Tuesday, May 8, 2018

√ Pengertian Sosiologi Terlengkap

Pengertian Sosiologi, Ciri, Sejarah, Hakikat, Manfaat, Teori dan Perkembagan : Adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan Umum, yang merupakan hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan.


 Adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan Umum √ Pengertian Sosiologi Terlengkap




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 32 Pengertian Konflik Menurut Para Ahli Terlengkap Dalam Sosiologi




Pengertian Sosiologi


Sosiologi berawal dari filsafat yang dianggap sebagai induk ilmu (Master scientiarum). Filsafat ialah ilmu mengenai pengetahuan, kritik, dan sistematika pengetahuan, penyimpulan ilmu pengetahuan empiris, pengajaran rasional, kecerdikan pengalaman, dan seterusnya. Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti “kawan” dan kata Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Dapat dikatakan bahwa sosiologi berarti “berbicara mengenai masyarakat”. Menurut Auguste Comte (1798-1857) sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan.


Secara etimologis, sosiologi berasal dari kata socius (bahasa Latin: teman) dan logos (bahasa Yunani: kata, perkataan, pembicaraan). Kaprikornus sanggup diartikan sebagai , sosiologi ialah membicarakan, memperbincangkan sahabat pergaulan.


Istilah dari ‘sosiologi’ pertama kali digunakan oleh Auguste Comte pada tahun 1839 , Auguste Comte ialah spesialis filsafat kebangsaan Prancis. Selain itu, ia juga memberi derma yang begitu penting terhadap sosiologi. Oleh lantaran itu para mahir sepakat untuk menyebutnya sebagai ‘Bapak Sosiologi’.




Menurut Para Ahli



  1. Menurut August Comte, sosiologi ialah ilmu positip ihwal masyarakat. Ia memakai kata positip yang artinya empiris. Kaprikornus sosiologi baginya ialah studi empiris ihwal masyarakat. Menurut August Comte, obyek studi dari sosiologi ialah ihwal masyarakat, ada dua unsure yaitu struktur masyarakat yang disebut statika sosial dan proses-proses sosial di dalam masyarakat yang disebut dinamika sosial.

  2. Auguste Comte

    Auguste Comte “Bapak Sosiologi”  iyalah suatu ilmu positif ihwal hukum-hukum dasar dari aneka macam tanda-tanda sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis serta sosiologi dinamis.

  3. Roucek dan Warren

    Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari kekerabatan antar insan dalam kelompok.

  4. Pitirim A. Sorokin

    Pitirim A. SorokinSosiologi merupakan ilmu yang mempelajari:Hubungan dan dampak timbal balik antara aneka macam tanda-tanda sosial.

  5. Emile Durkheim 

    Sosiologi iyalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, serta mampu melaksanakan pemaksaan dari luar terhadap individu.

  6. Wiliam F. Ogburn dan Mayer F. Nimkoff

    Sosiologi merupakan penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial serta hasilnya yaitu organisasi sosial.

  7. Paul B. Horton

    Sosiologi merupakan ilmu yang memusatkan kajian pada kehidupan kelompok serta produk kehidupan kelompok tersebut.

  8. Soerjono Soekanto

    Sosiologi ialah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapat pola-pola umum kehidupan masyarakat.

  9. Max Weber

    Sosiologi merupakan ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan serta berorientasi pada sikap orang lain.

  10. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

    Sosiologi merupakan ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial serta proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

  11.  J. A. A. Von Dorn dan C. J. Lammers

    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan ihwal struktur-struktur serta proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

  12. Mayor Polak

    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan, yaitu kekerabatan antara insan satu dengan insan lain, insan dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.

  13. Hassan Shandily

    Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat serta menyelidiki ikatan-ikatan antara insan yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat serta maksud hidup bersama cara terbentuk serta tumbuh, serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup serta kepercayaan.




  14. Menurut Emile Durkheim, sosiologi ialah ilmu yang mempelajari fakta sosial.fakta sosial ialah sesuatu yang berada di luar individu. Contoh-contoh dari fakta sosial ialah kebiasaan-kebiasaan, peraturan-peraturan, norma-norma, hukum-hukum dan etika istiadat. Dan fakta sosial yang paling besar ialah masyarakat berdasarkan Durkhiem. Fakta sosial ini bersifat eksternal, obyektif dan berada di luar individu.





  15. Menurut Max Weber, sosiologi ialah ilmu pengetahuan yang bertujuan memahami tindakan sosial secara interpretatif supaya diperoleh kejelasan mengenai sebab-sebab, proses dan konsekuensinya. Dengan kata lain, sosiologi ialah ilmu yang bekerjasama dengan pemahaman interpretative mengenai tindakan sosial supaya dengan demikian bisa dipeoleh klarifikasi kausal mengenai arah dan konsekuensi dari tindakan itu. Dengan interpretative dimaksudkan untuk memahami arti dan makna dari tindakan sosial.




  16. Menurut Peter L.berger, sosiologi ialah ilmu atau studi ilmiah mengenai kekerabatan antara individu dan masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu mempunyai beberapa unsur yaitu :



  • Bersifat empiris. Itu berarti sosiologi didasarkan pada pengalaman-pengalaman, fakta-fakta konkrit insan dan dianalisis dengan kecerdikan nalar.misalnya, masyarakat cina di Indonesia ialah masyarakat yang mempunyai jiwa bisnis. Pernyataan ini bersifat empiris lantaran semua orang sanggup melihat cina buka toko dan bisnis di mana-mana.

  • Bersifat Teoristis. Hal ini berarti bahwa sosiologi berusaha menciptakan abtraksi-abtraksi dari observasi yang ada atau data empiris. Dan berteori berdasar data empiris tersebut.

  • Bersifat kumulatif. Ini berarti teori sosiologi dibangun berdasarkan data-data yang dikumpulkan, ditambah, serantak diperbaiki sehingga teori itu makin bagus.

