Friday, May 4, 2018

√ Pengertian Kapitalisme Terlengkap

Pengertian Kapitalisme, ideologi, ciri, tujuan, keuntungan, kerugian dan Contoh : revolusi yang bersifat mendasar dalam perkembangan masyarakat modern dan sebuah paham ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan sebesar-besarnya keuntungan dan modal (kapital).


 revolusi yang bersifat mendasar dalam perkembangan masyarakat modern dan sebuah paham  √ Pengertian Kapitalisme Terlengkap




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Industri : Pengertian, Latar Belakang Dan Dampaknya Secara Lengkap




Pengertian Kapitalisme


Sejarah Kapitalisme


Istilah kapitalisme pertama kali dipekenalkan oleh Louis Blanck (1811­1882). Kapitalisme merupakan satu revolusi yang bersifat mendasar dalam perkembangan masyarakat modern. Bersamaan dengan itu, kapitalisme kemudian berkembang menjadi sistem ekonomi yang paling menonjol di dunia. Bersama dengan imperialisme, kapitalisme bisa membentuk ekonomi dunia (Abdul Syukur [ed], 2005: 90).




Dalam perkembangannya, kapitalisme bisa berubah menjadi menjadi satu contoh pikir global yang dianut oleh sebagian besar negara yang ada di dunia. Sistem ekonomi dari banyak negara yang dikategorikan sebagai negara maju, sebagian memakai kapitalisme. Pendapat bahwa kapitalisme menjadi satu ideologi yang telah benar-benar mengglobal didukung dengan adanya tesis yang diungkapkan oleh Francis Fukuyama (1992) dalam bukunya yang berjudul The End of History and The Last Man yang menyatakan bahwa selesai dari perjalanan sejarah yaitu ketika telah berakhirnya persaingan antar ideologi dunia dengan kemenangan selesai pada demokrasi liberal yang didukung oleh kapitalisme global. Walaupun anggapan ini masih kontroversial, paling tidak Fukuyama telah menunjukkan satu pendapat yang bersifat ramalan wacana begitu kuatnya efek kapitalisme dalam sendi- sendi kehidupan masyarakat. Dari pemikiran di atas, goresan pena singkat ini mencoba mengulas wacana kapitalisme ditinjau dari sejarah, perkembangan, serta pengaruhnya terhadap masyarakat.




Definisi Kapitalisme


Kapitalisme secara etimologis berasal dari Bahasa Latin, caput, yang artinya kepala, kehidupan, dan kesejahteraan. Makna modal dalam capital kemudian diinterpretasikan sebagai titik kesejahteraan. Dengan makna kesejahteraan, definisi kapital mulai dikembangkan dengan arti akumulasi keuntungan yang diperoleh setiap transaksi ekonomi. Sehingga, interpretasi awal dari kapitalisme yaitu proses pengusahaan kesejahteraan untuk bisa memenuhi kebutuhan. Dalam definisi ini kapitalisme mempunyai definisi yang konstruktif-humanis lantaran setiap orang niscaya mempunyai impian dasar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam hidup sehari-hari.




Kapitalisme sanggup dipahami sebagai suatu ideologi yang mengagungkan kapital milik perorangan atau milik sekelompok kecil masyarakat sebagai alat aktivis kesejahteraan manusia. Kepemilikan kapital perorangan atau kepemilikan capital oleh sekelompok kecil masyarakat yaitu ilahi di atas segala dewa, artinya semua yang ada di dunia ini harus dijadikan kapital perorangan atau kelompok kecil orang untuk memperoleh keuntungan melalui sistem kerja upahan, di mana kaum perkerja (buruh) sebagai produsen ditindas, diperas dan dihisap oleh kaum kapitalis (Arif Purnomo, 2007: 28).


Kapitalisme merupakan sebuah paham ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan sebesar-besarnya keuntungan dan modal (kapital). Kapitalisme sanggup pula diartikan sebagai susunan ekonomi yang berpusat pada keuntungan perseorangan. Pada paham kapitalisme uang atau modal memegang tugas penting dalam pelaksanaan politik atau kebijakan kapitalisme.




Kapitalisme tidak mempunyai suatu definisi universal yang bisa diterima secara luas. Secara umum, definisi kapitalisme merujuk pada satu atau beberapa hal berikut (1) sebuah sistem yang mulai terinstitusi di Eropa pada masa kurun XVI hingga kurun XIX yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa, di mana sekelompok individu maupun kelompok sanggup bertindak sebagai suatu tubuh tertentu yang sanggup mempunyai maupun melaksanakan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal menyerupai tanah dan tenaga manusia, pada sebuah pasar bebas di mana harga ditentukan oleh undangan dan penawaran, demi menghasilkan keuntungan di mana statusnya dilindungi oleh negara melalui hak pemilikan serta tunduk kepada aturan negara atau kepada pihak yang sudah terikat kontrak yang telah disusun secara terperinci kewajibannya baik eksplisit maupun implisit serta tidak semata-mata tergantung pada kewajiban dan sumbangan yang diberikan oleh kepenguasaan feodal; (2) Teori yang saling bersaing yang berkembang pada kurun XIX dalam konteks Revolusi Industri, dan kurun XX dalam konteks Perang Dingin, yang berkeinginan untuk membenarkan kepemilikan modal, untuk menjelaskan pengoperasian pasar semacam itu, dan untuk membimbing penggunaan atau pembatalan peraturan pemerintah mengenai hak milik dan pasaran; (3) Suatu keyakinan mengenai keuntungan dari menjalankan hal-hal semacam itu (Sutarjo Adisusilo, 1994).




