan, ditemukan kerikil nisan Sultan Hasanuddin;
- Di Banjarmasin, ditemukan kerikil nisan Sultan Suryana Syah; dan
- Batu nisan di Troloyo dan Trowulan.
2. Peninggalan dalam Bentuk Karya Seni
Peninggalan Islam sanggup juga kita temui dalam bentuk karya seni ibarat seni ukir, seni pahat, seni pertunjukan, seni lukis, dan seni sastra. Seni ukir dan seni pahat ini sanggup dijumpai pada masjid-masjid di Jepara. Seni pertunjukan berupa rebana dan tarian, contohnya tarian Seudati. Pada seni aksara, terdapat goresan pena berupa huruf arab-melayu, yaitu goresan pena arab yang tidak menggunakan tanda (harakat, biasa disebut arab gundul).
Salah satu peninggalan Islam yang cukup menarik dalam seni tulis ialah kaligrafi.
Kaligrafi yakni menggambar dengan menggunakan huruf-huruf arab. Kaligrafi sanggup ditemukan pada makam Malik As-Saleh dari Samudra Pasai.
Karya sastra yang dihasilkan cukup beragam. Para seniman muslim menghasilkan beberapa karya sastra antara lain berupa syair, hikayat, suluk, babad, dan kitab-kitab.
Syair banyak dihasilkan oleh penyair Islam, Hamzah Fansuri. Karyanya yang terkenal yakni Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung Pangi, dan Syair Si Dang Fakir.
Syair-syair sejarah peninggalan Islam antara lain Syair Kompeni Walanda, Syair Perang Banjarmasin, dan Syair Himop. Syair-syair fiksi antara lain Syair Ikan Terumbuk dan Syair Ken Tambunan.
Hikayat yakni karya sastra yang berisi dongeng atau dongeng yang sering dikaitkan dengan tokoh sejarah. Peninggalan Islam berupa hikayat antara lain, Hikayat Raja Raja Pasai, Hikayat Si Miskin (Hikayat Marakarma), Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Hang Tuah, dan Hikayat Jauhar Manikam.
Suluk yakni kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran tasawuf. Peninggalan Islam berupa suluk antara lain Suluk Wujil, Suluk Sunan Bonang, Suluk Sukarsa, Suluk Syarab al Asyiqin, dan Suluk Malang Sumirang.
Babad yakni dongeng sejarah tetapi banyak bercampur dengan mitos dan kepercayaan masyarakat yang kadang tidak masuk akal. Peninggalan Islam berupa babad antara lain Babad Tanah Jawi, Babad Sejarah Melayu (Salawat Ussalatin), Babad Raja-Raja Riau, Babad Demak, Babad Cirebon, Babad Gianti.
Adapun kitab-kitab peninggalan Islam antara lain Kitab Manik Maya, Us-Salatin Kitab Sasana-Sunu, Kitab Nitisastra, Kitab Nitisruti, serta Sastra Gending karya Sultan Agung.
Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Kerajaan Aceh: Sejarah, Silsilah, Keruntuhan dan Peninggalan
Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!
Baca Artikel Lainnya:
- Kekerasan: Pengertian, Jenis, Penyebab dan Dampak
- Pengertian Lembaga Pendidikan, Ciri, Fungsi, Tujuan dan Jenisnya
- 9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Beserta Gambarnya
- Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Letak, Raja, Masa Kejayaan dan Keruntuhan
Sumber aciknadzirah.blogspot.com