  • Bersifat bebas nilai. Ini berarti sosiologi berusaha menganalisis situasi sosial berdasarkan apa adanya dan bukan berdasarkan yang seharusnya. Sosiologi sebagai ilmu, tidak memberi evaluasi baik-buruk, sosiologi hanya meneliti dan menganalisa sebuah fakta atau situasi sosial sebagaimana adanya. Ini berarti sosiologi bersifat netral dan tidak memihak atau terjatuh pada evaluasi moral, baik-buruknya suatu fakta sosial atau masyarakat.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Perkembangan Sosiologi Dari Abad Ke Abad Lengkap




Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Sosial


Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi


Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan (knowlage) yang tersusun sistematis dengan memakai kekuatan pemikiran, yang selalu sanggup diperiksa dan ditelaah (dikontrol) oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan pengetahuan. Ilmu pengetahuan sanggup timbul dari pelbagai cara, diantaranya:





  1. Penemuan secara kebetulan, artinya inovasi yang sifatnya tanpa direncanakan dan diperhitungkan terlebih dahulu.

  2. Hal untung-untungan, artinya inovasi melalui cara percobaan-percobaan dan kesalahan-kesalahan.

  3. Kewibawaan, yaitu berdasarkan penghormatan terhadap pendapat atau inovasi yang dihasilkan oleh seseorang atau forum tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan atau wewenang.

  4. Usaha-usaha yang besifat spekulatif, artinya dari sekian banyak kemungkinan, dipilih salah satu kemungkkinan walaupun pilihan tersebut tidak didasarkan keyakinan apakah pilihan tersebut merupakan cara yang setepat-tepatnya.

  5. Pengalaman, artinya berdasarkan pikiran kritis.

  6. Penelitian ilmiah, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa tanda-tanda dengan jalan analisis dan investigasi yang mendalam terhadap fakta-masalah.




Ilmu Sosial dan Sosiologi


Apabila istilah “sosial” pada ilmu-ilmu sosial menunjuk pada objeknya, yaitu masyarakat, sosiologi merupakan suatu ideology yang berpokok pada prinsip pemilikan umum. Sosiologi terperinci merupakan ilmu social yang objeknya ialah masyarakat. Sosiologi merupakan suatu ilmu yang berdiri sendiri alasannya ialah sudah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-cirinya adalah:





  • Sosiologi bersifat empiris, bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan.

  • Sosiologi besifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi.

  • Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori Sosiologi dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.

  • Sosiologi bersifat nonetis, artinya yang dipersoalkan bukanlah baik-buruknya fakta tertentu, tetapi tujuannya ialah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.


Masyarakat yang menjadi objek ilmu-ilmu sosial sanggup dilihat sebagai sesuatu yang terdiri dari beberapa segi; ada segi ekonomi, ada segi kehidupan politik, dan lain-lain.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Perbedaan Sosiologi Dengan Antropologi




Sifat Hakikat Sosiologi


Definisi Sosiologi dari beberapa ahli:



  • Pitirim Sorokin menyampaikan bahwa Sosiologi ialah suatu ilmu yang mempelajari:

    1. Hubungan dan dampak timbal balik antara aneka macam gejala-gejala social.

    2. Hubungan dan dampak timbal balik antara tanda-tanda social dan tanda-tanda nonsosial.

    3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala social.

  • Roucek dan Warren mengemukakan bahwa Sosiologi ialah ilmu yang mempelajari kekerabatan antara insan dalam kelompok-kelompok.

  • William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf beropini bahwa Sosiologi ialah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

  • J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers beropini bahwa Sosiologi ialah ilmu pengetahuan ihwal struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

  • Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa Sosiologi ialah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. Struktur Sosial ialah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah social (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial ialah dampak timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, umpamanya dampak timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidpuan politik, antara segi kehidupan aturan dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya.




Hakikat Sosiologi ialah sebagai berikut:



  1. Sosiologi ialah suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan

    alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.

  2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif akan tetapi ialah suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi remaja ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.

  3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (apllied science).

  4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang aneh dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkrit.

  5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola

  6. Sosiologi merupakan pengetahuan yang empiris dan rasional.

  7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan

    ilmu pengetahuan yang khusus.




Ciri-ciri Sosiologi


Sebagai ilmu sosial yang objeknya masyarakat, sosiologi mempunyai beberapa ciri utama, sebagai berikut



  • Sosiologi bersifat empiris.

    Artinya bahwa sosiologi dikembangkan berdasarkan hasil penelitian empiris mengenai fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.Ciri empiris ini harus sanggup dibuktikan kebenarannya berdasarkan kenyataan yang ada secara logis atau rasional. Bukan atas spekulasi atau wahyu.Contoh : Masyarakat Indonesia populer ramah , sederhana, kekeluargaan dan gotong royong.





  • Sosiologi bersifat teoritis

    Artinya bahwa fenomena atau gejala-gejala sosial budaya sebagai obyek kajian Sosiologi diteliti secara teoritis dan konseptual berdasarkan kekerabatan alasannya ialah jawaban (kausal) dan dirumuskan dengan metode dan mekanisme ilmiah.

    Contoh : seorang pelajar atau mahasiswa rajin berguru secara tekun lantaran didorong oleh keinginan menjadi orang yang pintar dan mempunyai kegunaan bagi keluarga dan masyarakatnya.





  • Sosiologi bersifat kumulatif

    Artinya teori-teori Sosiologi dibangun atas dasar teori yang sudah ada sebelumnya (misal ilmu filsafat). Teori-teori gres yang lebih mendekati kebenaran dan lebih luas, intinya merupakan penyempurnaan dari teori-teori yang sudah ada.

    Contoh : berdasarkan teori Darwin, insan di bumi ini berasal dari kera. Kenyataannya teori tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dan mengalami perubahan.