Kapitalisme walaupun tidak mempunyai definisi yang universal, dalam perkembangan selanjutnya, terutama dalam era revolusi industri yang muncul pada kurun XIX dan perang dunia II pada kurun XX, diartikan sebagai paham yang mau melihat serta memahami proses pengambilan dan pengumpulan modal balik, yang diperoleh dari setiap transaksi komoditas ekonomi. Pada dikala itulah kapitalisme tidak hanya sebagai ideologi teoretis, tetapi juga sebagai paham yang menghipnotis sikap ekonomi manusia.


Ruth Mc Vey (1998) mendefinisikan konsep kapitalisme sebagai sebuah sistem yang memakai alat-alat produksi berada di tangan sektor swasta untuk membuat keuntungan dan sebagian besar dari keuntungan itu ditanamkan kembali guna memperbesar kemampuan menghasilkan laba. Quesnay dan Adam Smith dalam Donny Gahral Adian (2005: 69-70) menyatakan bahwa kapitalisme yaitu paham yang membebaskan insan untuk berekonomi secara bebas dan mengejar keuntungan bebas dari tekanan agama maupun negara. Sementara itu, Karl Marx mendefinisikan kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang berprinsipkan hak milik pribadi dan kompetisi bebas (Donny Gahral Adian, 2005:6).




Dari banyak sekali pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli, kapitalisme mempunyai beberapa ciri, yakni (1) sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu (individual ownership), (2) barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas (free market) yang bersifat kompetitif, (3) modal kapitalis (baik uang maupun kekayan lain) diinvestasikan ke dalam banyak sekali usaha untuk menghasilkan keuntungan (Ebenstein dan Fogelman, 1987).




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Revolusi Perancis” Sejarah & ( Latar Belakang – Dampak )




Kapitalisme Indonesia


Kapitalisme di Indonesia yaitu cangkokan dari Eropa yang dalam beberapa hal tak sama dengan kapitalisme yang tumbuh dan dibesarkan dalam negerinya sendiri, yakni Eropa dan Amerika Utara. Oleh lantaran itu, kapitalisme tersebut masih muda. Karena kapitalisme di Indonesia masih muda, produksi dan pemusatannya belumlah mencapai tingkat yang semestinya. Kira-kira seperempat kurun belakangan gres dimulai industrialisasi di Indonesia. Baru pada waktu itulah dipergunakan mesin yang modern dalam perusahaan-perusahaan gula, karet, teh, minyak, arang dan timah.


Industri Indonesia, terutama industri pertanian, masih tetap terbatas di Jawa dan di beberapa tempat di Sumatera. Tanah yang luas, yang biasanya sangat subur dan mengandung barang-barang logam yang tak ternilai harganya, menyerupai Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau yang lain masih menunggu-nunggu tangan manusia. Meskipun Pulau Jawa dalam hal perkebunan dan alat-alat angkutan sudah mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi umumnya pulau luar Jawa, kecuali Sumatera, masih rimba raya.




Industri modern yang bekerjsama tidak akan diadakan di Pulau Jawa. Ia akan tetap tinggal menjadi tempat industri pertanian. Sebab logam-logam menyerupai besi, arang, minyak tanah, emas dan lainnya, tidak atau hanya sedikit sekali didapat di sana. Sumateralah yang menjadi tempat industri modern yang sebenarnya. Hal ini kini sebagian kecil telah terbukti. Arang, minyak tanah, emas dan timah hasil Sumatera (kelak juga besi) besar artinya, baik di kalangan nasional maupun internasional.


Kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi pribumi yang berdasarkan kemauan alam. Ia yaitu produk gila yang dipergunakan untuk kepentingan gila yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi pribumi.




Di Indonesia sebagai akhir kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagaimana mestinya, tidak menyerupai di atas keadaannya. Kota-kota kita tak sanggup dianggap sebagai konsentrasi dari teknik, industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan barang-barang baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kapitalis-kapitalis pribumi. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga, bahan-bahan untuk pakaian dan lain-lain tidak dibentuk di Indonesia, tetapi didatangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialistis. Desa-desa kita tak menghasilkan barang kebutuhan untuk kota-kota, lantaran untuk mereka sendiri pun tak mencukupi. Beras misalnya, makanan rakyat yang terutama mesti didatangkan dari luar.




Desa-desa kita mengeluarkan gula, karet, teh, dan lain-lain barang perdagangan yang mengayakan saudagar asing, tetapi memiskinkan dan memelaratkan kaum tarsi; kota-kota kita bukanlah menjadi pusat ekonomi bangsa Indonesia, tetapi terus-terusan menjadi sumber ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk luar negeri.


