kata-kata bijak dan inspiratif Soe Hok Gie keabadian-Soe Hok Gie merupakan ide anak muda Indonesia yang akan selalu dikenang kisahnya hingga ditulis ulang menjadi buku maupun film. Soe Hok Gie, ia ialah satu diantara mahasiswa yang merintis berdirinya Pencinta Alam di Indonesia dan dialah orang yang pertama kali memakai istilah " Pencinta Alam".
Soe Hok Gie ialah seorang pencetus Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia ialah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Baca Juga: Kata Kata Bijak Motivasi Raden Adjeng Kartini
Setelah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Sekolah Menengan Atas Kolese Kanisius, Soe kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari tahun 1962 hingga 1969; sesudah menuntaskan studi di universitas, ia menjadi dosen di almamaternya hingga kematiannya. Ia selama kurun waktu sebagai mahasiswa menjadi badung aktif, memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Baca Juga: Kata Kata Bijak Atau Kutipan Inspiratif dari Tan Malaka
Soe ialah seorang penulis yang produktif, dengan aneka macam artikel yang dipublikasikan di koran-koran ibarat Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Setelah Riri Riza merilis film berjudul Gie pada tahun 2005, artikel-artikelnya disusun oleh Stanley dan Aris Santoso yang diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan oleh penerbit GagasMedia. More wikipedia
- "Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, sanggup iba hati, sanggup merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak labih dari benda. Berbahagialah orang yang masih memiliki rasa cinta, yang belum hingga kehilangan benda paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah kita".
- "Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita sanggup mengerti kehidupan dan menyatu dengannya"
- "Kami Jelaskan apa bergotong-royong tujuan kami. Kami katakan bahwa kami ialah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme mustahil tumbuh dari hiporkrisi dan slogan-slogan.Seseorang hanya sanggup mencitai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mengasihi tanah air Indonesia sanggup ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari cowok harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.Karena itulah kami naik gunung".
- "Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin".
- "Tapi kini saya berpikir, hingga di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapat apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat ridak apa-apa?".
- "Bagi saya KBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik dari pada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa aib dengan kekurangan-kekurangan kita".
- "Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berhagialah dalam ketiadaanmu".
- "Bidang seorang sarjana ialah berfikir dan mencipta yang baru, mereka harus sanggup bebas dari segala arus masyrakat yang kacau. Tapi mereka tidak sanggup terlepas dari fungsi sosialnya. Yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya, apabila keadaan telah mendesak. Kaum intelejensia yang harus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaan".
- "Bagiku sendiri politik ialah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu ketika di mana kita tidak sanggup menghindari diri lagi, maka terjunlah".
- "Saya kira saya tak sanggup lagi menangis alasannya ialah sedih. Hanya kemarahan yang menciptakan saya keluar air mata".
- "Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu".
- "Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan tuhan dan selalu benar, dan murid bukan kerbau".
- "Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, saya menentukan untuk menjadi insan merdeka".
- "Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adah; Who am i? Saya telah menjawab bahwa saya ialah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, alasannya ialah ada suatu yang lebih besar, kebenaran".
- "Mimpi saya yang terbesar yang ingin saya laksanakan ialah supaya mahasiswa Indonesia menjelma 'manusia-manusia yang biasa'. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkahlaku sebagai seorang insan yang normal, sebagai insan yang tidak mengikngkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang cowok dan sebagai seorang manusia".
- "Nasib terbaik ialah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial ialah berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu, berbahagialah mereka yang mati muda".
- "Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, bila sekiranya ia mengambil keputusan yang memiliki arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan akan prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun".
- "Sejarah dunia ialah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada" Apakah tanpa kesedihan, tanpa penghianatan sejarah tidak akan lahir?".
- "Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, sobat seideologi dan lain-lain. Setiap tahun tiba adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban gres untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi".
- "Manuisa dibuat oleh ambisi mengenai masa depan, dibuat oleh kenyataan-kenyataan kini, dan pengalaman-pengalaman masa lampau. Seorang pun tak sanggup membebaskan dirinya dari masa lampau. Pengalaman-pengalaman eksklusif memberi warna pada pandangan dan perilaku hidup seorang untuk seterusnya".
- "Kita seakan-akan merayakan demokrasi, tetapi memotong pengecap orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah".
- "Kemerdekaan merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, tetapi juga merupakan sebuah gedung kosong. Menjadi kiprah pendukung-pendukungnya untuk mengisi kemerdekaan".
- "Saya putuskan bahwa saya akan demontrasi. Karena mendiamkan kesalahan ialah kejahatan".
- "Saya tetapkan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada mengalah terhadap kemunafikan".
- "Makin redup idealisme mahasiswa dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi".
- "Dan seorang pahlawan ialah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan ibarat kita melupakan yang mati untuk revolusi".
- "Barang siapa mengibarkan bendera 'Revolusioner', akan memperoleh pasaran dikalangan kaum radikal, kaum yang menunggu dengan tidak sabar perubahan-perubahan yang mereka harapkan. Kaum 'Radikal" ini berasal dari segala golongan".
- "Dunia itu ialah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin alasannya ialah itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan".
- "Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia ialah kerikil tapal daripada usaha mahasiswa Indonesia, kerikil tapal dalam revolusi Indonesia dan kerikil tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya ialah keadilan dan kejujuran".
- Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata 'tidak'. Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenudi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain berbicara wacana kebenaran".
- "Atau....dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus. Bergabunglah dengan grup yang besar lengan berkuasa (partai, ormas, ABRI, dan lain-lainya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. Karir hidup akan cepat menanjak. Atau kalau mau lebih kondusif kerjalah disebuah perusahaan yang sanggup menunjukkan sebuah rumah kecil, sebuah kendaraan beroda empat atau jaminan-jaminan lain dan belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai".
- "Baru-baru ini seorang OKD (Organisasi Keamanan Desa) memukul tukang becak. Kita kasihan pada OKD yang penakut itu. Mereka, menutupi kekecilannya (cuma OKD) berlagak ibarat jendral. Sebenarnya mereka ialah seorang yang penakut. Orang yang berani alasannya ialah bersenjata ialah pengecut".
- "Saya tak tahu mengapa, saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus kemudian lintas Jakarta denga warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosng. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat besar lengan berkuasa menguasai saya. Saya ingin menunjukkan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anking-anjing di jalanan, pasa semua-muanya".
- "Realitas-realitas gres inilah yang menghadapi pemuda-pemuda Indonesia yang penuh dengan idealisme. Dia hanya ada dua pilihan. Yang pertama, tetap bertahan dengan cita0cita idealisme. Menjadi insan yang non-kompromistis. Orang-orang dengan asing dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala. 'Dia cerdik dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah' ".
- "Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau denga isteri-isterinya. Dua ratus meter sari Istana, saya bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang".
- "Akupun tak yakin (pasti malah) wacana ke-tak-ada-annya nasib, Aku beropini bahwa kita ialah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita ialah arsitek nasib kita, tapi tak pernah sanggup menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri".
- "Jepang ialah tanah dan Barat ialah benih. Benih itu ditanam dan walupun yang tumbuh pohon barat, tapi pohon tadi telah memiliki sifat-sifat yang khas Jepang. Apakah Indonesia sekuat Jepang? Setanpun tak tahu".
- "Potonglah kaki tangan seseorang, kemudian masukkan di daerah 2x3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia".