  • Sosiologi bersifat bukan etika (non etis)

    Artinya Sosiologi bukan fatwa ihwal tata susila dan tidak membicarakan tingkah laris baik atau jelek yang terjadi di masyarakat Tetapi kiprah Sosiolog ialah mengungkapkan ihwal tindakan sosial sebagai fakta atau hanya mendeskripsikan aneka macam fenomena sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat berdasarka aturan kausalitas.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Aspek Penting Dalam Pembinaan Keluarga Sejahtera Dalam Sosiologi




Objek Sosiologi


Objek Sosiologi ialah masyarakat yang dilihat dari sudut kekerabatan antar

manusia, dan proses yang timbul dari kekerabatan insan di dalam masyarakat. Masyarakat merupakan insan yang hidup bersama, bercampur untuk waktu yang cukup lama, adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan, mereka merupakan suatu system hidup bersama. Beberapa orang sarjana telah mencoba untuk memperlihatkan definisi masyarakat (society) mirip berikut ini:





  1. Maclver dan Page menyampaikan bahwa masyarakat ialah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kolaborasi antara aneka macam kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laris serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan kekerabatan social. Dan masyarakat selalu berubah.

  2. Ralph Linton menyatakan bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok insan yang telah hidup dan bekerjasama cukup usang sehingga mereka sanggup mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.

  3. Selo Soemardjan menyampaikan bahwa masyarakat ialah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

  4. J.L.Gillin menyatakan masyarakat ialah kesatuan hidup insan yang terikat oleh suatu tata cara (sistem) kebiasaan dan etika istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya.




Dari definisi-definisi di atas, unsur-unsur masyarakat sebagai berikut :



  • Masyarakat merupakan insan yang hidup bersama. Di dalam Ilmu Sosial tidak ada ukuran mutlak ataupun angka niscaya untuk menentukan berapa jumlah insan yang harus ada. Akan tetapi secara teoretis angka minimnya ialah dua orang yang hidup bersama.

  • Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari insan tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati mirip umpamanya kursi, meja dan sebagainya. Oleh lantaran dengan berkumpulnya insan akan timbul manusia-manusia baru. Manusia itu juga sanggup bercakap-cakap, merasa dan mengerti;

    mereka juga mempunyai keinginan untuk memberikan kesan-kesan atau perasaan-perasaannya. Sebagai jawaban hidup bersama itu, timbulah sistem komunikasi dan timbulah peraturan-peraturan yang mengatur kekerabatan antara insan dalam kelompok tersebut.

  • Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.

  • Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama

    menimbulkan kebudayaan oleh lantaran setiap anggota kelompok merasa dirinya

    terikat satu dengan lainnya.




Dua hasrat kuat dalam diri insan :



  1. Keinginan untuk menjadi satu dengan sesamanya atau insan lain. disekelilingnya (misalnya, masyarakat).

  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alam sekelilingnya Untuk sanggup beradaptasi dengan kedua lingkungan diatas, insan mempergunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya.




Kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan masyarakat supaya sanggup terus hidup:



  • Adanya populasi dan population replacement

  • Informasi

  • Energi

  • Materi

  • Sistem Komunikasi

  • Sistem produksi

  • Sistem distribusi

  • Sistem organisasi social

  • Sistem pengendalian social

  • Perlindungan masyarakat terhadap ancaman-ancaman yang tertuju pada jiwa

    dan harta bendanya.




Komponen-komponan dasar suatu masyarakat



  1. Populasi, yakni warga-warga suatu masyarakat yang dilihat dari setiap sudut pandangan kolektif. Secara sosiologis, maka aspek-aspek sosiologisnya yang diperlu dipertimbangkan adalah

    – aspek-aspek genetik yang konstan

    – variabel-variabel genetic

    – variabel-variabel demografis

  2. Kebudayaan, yakni hasil karya, cipta dan rasa dari kehidupan bersama yang meliputi :

    – sistem lambang-lambang

    – informasi

  3. Hasil-hasil kebudayaan materiil

  4. Organisasi social yakni jaringan kekerabatan antara warga-warga masyarakat yang bersangkutan, yang antara lain meliputi :

    – warga masyarakat secara individual

    – peranan-peranan

    – kelompok-kelompok social

    – kelas-kelas social

  5. Lembaga-lembaga sosial dan sistemnya.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Sosiologi : Pengertian Umum dan Tinjauan Para Ahli




Sejarah Teori Sosiologi


Suatu Teori pada hakekatnya merupakan kekerabatan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta berdasarkan cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang sanggup diamati dan pada umumnya sanggup diuji secara empiris.


Teori merupakan kekerabatan dua variabel atau lebih, yang telah diuji kebenarannya. Variabel merupakan karakteristik dari orang-orang, benda-benda atau keadaan yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda, contohnya usia, jenis kelamin, dan lain sebagainya.




Kegunaan Teori Sosiologi antara lain :



  1. Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari sosiologi.

  2. Teori memperlihatkan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada seseorang yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi.

  3. Teori mempunyai kegunaan untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi.

  4. Suatu teori akan sangat mempunyai kegunaan dalam membuatkan sistem pembagian terstruktur mengenai fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi yang penting untuk penelitian.

  5. Pengetahuan teoritis memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan proyeksi sosial, yaitu usaha untuk sanggup mengetahui kearah mana masyarakat akan berkembang atas dasar fakta yang diketahui pada masa lampau dan pada remaja ini.




Masa Auguste Comte digunakan sebagai patokan, lantaran ilmuwan Perancis August Comte yang pertama sekali memakai istilah atau pengertian “Sosiologi” , sehingga sosiologi dikatan ilmu pengetahuan yang relatif muda usianya, lantaran gres mengalami perkembangan pada masa Comte tersebut. Walaupun bekerjsama perhatian dan pikiran terhadap masyarakat telah dimulai jauh sebelum Comte antara lain:



  1. Plato (429-329 S.M)

    Seorang filosof Romawi bermaksud untuk merumuskan suatu teori ihwal negara yang dicita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada pengamatan kritis terhadap sistem-sistem sosisal yang ada pada zamannya. Dengan jalan menganalisis lembaga-lembaga didalam masyarakat maka Plato berhasil memperlihatkan kekerabatan fungsional antara-lembaga-lembaga tersebut yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh yang meliputi bidang-bidang kehidupan ekonomi dan sosial.