Sementara dalam sektor Industri berskala besar, yang terjadi ialah pabrik luar negeri dengan pekerja pribumi dan upah yang rendah. Sementara kualitas produksi baik, dengan biaya operasional yang sangat murah, membuat tenaga kerja di Indonesia




Kapitalisme Indonesia timbul dengan teratur pula antara lapisan-lapisan sosial Indonesia dan mempunyai perhubungan yang teratur. Saudagar Indonesia yang dulu kecil kini sudah menjadi bankir atau mengepalai perusahaan yang besar-besar. Penempa besi, tukang gula, saudagar batik yang dulu kecil menjadi pemimpin industri logam, gula atau tenun. Umumnya, kapitalisme sebagai ideologi di Indonesia tidak diterima secara resmi. Namun dalam praktek perekonomiannya, secara tidak eksklusif menuju ke arah kapitalisme. Dengan terjadinya gosip swastanisasi di sektor kerja dan kegiatan ekonomi swasta bahkan BUMN.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Rusia – Latar Belakang, Sebab, Jalannya, Dampak, Pemerintahan




Kemunculan dan Perkembangan Kapitalisme


Kemunculan kapitalisme sanggup disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor budaya dan faktor struktural (Wasino, 2007: 3-4). Teori wacana budaya sebagai faktor yang mendorong munculnya kapitalisme ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Weber menyatakan bahwa kapitalisme yang ada di Eropa dan di Amerika bersumber pada nilai-nilai Protestan. Lebih jauh lagi ke belakang hal ini disebabkan adanya gerakan individualisme, sehingga menimbulkan adanya reformasi (Ebenstein dan Folegeman, 1987:148). Berkaitan dengan nilai-nilai Protestan sebagai pendorong munculnya kapitalisme, Weber menjelaskan bahwa dalam fatwa Protestanisme tidak dianjurkan bagi orang-orang beriman untuk melupakan duniawi dan mengasingkan diri dalam biara atau berkonsentrasi pada kegiatan meditasi atau berdoa serta acara untuk mempersiapkan diri menghadapi janjkematian menyerupai yang banyak dilakukan oleh fatwa Katolik, tetapi dalam hidup di dunia ini harus dilakukan dengan kerja keras dan ketekunan. Faktor pendorong dari fatwa Protestan ini terhadap perkembangan kapitalisme didukung dengan adanya fatwa dari Luther yang mengubah arti dari pekerjaan dari yang bersifat keagamaan menjadi keduniawian, dan fatwa dari Calvin wacana “suratan nasib ganda”.




Faktor lain selain faktor budaya yang mendorong terjadinya kapitalime yaitu faktor struktural. Konsep ini didukung oleh pemikiran dari Karl Marx yang menyatakan bahwa faktor struktural yaitu terjadinya suatu perubahan cara produksi dari masyarakat feodal ke masyarakat kapitalis. Perubahan ini menyerupai diungkapkan Tom Bottom ore dalam Theories of Capitalism, berlangsung dalam waktu yang cukup panjang yang diawali dengan (1) meningkatnya ketersingan produsen kecil dari produksinya, (2) tumbuhnya kota-kota, (3) tansformasi petani menjadi buruh, (4) munculnya proletariat perkotaan, (5) ekspansi melalui bahari yang berakibat ekspansi kapital secara cepat (Arif Purnomo, 2007:35).




Dalam perubahan struktural cara produksi masyarakat itu yang terpenting bagi tumbuhnya kapital berdasarkan Anthony Giddens menyerupai dikutip Purnomo (2007) yaitu faktor akumulasi. Akumulasi ini merupakan suatu produksi kapitalis yang dibangun sebagai konsekuensi akhir kemajuan teknologi, kompetisi diantara pada kapitalis secara individual, di mana insiden ini mendrong untuk menabung dan berinvestasi.




Berkembangnya kapitalisme tidak lepas dari adanya pandangan dari tokoh-tokoh adam Smith, Keynes, Rostow, dan sebagainya. Adam Smith yang dikenal sebagai bapak ideologi kapitalisme mengemukakan teori The Wealth of Nations yaitu kemakmuran bangsa-bangsa akan tercapainya melalui ekonomi persaingan bebas, artinya ekonomi tanpa campur tangan negara. Menurut Adam Smith, kapialisme merupakan paham yang membebaskan insan untuk berekonomi secara bebas dan mengejar keuntungan bebas dari tekanan agama dan negara. Prinsip yang menancap kuat pada waktu itu yaitu laissez faire, yaitu sebuah prinsip yang melarang otoritas eksternal untuk turut campur dalam masalah ekonomi. Smith berkeyakinan bahwa apabila insan dibebaskan untuk mengejar profit, maka akan ada kompetisi, dan melalui kompetisi inilah stabilitas masyarakat akan terjaga (seolah-olah ada tangan yang tak kelihatan yang mengatur masyarakat di luar pengatahuan pelaku- pelaku ekonomi) (Donny Gahral Adian, 2005:70).




Ideologi kapitalisme kemudian diperbaharui dan dikembangkan oleh Keynes dengan teorinya “campur tangan negara dalam ekonomi” khususnya dalam membuat kesempatan kerja menetapkan tingkat suku bunga, tabungan, dan investasi. W.W Rostow kemudian mengemukakan teorinya The Five Stage Scheme, Harrod-Domar dengan teori wacana tabungan dan investasi, Mc Celland dengan teori The Need for Achievment, Reagan dan


Tacher dengan teori Neo-Liberalism atau globalisasi pasar bebas atau teori kedaulatan pasar bebas (Arif Purnomo, 2007:28).