  2. Aristoteles (384-322 S.M)

    Di dalam buku politiknya, ia mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik digunakan dalam arti luas meliputi juga aneka macam dilema ekonomi dan social sebagaimana halnya dengan Plato. Perhatian Aristoteles terhadap Biologi menyebabkannya mengadakan suatu analogi antara masyarakat dengan organisme biologis manusia. Di samping itu ia menggariskan kenyataan bahwa basis masyarakat ialah moral.





  3. Ibn Khaldun (1332-1406)

    Ibn Khaldun telah menghasilkan sekumpulan karya yang mengandung aneka macam pemikiran yang mirip dengan sosiologi zaman sekarang, ia melaksanakan studi ilmiah ihwal masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena social. Ia memusatkan perhatian pada aneka macam forum social (misalnya Politik dan ekonomi) dan kekerabatan antar forum tersebut. Ia juga tertarik melaksanakan studi perbandingan antara masyarakat primitive dan modern. Ibnu Khaldun tidak kuat secara dramatis terhadap sosiologi klasik , tetapi setelah sarjana muslim khususnya meneliti ulang karyanya ia mulai diakui sebagai sejarawan yang mempunyai signifikansi hiostoris.





  4. Zaman Reanissance (1200-1600)

    – Thomas More dan Campanella

    Sangat terpengaruh oleh gagasan-gagasan terhadap adanya masyarakat yang ideal.

    – N. Machiavelli (bukunya Il Principe)

    Menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan. Untuk pertamakalinya politik dipisahkan dari moral, sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Pengaruh fatwa Machiavelli antara lain, suatu ajaran, bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian mekanisme pemerintahan.





  5. Hobbes(1588-1679)

    Tulisannya berjudul The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh aturan alam, fisika dan matematika. Dia beranggapan bahwa dalam keadaan alamiah, kehidupan insan didasarkan pada keinginankeinginan yang mekanis, sehingga insan selalu berkelahi. Akan tetapi mereka mempunyai pikiran bahwa hidup tenang dan tenteram ialah jauh lebih baik. Keadaan semacam itu gres sanggup tercapai apabila mereka mengadakan suatu perjanjian atau kontrak dengan pihak-pihak yang mempunyai wewenang, pihak mana akan dapat

    memeliharaketenteraman. Supaya keadaan tenang tadi terpelihara, maka orang-orang harus sepenuhnya mematuhi pihak yang mempunyai wewenang tadi. Dalam keadaan demikianlah masyarakat sanggup berfungsi sebagaimana mestinya.





  6. John Locke(1632-1704)

    Manusia intinya mempunyai hak-hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda. Kontrak antara warga masyarakat dengan pihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas dasar faktor pamrih. Bila pihak yang mempunyai wewenang tadi gagal untuk memenuhi syarat-syarat kontrak, maka warga-warga masyarakat berhak untuk menentukan pihak lain.





  7. J.J. Rousseau(1712-1778)

    Kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah, mengakibatkan tumbuhnya kolektivitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi berbeda dengan keinginan masingmasing individu.





  8. Saint Simon(1760-1825)

    Manusia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Dalam bukunya Memoirs sur la Science de I’home, ia menyatakan bahwa ilmu politik merupakan suatu ilmu positif. Artinya, masalah-masalah dalam ilmu politik hendaknya dianalisis dengan metode-metode yang lazim digunakan terhadap gejala-gejala lain. Dia memikirkan sejarah sebagai suatu fisika sosial. Fisiologi sangat mempengaruhi ajaran-ajarannya mengenai masyarakat. Masyarakat bukanlah semata-mata merupakan suatu kumpulan dari orang-orang belaka yang tindakan-tindakannya tidak mempunyai sebab, kecuali kemauan masing-masing.

    Kumpulan tersebut hidup lantaran didorong oleh organorgani tertentu yang menggerakan insan untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut.





  9. Auguste Comte(1798-1853)

    Auguste Comte yang pertama-tama mempergunakan istilah “sosiologi” ialah orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Anggapannya sosiologi terdiri dari dua cuilan pokok, yaitu social statistics dan social dynamics. Sebagai social statistics sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari kekerabatan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Social dynamics meneropong bagaimana lembagalembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual;







  • Tahap fiktif atau teologis

    Suatu tahap dimana insan menafsirkan gejala-gejala disekelilingnya secara teologis, yaitu dengan dikendalikan oleh kekuatan roh dewa-dewa atau tuhan yang maha kuasa.

  • Tahap metafisik

    Dimana insan beranggapan bahwa didalam setiap tanda-tanda terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada alhasil akan sanggup diungkapkan.

  • Tahap positif

    Dimana insan masih terikat oleh impian tanpa verifikasi lantaran adanya kepercayaan bahwa setiap impian terkait pada suatu realita tertentu dan tidaka ada usaha untuk menemukan hokum-hukum alam yang seragam.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ 11 Pengertian Sosiologi Politik Menurut Para Ahli Serta Peran Dan Contohnya




Teori Madzhab Sosiologi


Teori-teori sosiologi sehabis Comte diantaranya:


Madzhab geografi dan lingkungan



  1. Edward Buckle(1821-1862)

    Karyanya Historyof Civilization in England Buckle meneruskan ajaran-ajaran sebelumnya ihwal dampak keadaan alam terhadap masyarakat. Di dalam analisisnya, ia telah menemukan beberapa keteraturan kekerabatan antara keadaan alam dengan tingkah laris manusia. Misalnya, terjadinya bunuh diri ialah sebagai jawaban rendahnya penghasilan, dan tinggi rendahnya pengahsilan tergantung keadaan alam. Taraf kemakmuran suatu masyarakat juga sangat tergantung pada keadaan alam di mana masyarakat hidup.

  2. Le Play(1806-1888)

    Dia menganalisis keluarga sebagai unit sosial yang mendasar dari masyarakat. Organisasi keluarga di tentukan oleh cara-cara mempertahankan kehidupannya yaitu cara mereka bermata pencaharian. Hal ini sangat tergantung pada lingkungan yimbal balik antara faktorfaktor tempat, pekerjaan dan insan (atau masyarakat). Atas dasar faktor-faktor tersebut, maka dapatlah diketemukan unsur-unsur yang menjadi dasar adanya kelompok-kelompok yang lebih besar, yang memerlukan analisis terhadap semua lembaga-lembaga politik dan social suatu masyarakat.

  3. E. Huntington Karyannya (tahun 1915) Civilization and climate

    Menguraikan bahwa mentalitas insan di tentukan oleh faktor iklim.




Madzhab Oganis dan Evolusioner



  • Herbert Spencer(1820-1903)

    Suatu organisme akan bertambah tepat apabila bertambah kompleks dan dengan adanya diferensiasi antara bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya fungsi yang lebih matang antar bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya organisasi fungsi yang lebih matang antara bagian-bagian organisme tersebut, dan integrasi yang lebih tepat pula. Secara Evolusioner, maka tahap organisme tersebut akan semakin tepat sifatnya. Dengan demikian makaorganisme tersebut ada kriterianya yakni kompleksitas, diferensiasi, dan integrasi. Kriteria mana akan sanggup diterapkan dalam masyarakat. Evaluasi sosial dan perkembangan sosial intinya berarti bertambahnya

    diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari keadaan homogen ke keadaan yang heterogen.

  • W.G. Summer(1840-1910)

    Salah satu karyanya Folkways. Folkways dimaksudkan dengan kebiasaan-kebiasaan social yang timbul secara tidak sadar dalam masyarakat, kebiasaan-kebiasaan mana menjadi cuilan dari tradisi. Hampir semua aturan-aturan kehidupan sosial, upacarasopan- santun, kesusilaan, dan sebagainya, termasuk dalam Folkways tersebut. Aturan-aturan tersebut merupakan kaidah-kaidah kelompok yang masing-masing mempunyai tingkat atau derajat kekuatan yang berbeda-beda. Apabila kaidah-kaidah tadi dianggap sedemikian pentingnya, maka kaidah-kaidah tadi dinamakan tata kelakuan (mores). Kaidah-kaidah tersebut tidaklah menjadi cuilan dari suatu masyarakat secara menyeluruh, dan oleh lantaran itu summer membedakan antara kelompok sendiri (in-gropus) dengan kelompok luar (out-groups). Pembedaan ini ditujukan untuk sanggup memperlihatkan petunjuk bahwa ada orang-orang yang diterima dalam suatu kelompok dan ada pula yang tidak. Pembedaan tersebut menjadikan pelbagai macam antagonisme, kontradiksi serta pertikaian.

  • Emile Durkheim(1855-1917)

    Karyanya Division of labor sanggup digolongkan dalam Mazhab ini. Menurutnya unsur baku dalam masyarakat ialah faktor solidaritas. Dia membedakan antara masyarakatmasyarakat yang bercirikan faktor solidaritas mekanis dengan yang mempunyai solidaritas organis. Pada masyarakat-masyarakat dengan solidaritas mekanis, warga masyarakat belum mempunyai diferensiasi dan pembagian kerja. Warga masyarakat mempunyai kepentingan bersama dan kesadaran yang sama pula. Masyarakat dengan solidaritas organis telah mempunyai pembagian kerja yang ditandai dengan derajat spesialisasi tertentu.

  • Ferdinad Tonnies(1855-1936)

    Bagaimana warga suatu kelompok mengadakan kekerabatan dengan sesamanya.

    Dasar kekerabatan tersebut disatu pihak ialah factor perasaan, simpati pribadi dan kepentingan bersama. Di pihak lain dasarnya ialah kepentingan-kepentingan rasional dan ikatan-ikatan yang tidak permanen sifatnya.

    Bentuk-bentuk sosial yang pertama dinamakannya paguyuban (gemeinschaft), sedangkan yang kedua ialah patembayan (gesellschaft).




Madzhab Formal



  1. Georg Simmel(1858-1918)

    Elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur kekerabatan antara elemenelemen tersebut. Pelbagai forum di dalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi dan konflik. Semua hubungan-hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan, perdagangan, kelas-kelas sanggup diberi karakteristik berdasarkan salah satu bentuk diatas atau ketiga-ketiganya. Menurutnya, seseorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi dan sosialisasi. Tanpa menjadi warga masyarakat tak akan mungkin seseorang mengalami proses interaksi antara individu dengan kelompok. Dengan perkataan lain, apa yang memungkinkan masyarakat berproses ialah bahwa setiap orang mempunyai peranan yang harus dijalankannya. Maka, interaksi individu dengan kelompok hanya sanggup dimengerti dalam kerangka peranan yang dilakukan oleh individu.

  2. Leopold von Wiese(1876-1961)

    Sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan insan tanpa mengaitkannya dengan tujuantujuan atau kaidah-kaidah. Sosiologi harus mulai dengan pengamatan terhadap sikap kongkrit tertentu. Ajarannya bersifat empiris dan ia berusaha untuk mengadakan kuantifikasi, terhadap proses-proses sosial yang terjadi. Proses sosial merupakan hasil perkalian dari sikap dan keadaan, yang masing-masing sanggup diuraikan ke adalam unsur-unsurnya secara sistematis.

  3. Alfred Vierkandt(1867-1953)

    Sosiologi menyoroti situasi-situasi mental. Situasi-situasi tersebut tak sanggup dianalisis secara tersendiri, akan tetapi merupakan hasil sikap yang timbul sebagai jawaban interaksi antar individu-individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dengan demikian, kiprah sosiologi ialah untuk menganalisis dan mengadakan sistematika terhadap tanda-tanda sosial dengan jalan menguraikannya ke dalam bentuk-bentuk kehidupan mental. Hal itu sanggup ditemukan dalam gejala-gejala mirip harga diri, perjuangan, simpati, imitasi dan lain sebagainya. Itulah prekondisi suatu masyarakat yang hanya sanggup berkembang penuh dalam kehidupan kelompok atau dalam masyarakat setempat (community). Oleh lantaran itu sosiologi harus memusatkan perhatian terhadap kelompok-kelompok sosial.