Pada perkembangan selanjutnya, kapitalisme terutama kapitalisme industrial, menutur Dillard dibagi menjadi beberapa fase, yakni periode kapitalisme awal (1500-1750), kapitalisme klasik (1750-1914), serta kapitalisme lanjut. Namum demikian, sebelum adanya kapitalisme industrial ada pula yang disebut dengan kapitalisme purba.




Kapitalisme purba yaitu tahapan awal pembentukan kapitalisme yang ditemukan dalam bibit-bibit pemikiran masyarakat feodal yang berkembang di Babilonia, Mesir, Yunani, dan Kekaisaran Roma. Para mahir ilmu sosial menamai tahapan kapitalisme ini dengan sebutan commercial capitalism. Kapitalisme komersial berkembang dan membutuhkan sistem ekonomi untuk menjamin fairness perdagangan ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang, tuan tanah, kaum rohaniwan.




Max Weber menyampaikan bahwa akar kapitalisme berawal dari sistem Codex Luris Romae sebagai aturan main ekonomi yang kurang lebih universal digunakan oleh kaum pedagang eropa, Asia Barat, serta Asia Timur Jauh dan Afrika Utara. Aturan main ekonomi ini sebetulnya dimanfaatkan untuk memapankan system pertanian feodal. Sehingga, dari aturan ini muncul istilah borjuis yang mengelompokkan sistem feodalisme yang disempurnakan dengan sistem aturan ekonomi itu. Kaum borjuis merupakan sebutan bagi golongan tuan tanah, bangsawan, dan kaum rohaniawan yang mendiami biara yang luas dan besar. Perkembangan selanjutnya merupakan perkembangan kapitalisme yang disebut dengan tata cara dan “kode etik” yang digunakan kaum merkantilisme, yaitu kaum pedagang yang berkumpul di pelabuhan Genoa, Venice dan Pisa. Hal ini mengakibatkan perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan, tata cara tukar barang serta perdagangan yang dianut oleh para merkantilis kurun pertengahan. Dari akar penyebutan inilah, wacana wacana keuntungandan profit menjadi kepingan integral dalam kapitalisme hingga kurun pertengahan.


Setelah kapitalisme purba, muncullah kapitalisme industri. Kapitalisme industri muncul ketika berkembang pandangan merkantilis dan perkembangan pasar berikut sistem keuangan yang telah mengubah cara ekonomi feodal yang semata-mata bisa dimonopoli oleh para tuan tanah, ningrat dan kaum rohaniawan. Ekonomi mulai bergerak menjadi kepingan dari usaha kelas menengah dan mulai menampakan efek pentingnya. Ditambah lagi rasionalisasi filosofis kurun modern yang dimulai dengan era renaissance dan humanisme mulai menjalari bidang ekonomi.




Tokoh-tokoh yang menunjukkan efek kapitalisme yaitu Thomas Hobbes dengan pandangan egoisme etisnya yang pada pada dasarnya meletakan sisi fatwa bahwa setiap orang secara alamiah niscaya akan mencari pemenuhan kebutuhan dirinya. John Locke, ia menekankan sisi liberalisme etis, dimana salah satu adagiumnya berbunyi bahwa insan harus dihargai hak kepemilikan personalnya. Adam Smith dan David Ricardo yang menjatuhkan pandangan kedua tokoh diatas dengan filsafat laissez faire (ungkapan penyifat) dalam prinsip pasar dan ekonomi. Pandangan ini menekankan bahwa sistem pasar bebas diberlakukan sistem kebebasan kepentingan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah.


Akselerasi kapitalisme semakin terpicu dengan timbulnya revolusi industri. Industrialisasi di Inggris dan Prancis yang mendorong yaitu industri raksasa, dimana prosedur modernnya akan memicu kolonialisme dan imperialisme ekonomi, sehingga tidak mengherankan terjadi Exploitation I’homme par I’homme. Situasi penindasan yang timbul mengakibatkan munculnya reaksi alamiah dari orang-orang yang mempunyai keperdulian kolektif yang mengalami trade-off dalam era industri, salah satunya yaitu Karl Marx, menurutnya sistem yang tidak beres dalam kapitalisme cenderung menafikan individu dalam konteks sosial.




Pada periode awal kapitalisme industri (1500-1750), kapitalisme ini bertumpu pada industri tekstil yang ada di Inggris pada kurun XVI-XVIII. Perkembangan industri di Inggris pada kurun XVI-XVIII disebabkan terdapat adanya surplus sosial yang didayagunakan secara poduktif yang menjadikan kapitalisme bisa mengungguli semua sistem ekonomi sebelumnya. Adanya surplus tersebut digunakan untuk banyak sekali usaha menyerupai perkapalan pergudangan, bahan-bahan mentah, barang-barang jadi, dan banyak sekali bentuk


kekayaan lainnya. Dengan demikian, surplus sosial ini telah berubah menjadi ekspansi kapasistas produksi (Arif Purnomo, 2007:37).




Pada fase kedua (1750-1914) terjadi pergeseran pembangunan kapitalis dari perdagangan ke industri. Pada masa ini akumulasi modal terjadi secara terus-menerus selama tiga abad. Perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi telah mempermudah proses ekonomi. Mesin-mesin produksi massal digunakan dalam banyak sekali industri yang mengakibatkan terjadinya percepatan prouksi barang, sehingga mempercepat tumbuhnya kapitalisme. Pada masa ini, perdagangan bebas menjadi fakor utama dalam kegiatan ekonomi yang belum penah terjadi sebelumnya.