Madzhab Psikologi



  • Gabriel Tarde(1843-1904)

    Dia memulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa tanda-tanda sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk-bentuk utama dari interaksi mental individu-individu ialah imitasi, oposisi dan penyesuaian atau inovasi baru. Imitasi seringkali berhadapan dengan oposisi yang menuju pada bentuk penyesuaian baru. Dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru. Hal ini menjadikan imitasi, oposisi penemuan-penemuan baru, perubahan-perubahan dan seterusnya. Tarde berusaha untuk menjelaskan gejala-gejala sosial di dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang.

  • Albion Small(1854-1926)

    Mengadakan analisis terhadap reaksi-reaksi individu terhadap individu, maupun kelompok terhadap kelompok lainnya. Small merupakan orang yang pertama membuka departemen sosiologi pada Universitas Chicago, dan menerbitkan American Journal of Sociology.

  • Horton Cooley(1864-1924)

    Individu dan masyarakat saling melengkapi,di mana individu hanya akan menemukan bentuknya di dalam masyarakat. Di dalam karyanya Social Organization ia mengambangkan konsep kelompok utama (primary group), yang ditandai dengan kekerabatan antar pribadi yang dekat sekali. Dalam kelompok-kelompok tadi perasaan insan akan sanggup berkembang dengan leluasa.

  • L.T. Hobhouse(1864-1929)

    Sangat tertarik pada konsep-konsep pembangunan dan perubahan sosial. Dia menolak penerapan prinsip-prinsip biologis terhadap studi masyarakat manusia; psikologi dan etika merupakan kriteria yang diharapkan untuk mengukur perubahan sosial.




Mazhab Ekonomi



  1. Karl Marx (1818-1883)

    Marx telah mempergunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori ihwal perubahan yang memperlihatkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan dimana ada keadilan sosial.

    Manurutnya, selama masyarakat masih terbagi atas kelaskelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan, Hukum, filsafat, agama, dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi kelas tersebut. Namun demikian, hukum-hukum perubahan berperanan dalam sejarah, sehingga keadaan tersebut sanggup berubah baik melalui suatu revolusi maupun secara damai. Akan tetapi selama masih ada kelas yang berkuasa, maka tetap terjadi eksploitasi terhadap kelas yang lebih lemah. Oleh lantaran itu selalu timbul pertikaian antara kelas-kelas tersebut, pertikaian mana akan berakhir apabila satu-atu kelas (yaitu kelas proletar) menang, sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.

  2. Max Weber (1864-1920)

    Semua bentuk oranisasi sosial harus diteliti berdasarkan sikap warganya, yang motivasinya harmonis dengan harapan warga-warga lainnya. Untuk mengetahui dan menggali hal ini perlu digunakan metoe pengertian (Verstehen). Tingkah laris individu-individu dalam masyarakat sanggup diklasifikasikan berdasarkan empat tipe ideal agresi sosial, yakni:



  • Aksi yang bertujuan, yakni tingkah laris yang ditujukan untuk mendapat hasil-hasil yang efisien.

  • Aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, yang diartikan sebagai perbuatan untuk merealisasikan dan mencapai tujuan.

  • Aksi tradisional yang menyangkut tingkah laris yang melaksanakan suatu aturan yang bersanksi.

  • Aksi yang emosional, yaitu yang menyangkut perasaan seseorang.

    Atas dasar hal-hal tersebut diataslah maka timbul hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat.




Mazhab Hukum



  1. Emile Durkheim

    Ajaran-ajaran Durkheim memakai banyak pendekatan termasuk pendekatan hukum. Menurutnya aturan ialah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringannya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat ihwal baik-buruknya suatu tindakan. Di dalam masyarakat terdapat dua macam hukuman kaidahkaidah aturan yaitu hukuman yang refresif (hukum pidana) dan hukuman yang restitutif (hukum perdata, aturan dagang, aturan acara, aturan manajemen dan aturan tata negara setelah dikurangi dengan unsur-unsur pidananya).

  2. Max Weber

    Weber mempunyai latar belakang pendidikan hukum, ia mempelajari dampak faktor-faktor politik, agama dan ekonomi terhadap perkembangan hukum. Menurut Weber ada empat tipe ideal aturan :



  • Hukum irasional dan materiil, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan keputusan-kepurtusannya semata-mata pada nilai-nilai emosional tanpa menunjuk pada suatu kaidahpun.

  • Hukum irasional dan formal, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada kaidah-kaidah di luas akal, oleh lantaran didasarkan pada wahyu atau ramalan.

  • Hukum rasional dan materiil, di mana keputusankeputusan para pembentuk undang-undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksaan penguasa dan ideologi.

  • Hukum rasional dan formal yaitu di mana hokum dibuat semata-mata atas dasar konsep-konsep aneh dari ilmu hukum.




Manfaat Metode Dalam Sosiologi


Terdapat dua metode, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif.



  • Metode kualitatif mengutamakan materi yang sukar sanggup diukur dengan angka-angaka atau ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut ada dengan positif dalam masyarakat. Dalam metode kualitatif termasuk metode historis dan metode komparatif. Metode historis memakai analisis atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk menetukan prinsip-prinsip umum. Metode komparatif mementingkan perbandingan antara majemuk masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbadaan dan persamaan-persamaaan serta sebab-sebabnya.

  • Metode kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga tanda-tanda yang diteliti sanggup diukur dengan skala-skala, indeks, table, formula, yang semuanya memakai ilmu pasti.


Dan dua metode lainnya yaitu:



  1. Metode deduktif: berdasarkan hal-hal yang bersifat umum kemudian ditarik ke hal-hal yang lebih khusus.

  2. Dan metode induktif: berdasarkan hal yang khusus kemudian diambil generalisasinya.




Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Gestur Dalam Ilmu Sosiologi




Perkembangan Sisiologi di Indonesia


Berawal dari fatwa wulan reh yang diciptakan oleh sri paduka mangkunegoro IV dari Surakarta antara lain mengajarkan tata kekerabatan antara masyarakat jawa yang berasal dari golongan yang berbeda banyak mengandung aspek sosiologi. Kemudian setelah perang dunia kedua, sisiologi di Indonesia banyak mengalami perkembangan yang pesat, diantaranya dikuliahkannya sosiologi sebagai ilmu penegtahuan dalam jurusan pemerintahan dalam negri, kekerabatan luar negri dan publisistik.




Proses Sosial Dan Interaksi Sosial


Proses sosial ialah cara-cara bekerjasama yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk kekerabatan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang mengakibatkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial sanggup diartikan sebagai dampak timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, contohnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dan seterusnya. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, lantaran tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.




Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial


Bentuk umum proses sosial ialah interaksi social (yang juga sanggup dinamakan sebagai proses sosial) lantaran interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut kekerabatan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok insan terjadi anatara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.




Dalam kamus Bahasa Indonesia Innteraksi didifinisikan sebagai hal saling melalkukan akasi, bekerjasama atau saling mempengaruhi. Dengan demikian  interaksi ialah kekerabatan timbale balik (social) berupa agresi salaing mempengaruhi antara indeividu dengan individu, antara individu dankelompok dan antara kelompok dengan dengan kelompok.


Interaksi sosial antara kelompok-kelompok insan terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila insan mengadakan kekerabatan yang eksklusif dengan sesuatu yang sama sekali tidak kuat terhadap sistem syarafnya, sebagai jawaban kekerabatan termaksud.




Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :



  • Imitasi

    Imitasi ialah pembentukan nilai melalui dengan memalsukan cara- cara orang lain. Contoh : Seorang anak sering kali memalsukan kebiasan – kebiasan orang tuanya .

  • Sugesti

    Adalah suatu ide yang didasari oleh kepercayaan diri, inisiatif, atas dasar ilham, egosentris, atau wawasan pengetahuan, kemudian diterima oleh pihak lain baik secara absolut ataupun lantaran berwibawa dan berpengaruh.

  • Identifikasi

    Identifikasi ialah menirukan dirinya menjadi sama dengan orang yang ditirunya. Contoh : Seorang anak laki – laki yang begitu dekat dan erat dengan ayahnya suka mengidentifikasikan dirinya menjadi sama dengan ayahnya.

  • Simpati

    Adalah rasa tertarik seseorang terhadap orang lain, hal tersebut didasari oleh penghormatan lantaran mempunyai kelebihan, kemampuan, yang patut dijadikan contoh. Rasa simpati keluar dengan sendirinya tanpa adanya paksaan, kemudian timbul rasa untuk memahami pihak lain dan keinginan untuk bekerjasama.




Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial


Interaksi sosial merupakan kekerabatan sosial yang dinamis, menyangkut kekerabatan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Dua syarat terjadinya interaksi sosial :



  • Adanya kontak sosial (social contact)

    yang sanggup berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu, antar individu dengan kelompok, antar kelompok. Selain itu, suatu kontak sanggup pula bersifat eksklusif maupun tidak langsung.

  • Adanya Komunikasi

    yaitu seseorang memberi arti pada sikap orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.




Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara hanafiah ialah bahu-membahu menyentuh. Secara fisik, kontak gres terjadi apabila terjadinya kekerabatan badaniah. Sebagai tanda-tanda seosial itu tidak perlu berarti suatu kekerabatan badaniah, lantaran remaja ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang sanggup menyentuh aneka macam pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa kekerabatan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak. Kontak sosial sanggup berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut,





  1. Antara orang-perorangan

    Kontak sosial ini ialah apabila anak kecil mempelajari kebiasaan- kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang gres mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana ia menjadi anggota.

  2. Antara orang-perorangan dengan suatu kelompok insan atau sebaliknya

    Kontak sosial ini contohnya ialah apabila seseorang mencicipi bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya untuk beradaptasi dengan ideologi dan programnya.

  3. Antara suatu kelompok insan dengan kelompok insan lainnya

    Umpamanya ialah dua partai politik mengadakan kolaborasi untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umum.




Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sengangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu kontradiksi atau bahkan sama seali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.


Suatu kontak sanggup bersifat primer atau sekunder. Kontak perimer terjadi apabila yang mengadakan kekerabatan eksklusif bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Sekunder sanggup dilakukan secara langsung. Hubungan-hubungan yang sekunder tersebut sanggup dilakukan melalui alat-alat telepon, telegraf, radio, dan seterusnya.




Arti terpenting komunikasi ialah bahwa seseorang memperlihatkan tafsiran pada sikap orang lain (yang berwujud pembicaraan, gera-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memperlihatkan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.


Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok insan atau perseorangan sanggup diketahui oleh kelompok lain atau orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan materi untuk menentukan reaksi apa yang dilakukannya.




Kehidupan yang Terasing


Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial sanggup diuji terhadap suatu kehidupan yang terasing (isolation). Kehiduapan terasing yang tepat ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. Kehidupan terasing sanggup disebaban lantaran secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari kekerabatan dengan orang-orang lainnua. Padahal perkembangan jiwa seseorag banyak ditentuan oleh pergaulannya dengan orang lain.




Kehidupan terasing sanggup disebabkan lantaran secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari kekerabatan dengan orang-orang lainnya. Terasingnya seseorang sanggup pula disebabkan oleh lantaran cacat pada salat-satu indranya. Dari beberapa hasil penelitian, ternyata bahwa kepribadian orang-orang mengalami banyak penderitaan jawaban kehidupan yang terasing lantaran cacat indra itu. Orang-orang cacat tersebut akan mengalami perasaan rendah diri, lantaran kemungkinan-kemungkinan untuk membuatkan kepribadiannya seakan-akan terhalang dan bahkan sering kali tertutup sama sekali.