Fase ketiga ditandai dengan adanya momentum perang Dunia I sebagai titik balik perkembangan sistem kapitalisme. Fase ini ditandai dengan adanya pergeseran hegemoi kapitalisme dari Eropa ke Amerika Serikat dan bangkitnya perlawanan bangsa-bagsa Asia dan Afrika terhadap kolonialisme Eropa. Dilard menyebut fase ini sebagai kapitalisme monoplis, dimana pada masa ini muncul perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai sendi-sendi perekonomian (Ebenstein dan Folegeman, 1987).




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Revolusi Amerika




Kapitalisme dan Dampakya


Kapitalisme kuat terhadap kehidupan masyarakat, terutama masyarakat desa. Karl Marx mengemukkan bahwa dalam sistem kapitalisme, petani pedesaan akan menglami pucak kematian. Petani yang semula memproduksi barang dengan alat prduksinya sendiri, secara perlahan berubah menjadi kapitalis kecil di satu pihak dan berubah menjadi buruh upahan di pihak lain. Dalam perjalanan kapitalisme ini, mayoritas petani akan berubah menjadi proletariat. Konsepsi Marx ini kemudian diperjelas oleh Lenin yang menyebutnya sebagai proses diferensiasi petani. Diferensiasi ini muncul lantaran makin berkembangnya kelas menengah pedesaan di satu pihak dan kelas proletariat pedesaan di lain pihak. Kelas proletariat ini tidak mempunyai tanah dan hanya bekerja sebagai buruh upahan. Oleh lantaran masih ada kegiatan produksi dalam bentuk produksi rumah tangga, maka kelas yang terakhir ini dikatakan oleh Bernste sebagai proletariat semu (disgudied proletariat) (Harris dalam Arif Purnomo, 2007:36).




Namun demikian pendapat Marx dan Lenin tidak selamanya diakui oleh para ahli, menyerupai Kautzky yang tidak sependapat dengan konsepsi Marx ataupun Lenin. Menurut Kautzky, kapitalisme pedesaan memang sanggup meingkatkan prduksi pertanian, tetapi tidak harus menggusur petani kecil. Dalam kasus Eropa barat, industri pertanian tidak dengan sendirinya menghancurkan pertanian rakyat. Kedua jenis produksi itu justru saling menunjang (Harris dalam Arif Purnomo, 2007:36). Sementara itu, Theodore Shanin mendukung pernyataan Lenin bahwa kapitalisme telah mengakibatkan diferensiasi dan ketidakadilan sosial ekonomi di pedesaan. Proses ini terjadi dalam pengertian mobilitas rumah tangga petani dalam periode tertetu. Ciri khas dari banyak sekali mobilitas petani yaitu mobilitas siklus dan mobilitas ke segala arah yang mempunyai tingkatan an tidak dalam bentuk polarisasi.


Ernesto Laclau, menyatakan bahwa berasarkan penelitiannya di Amerika Latin, kapitalisme justru masih melanggengkan cara produksi kapitalis. Antara dua cara prduksi ini saling terkait yang ia namakan “subordinasi”, yakni cara produksi prakapitalis menjadi subordinasi cara produksi kapitalis. Masyarakat petani tidak mengalami kehancuran akhir perkembangan kapitalisme kolonial, tetapi terintegrasi dalam hubunga subordinasi. Masyarakat petani menjadi sumber tenaga kerja murah untuk perkebunan dan sekaligus menghasilkan komoditas untuk pasar kolonial (Hashim dalam Arif Purnomo, 2007:37).




Dikaitkan dengan kolonialisme, kapitalisme secara tidak eksklusif telah mengakibatkan terjadinya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia mempunyai kekayaan, baik alam ataupun tenaga insan yang menjadi komoditas perdagangan dan kebutuhan bagi bangsa barat. Indonesia kaya akan barang tambang, sehingga Indonesia dijadikan sasaran dalam pencarian barang baku serta pemasaran barang-barang industri.


Berkaitan dengan masalah kapitalisme dan kolonialisme, pada dasarnya keberadaan kolonialisme tidak sanggup dilepaskan dari kapitalisme. Ibaratnya, kolonialisme yaitu anak dari kapitalisme. Adanya kapitailsme mengakibatkan adanya upaya dari bangsa Eropa mengambil kekayaan tempat tersebut sebagai upaya untuk mendapatkan keuntungan dan kekayaan. Salah satu upaya mendapatkan kekayaan dari tempat gres tersebut yaitu dengan menguasainya.




Dalam perkembangannya, kapitalisme telah berkembang sedemikian rupa sehingga berubah menjadi sebagai pemicu munculnya bermacam-macam acara ekonomi gres dan menjadi pertanada perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Adanya kapitalisme telah memunculkan satu budaya gres di kalangan masyarakat, yakni budaya konsumerisme. Dalam perkembangannya, sikap konsumtif berkembang menjadi sebuah sistem pemikiran yang disebut dengan konsumerisme. Konsumerisme yaitu penyamaan kebahagiaan personal dengan membeli harta benda (material possession) dan konsumsi. Dalam konsumerisme, tak ada kebahagiaan kecuali dengan mempunyai kerajaan materi. Karena kekayaan materi yaitu perhatian sentral dalam kepercayaan konsumerisme. Perilaku konsumtif dengan demikian bersifat belebih-lebihan, digunakan untuk kepentingan belaka, membeli barang-barang yang tidak dianggap perlu untuk kepuasan sesaat.




Menurut para pengikut mazhab Franfkurt, konsumerisme yang dikembangkan oleh ekonomi kapitalisme dan perangkat-perangkat ideologisasi lainnya, telah memastikan bahwa kelas pekerja telah seluruhnya terintegrasi ke dalam sistem. Mereka menjadi member of capitalist society yang telah kondusif secara finansial, sanggup membeli apapun yang mereka inginkan, dan tidak lagi mempunyai lagi alasan untuk menggulingkan sistem kapitalisme dan menggantikannya dengan masyarakat tanpa kelas (Donny Gahral Adian, 2005:56).


Kapitalisme lanjut memanifestasikan rasio instrumental sebagai instrumen penyeragaman dan pembendaan kesadaran insan dengan membuat kebutuhan-kebutuhan palsu. Rasio instrumental telah berkembang menjadi satu kebijaksanaan gres “bagaimana menjual sebanyak- banyaknya dan membuat kebutuhan-kebutuhan semu” (Donny Gahral Adian, 2005:57). Lebih lanjut lagi Donny Gahral Adian (2005) menjelaskan bahwa kapitalisme lanjut melumpuhkan kesadaran kritis para pekerja dengan memenuhi semua kebutuhan fisiologis dan psikologis mereka, dari makanan hingga sec. Mereka tidak hanya menyediakan kebutuhan, melainkan juga membuat kebutuhan lewat iklan-iklan yang hipnotizing. Hal ini mengakibatkan masyarakat menjadi boeka-boneka konsumtif yang proaktif mengonsumsi produk-produk secara tidak kritis.




Individu dalam masyarakat kapitalisme lanjut disampingkan dari kebutuhan sejatinya, yakni menjadi individu yang otonom, kreatif, independen, dan merajut sejarah mereka sendiri. Individu dalam masyarakat kapitalisme lanjut berpikir mereka bebas, namun mereka menipu diri mereka sendiri (Donny Gahral Adian, 2005).




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 15 Pengertian Revolusi Menurut Para Ahli Teori Revolusi




Ideologi Kapitalisme


Kapitalisme ialah sebagai ideologi yang sanggup diartikan sebagai sistem pemikiran dan juga keyakinan yang digunakan oleh kelas lebih banyak didominasi untuk sanggup menjelaskan pada diri mereka sendiri bahwa bagaimana sistem sosial mereka beroperasi dan juga apa prinsip-prinsip yang akan diajukannya, ideologi ini melihat pada pencarian keuntungan (kapital) sebagai fokus utama kegiatannya.




Adam Smith, yang disebut sebagai bapak kapitalisme, pertama kali menguraikan konsep kapitalisme di dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nations, yang diterbitkan di tahun 1776. Smith yakin bahwa perekonomian akan paling baik ialah yang diatur oleh tangan persaingan (competition) yang tak terlihat, yaitu pertempuran di antara dunia usaha untuk mendapatkan suatu legalisasi konsumen.


Smith juga beropini bahwa persaingan di antara perusahaan akan sanggup mengarah pada legalisasi konsumen terhadap produk dan juga harga yang terbaik, sebab produsen yang kurang efisien secara sedikit demi sedikit akan terlempar keluar dari pusat persaingan.




Teori Copernicus


Nicolaus Copernicus atau Nikolaus Kopernikus (bahasa Polandia Mikolaj

Kopernik; 19 Februari 1473 – 24 Mei 1543) yaitu seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang berbagi teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, jurist, astrolog, dan dokter. Teorinya wacana matahari sebagai pusat tata surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu inovasi yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula mendasar bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menobatkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan insan lainnya.




Pendapat Copernicus eksklusif mendapatkan reaksi dari gereja, lantaran gereja memahami bahwa pusat tata surya yaitu bumi (geosentris). Sampai jadinya Copernicus dibawa kemeja Pengadilan gereja dan dijatuhkan eksekusi Pengkutukan. Akan tetapi lantaran Copernicus mau menarik ucapan dan pendapatnya itu, sehingga gereja mendapatkan pengampunan dosanya. Dan jadinya dibiarkan tetap hidup. Walaupun demikian teori Heliosentris sudah menjadi materi omongan masyarakat Eropa.




Galileo Galilea


 Ilmuwan Galileo sehabis melaksanakan riset, jadinya berhasil menemukan teropong bintang. Dengan memakai teropong tersebut, Galileo berhasil mengamati pergerakan benda-benda luar langit dan sekaligus memperkuat teori Copernicus. Selain itu Galileo juga beropini bahwa bumi itu bulat, bukan datar menyerupai yang dipahami gereja pada waktu itu.


Pendapat Galileo eksklusif ditentang pihak gereja. Dan diarahkan tampil di hadapan Pejabat Suci di Roma di mana mahkamah menjatuhkan eksekusi pengutukan dan memaksa Galileo bersumpah akan meninggalkan paham yang menyeleweng. Dan sebagai hukumannya Galileo dikurung di Siena dan akhirnya, pada Disember 1633, Galileo dipindahkan di Arcetri hingga meninggal dunia pada tahun 1642.