Pada masyarakat berkasta, dimana gerak sosial vertikal hampir tak terjadi, terasingnya seseorang dari kasta tertentu (biasanya warga kasta rendahan), apabila berada di kalangan kasta lainnya (kasta yang tertinggi), sanggup pula terjadi.




Bentuk-bentuk Interaksi Sosial


Bentuk-bentuk interaksi sosial sanggup berupa kolaborasi (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan sanggup juga berbentuk kontradiksi atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapat suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan sanggup diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan sanggup dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kolaborasi yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk alhasil hingga pada akomodasi. Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai jawaban adanya interaksi sosial :




1.    Proses-proses yang Asosiatif


a.    Kerja Sama (Cooperation)


Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok insan untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kolaborasi tersebut berkembang apabila orang sanggup digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diharapkan bagi mereka yang bekerja sama supaya planning kerja samanya sanggup terealisasi dengan baik. Kerja sama timbul lantaran orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jikalau ada hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.




Fungsi Kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley sebagai berikut ”kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada dikala yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna”


Dalam teori-teori sosiologi sanggup dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi nama kolaborasi (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan :





  • Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation): Kerjasama yang sertamerta

  • Kerjasama Langsung (Directed Cooperation): Kerjasama yang merupakan hasil perintah atasan atau penguasa

  • Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation): Kerjasama atas dasar tertentu

  • Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation): Kerjasama sebagai cuilan atau unsur dari sistem sosial.




Ada lima bentuk kerjasama, yaitu sebagai berikut:



  1. Kerukunan yang meliputi gotong-royong dan tolong-menolong.

  2. Bargaining, yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.Kooptasi (cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur gres dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.

  3. Koalisi (coalition), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi sanggup menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu lantaran dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karenamaksud utama ialah untuk mencapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya ialah kooperatif.

  4. Joint venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, contohnya pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dan seterusnya.




b.    Akomodasi (Accomodation)


Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok insan dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu proses kemudahan menunjuk pada usaha-usaha insan untuk meredakan suatu kontradiksi yaitu usaha-usaha insan untuk mencapai kestabilan.




Menurut Gillin dan Gillin, kemudahan ialah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan penyesuaian dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok insan yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menuntaskan kontradiksi tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.




Tujuan Akomodasi sanggup berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:



  1. Untuk mengurangi kontradiksi antara orang atau kelompok insan sebagai jawaban perbedaan paham. Akomodasi di sini bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesa antara kedua pendapat tersebut, supaya menghasilkan suatu pola yang baru.

  2. Mencegah meledaknya suatu kontradiksi untuk sementara waktu atau secara temporer.

  3. Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah jawaban faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, mirip yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem berkasta.

  4. Mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah, contohnya lewat perkawinan gabungan atau asimilasi dalam arti luas.




Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut:



  • Coercion (penggunaan paksaan atau kekerasan),

    Adalah suatu bentuk kemudahan yang prosesnya dilaksanakan oleh lantaran adanya paksaan.

  • Compromise (kompromi),

    Adalah suatu bentuk kemudahan dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya supaya tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

  • Arbritation (perwasitan),

    Adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.

  • Mediation (mediasi)

    Penyelesaian sengketa yang mirip arbritation, tetapi pihak ketiga hanya sebagai mediator dan tidak mempunyai kewenangan mengambil prakarsa.

  • Conciliation (konsiliasi),

    Suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.

  •  Toleration (toleransi),

    Merupakan bentuk kemudahan tanpa persetujuan yang formal bentuknya.

  • Stalemate, suatu kemudahan dimana pihak-pihak yang bertentangan lantaran mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melaksanakan pertentangannya.

  • Adjodication, Penyelesaian masalah atau sengketa di pengadilan.




Hasil-hasil Akomodasi ialah sebagai berikut:



  1. Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat

    Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih kontradiksi laten yang akan melahirkan kontradiksi baru.

  2. Menekankan Oposisi

    Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi laba suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain.

  3. Koordinasi aneka macam kepribadian yang berbeda

    Hal ini tampak dengan terperinci apabila dua orang, contohnya bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik.

  4. Perubahan forum kemasyarakatan supaya sesuai dengan keadaan gres atau keadaan yang berubah

  5. Perubahan-perubahan dalam kedudukan

    Akomodasi menjadikan penetapan gres terhadap kedudukan orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia. Pertentangan telah mengakibatkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan kemudahan akan mengukuhkan kembali kedudukan-kedudukan tersebut.

  6. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi

    Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih gampang untuk saling mendekati.

  7. Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat

    Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih kontradiksi laten yang akan melahirkan kontradiksi baru.

  8. Menekankan Oposisi

    Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi laba suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain.

  9. Koordinasi aneka macam kepribadian yang berbeda

    Hal ini tampak dengan terperinci apabila dua orang, contohnya bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik.

  10. Perubahan forum kemasyarakatan supaya sesuai dengan keadaan gres atau keadaan yang berubah

  11.  Perubahan-perubahan dalam kedudukan

    Akomodasi menjadikan penetapan gres terhadap kedudukan orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia. Pertentangan telah mengakibatkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan kemudahan akan mengukuhkan kembali kedudukan-kedudukan tersebut.

  12. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi

    Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih gampang untuk saling mendekati.




Asimilasi (Assimilation)


Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok insan dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Proses Asimilasi timbul bila ada :



  • kelompok-kelompok insan yang berbeda kebudayaannya;

  • orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara eksklusif dan intensif untuk waktu yang usang sehingga;

  • kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok insan tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.




Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memilii syarat-syarat berikut ini:



  1. Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama.

  2. Interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan



Sumber aciknadzirah.blogspot.com