Adam Smith


adalah penganut aliran klasik terkenal.Ia lahir di kota Kirkcaldy Scotlandia. Belajar filsafat dan pernah menjadi guru besar kebijaksanaan di Universitas Glasgow.Tahun 1766 ia pergi ke Perancis dan bertemu dengan para penganut liberalisme. Tahun 1776 ia menerbitkan Penelitian Alam dan Sebab-sebab Kekayaan Manusia. Buku inilah yang dikatakan kritikus Edmund Burke sebagai karya tulis teragung yang pernah ditulis manusia.




David Hume


Penemu teori pragmatisme yang integratif. Ia menyampaikan “Hak milik khusus yaitu tradisi yang dianut masyarakat yang harus diikuti. Sebab disanalah manfaat mereka.”




Max Weber


Max Weber menyampaikan bahwa akar kapitalisme berawal dari sistem Codex Luris Romae sebagai aturan main ekonomi yang kurang lebih universal digunakan oleh kaum pedagang eropa, Asia Barat, serta Asia Timur Jauh dan Afrika Utara. Aturan main ekonomi ini sebetulnya dimanfaatkan untuk memapankan system pertanian feodal. Sehingga, dari aturan ini muncul istilah borjuis yang mengelompokkan sistem feodalisme yang disempurnakan dengan sistem aturan ekonomi itu. Kaum borjuis merupakan sebutan bagi golongan tuan tanah, bangsawan, dan kaum rohaniawan yang mendiami biara yang luas dan besar.




Perkembangan selanjutnya merupakan perkembangan kapitalisme yang disebut dengan tata cara dan “kode etik” yang digunakan kaum merkantilisme, yaitu kaum pedagang yang berkumpul di pelabuhan Genoa, Venice dan Pisa. Hal ini mengakibatkan perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan, tata cara tukar barang serta perdagangan yang dianut oleh para merkantilis kurun pertengahan. Dari akar penyebutan inilah, wacana wacana keuntungandan profit menjadi kepingan integral dalam kapitalisme hingga kurun pertengahan.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Revolusi Prancis Beserta Proses, Dampak Dan Penyebabnya




Ciri dan Tujuan Kapitalisme


Ciri-ciri ideologi kapitalisme



  1. Mencari keuntungan dengan banyak sekali cara dan sarana kecuali yg terang-terangan dihentikan negara lantaran merusak masyarakat menyerupai heroin dan semacamnya.

  2. Mendewakan hak milik pribadi dengan membuka jalan selebar-lebarnya semoga tiap orang mengerahkan kemampuan dan potensi yang ada untuk meningkatkan kekayaan dan memeliharanya serta tidak ada yg menjahatinya. Karena itu dibuatlah peraturan-peraturan yg cocok utk meningkatkan dan melancarkan usaha dan tidak ada campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi kecuali dalam batas-batas yg yg sangat diharapkan oleh peraturan umum dalam rangka mengokohkan keamanan.

  3. Kompetisi sempurna.

  4. Kebebasan ekonomi bagi tiap individu di mana ia mempunyai hak untuk menekuni dan menentukan pekerjaan yang sesuai dengan kemauanya

  5. Ajaran liberalisme ortodoks sangat mewarnai pemikiran para The Founding Father Amerika menyerupai George Wythe, Patrick Henry, Benjamin Franklin, ataupun Thomas Jefferson




Ciri-Ciri Negara Kapitalis :



  • Pasar berfungsi menunjukkan “signal” kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga.

  • Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi efisien.

  • Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba

  • Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri.

  • Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi

  • Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme).

  • Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu

  • Inidividu bebas menentukan pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya

  • Perekonomian diatur oleh prosedur pasar




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Peristiwa 10 November 1945” Definisi & ( Kedatangan Sekutu – Terjadinya )




Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan Kapitalis



  1. Menumbuhkan inisiatif dan kerasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi, lantaran masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari pemerintah.

  2. Setiap individu bebas mempunyai untuk sumber-sumber daya produksi, yang nantinya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian.

  3. Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat.

  4. Menghasilkan barang-barang bermutu tinggi, lantaran adanya persaingan semangat antar masyarakat.

  5. Efisiensi dan efektifitas tinggi, lantaran setiap tindakan ekonomi didasarkan motif mencari keuntungan.




Kerugian Kapitalis



  • Terjadinya persaingan bebas yang tidak sehat.

  • Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

  • Banyak terjadinya monopoli masyarakat.

  • Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian lantaran kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.

  • Pemerataan pendapatan sulit dilakukan, lantaran persaingan bebas tersebut.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Serangan Umum 1 Maret” Definisi & ( Tujuan – Kerugian – Arti Penting )




Contoh Sistem Ekonomi Kapitalis


Secara etimologi kapitalisme terdiri dari dua kata, yaitu capital dan isme. Kapital secara umum berarti modal, jadi kapitalisme yaitu paham yang berdasarkan modal. Kapitalis sanggup kita artikan sebagai suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal melaksanakan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam paham ini, pemerintah tidak sanggup melaksanakan intervensi pasar guna mendapatkan keuntungan bersama, namun intervensi pemerintah yaitu untuk kepentingan-kepentingan pribadi.




Kelahiran sistem ekonomi kapitalis ini tidak sanggup dipisahkan dari spesialis ekonomi yaitu Adam Smith. Dengan sistem pasarnya memunculkan pengetahuan tingkah laku ekonomi yang belum pernah ditemukan sebelumnya dan kemudian menjadi materi analisa bagi terbentuknya sebuah ilmu. Pandangan, pemikiran, beserta reori-teorinya tertuang dalam bukunya ‘An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations’ dan menjadi dasar terbentuknya sistem ekonomi kapitalis. Inti dari pemikiran Smith yaitu bahwa proses distribusi dan produksi haruslah lepas dari campur tangan pemerintah dan adanya perdagangan bebas.




Dalam perekonomian kapitalis setiap warga sanggup mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Semua orang bebas malakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan banyak sekali cara.


Dalam paham kapitalisme, prosedur pasar atau transaksi dianggap sebagai prosedur paling tepat untuk pemenuhan kehendak setiap individu. Jika setiap individu mempunyai contoh pikir individualistik, maka akan terciptalah suatu prosedur yang transaksional, seseorang akan mau menunjukkan sesuatu miliknya  kalau menerima imbalan yang sesuai dengan keinginannya. Dalam ekonomi kapitalis, tidak boleh ada campur tangan pemerintah, free competition, dan keuntungan yaitu pendorong utama.




Ciri-ciri sistem ekonomi Kapitalis :



  • Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi

  • Perekonomian diatur oleh prosedur pasar

  • Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri

  • Setiap orang bebas mempunyai barang, termasuk barang modal.

  • Setiap orang bebas memakai barang dan jasa yang dimilikinya.

  • Aktivitas ekonomi ditujukan untuk memperoleh laba

  • Semua acara ekonomi dilaksanakan oleh masyarakat (swasta)

  • Pemerintah tidak melaksanakan intervensi dalam pasar.

  • Persaingan dilakukan secara bebas.

  • Peranan modal sangat vital.

  • Pengakuan terhadap kepemilikan individu terhadap sumber ekonomi

  • Kompetisi antar individu dalam memenuhi kebutuhan hidup dan persaingan antar tubuh usaha untuk mengejar keuntungan

  • Tidak ada batasan bagi individu dalam mendapatkan imbalan atas prestasi kerjanya

  • Campur tangan pemerintah sangat minim

  • Mekanisme pasar akan menuntaskan duduk kasus ekonomi




Kelebihan sistem ekonomi Kapitalis :



  • Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi.

  • Setiap individu bebas mempunyai sumber-sumber produksi.

  • Munculnya persaingan untuk maju.

  • Barang yang dihasilkan bermutu tinggi, lantaran barang yang tidak bermutu tidak akan laku di pasar.

  • Efisiensi dan efektivitas tinggi lantaran setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari laba.




Kelemahan sistem ekonomi Kapitalis :



  • Sulitnya melaksanakan pemerataan pendapatan.

  • Cenderung terjadi eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal.

  • Munculnya monopoli yang sanggup merugikan masyarakat.

  • Sering terjadi gejolak dalam perekonomian lantaran kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.


Contoh negara yang menganut sistem perekonomian kapitalis : Inggris, Amerika Serikat, Kanada


 revolusi yang bersifat mendasar dalam perkembangan masyarakat modern dan sebuah paham  √ Pengertian Kapitalisme Terlengkap


Salah satu budaya politik Amerika yaitu sistem perekonomian kapital. Kapitalisme yaitu metode alternative untuk mendistribusikan keuntungan dan kerugian ekonomi. Kapitalisme mengharuskan pemerintah untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi seminimal mungkin. Bebas berusaha dan kepercayaan diri yaitu prinsip-prinsip dasar dari kapitalisme. Firma atau perusahaan diperbolehkan untuk beroperasi di pasar bebas dan terbuka, dan individu-individu diharapkan bisa berusaha dengan inisiatif mereka sendiri untuk membangun keamanan stabilitas ekonomi mereka. Perusahaan menentukan apa yang akan mereka produksi dan harga untuk barang dan jasa mereka sementara pembeli menentukan apa yang akan mereka beli dengan harga berapa.




Amerika serikat tidak secara murni menganut sistem kapitalisme, lantaran pemerintah mengambil tugas dalam mengatur dan mendorong perekonomian. Istilah ekonomi adonan ini digunakan dalam menentukan bentuk analisir berbeda dari sistem ekonomi kombinasi antara elemen sosialis dan kapitalis. Amerika Serikat mengadopsi lebih banyak elemen kapitalis daripada elemen sosialis. Karena tradisi individualism yang kuat, orang Amerika cenderung membatasi tujuan dari tindakan pemerintah dalam bidang ekonomi.




Daftar Pustaka

Abdul Syukur (ed). 2005. Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar. Jilid 5. Jakarta: Ichtiar gres Van Hoeve.

Arif Purnomo. 2007. Sejarah Ideologi. Semarang: Jurusan Sejarah FIS Universitas Negeri Semarang.

Donny Gahral Adian. 2005. Percik Pemikiran Kontemporer; Sebuah Pengantar Komprehensif. Jakarta: Jalasutra.

Ebenstein, William dan Fogelman, Edwin. 1987. Isme-Isme Dewasa Ini. Terjemahan Alex Jemadu. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Mc Vey, Ruth (ed). 1998. Kaum Kapitalis Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor

Sutarjo Adisusilo. 1994. Kapita Selekta Sejarah Eropa abadXVIII-XIX (Revolusi, Nasionalisme, Demokrasi, Komunisme). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.





Sumber aciknadzirah.blogspot.com