3. Asasul Inqilab (Landasan Perubahan)
Syahadat akan memnuntun insan baik secara individual maupun kolektif untuk berubah menuju kepada kebaikan kondisi. Masyarakat jahiliyah yang telah sedemikian pekat kesesatan mereka, berhasil diubah oleh Nabi saw ndengan kalimat Laa ilaha illallah. Kalimat syahadat merupakan landasan bagi perubahan individual dan sosial.
a. Perubahan Individual
Dalam konteks individual, sanggup kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masing-mnasing pribadi sobat Nabi saw. Umar bin Khthab yang selama masa jahiliyahnya begitu banyak melaksanakan kejahatan, sesudah mengikrarkan kalimat syahadat bermetamorfosis seorang Umar yang shalih dan pembela kebenaran Islam. Dahulu ia membunuh anak perempuannya, dahulu ia pemabuk, dahulu ia membenci Nabi Muhammad bahkan pernah berencana membunuh beliau. Setelah bersyahadat, jadilah ia pembela Islam yang amat tangguh, hingga kesudahannya kelak menjadi Khalifah.
Khalid bin Walid yang sedemikian gigih memerangi Islam sejak di Makkah hingga hijrahnya nabi ke madinah, begitu masuk Islam berubah total menjadi p0juang kebenaran. Pada perang Badar, Uhud dan Khandak, ia masih berperang melawan kaum muslimin. Pada tahun ke delapan Hijrah, Khalid gres masuk Islam. Lihatlah bagaimana ia menjadi pembela Islam sesudah mengucap syahadat.
Ketika berkecamuk perang Muktah, Khalid hanyalah prajurit biasa. Ia ikut berperang di bawah pimpinan tiga panglima Islam, Zaid bin haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Atas kehendak Allah, satu per satu panglima Islam tersebut syahid di medan Muktah. Ketika pasuka Islam kehilangan ketiga panglimanya, segera panji-panji perang diambil oleh Tsabit bin Arqam untuk diangkat tinggi-tinggi semoga kaum muslimin tidak kacau balau. Dengan gesit Tsabit melarikan kudanya menuju Khalid bin Walid, sembari menyerahkan bendera perang kepadanya.
“Peganglah panji ini wahai Abu Sulaiman!” kata Tsabit.
“Aku tidak pantas memegangnya, andalah yang lebih berhak, karena anda lebih tua, dan telah menyertai perang Badar”, jawab Khalid.
“Ambillah, engkau lebih tahu siasat perang daripada aku, dan demi Allah saya tidak mengambil panji perang ini kecuali untuk saya serahkan kepadamu”.
Setelah berkata demikian, Tsabit bersreu kepada pasukan islam, “Bersediakah kalian dipimpin oleh Khalid?” Serempak pasukan Islam menjawab, “Bersedia!” Akhirnya diambillah bendera perang tersebut dan khalid memimpin pasukan Islam dengan gagah perkasa, dilandasi oleh pengalaman perang yang telah ia miliki sebelumnya. Inilah pembalikan total pada diri Khalid, dari musuh Islam yang banyak membunuh kaum muslimin dalam banyak sekali peperangan, menjadi seorang panglima perang Islam.
Adalah Thufail bin Amr Ad Dausi, seorang cowok yang terlahir dari keluarga terhormat, sering menerima peringatan dari keluarganya semoga sekali-kali tidak mendengar perkataan Muhammad. Keluarganya selalu khawatir kalau Thufail menjadi pengikut Muhammad. Setiap Thufail ke Ka’bah selalu menutup kedua telinganya dengan kapas semoga tidak mendengar perkataan Muhammad. Akan tetapi takdir Allah menghendaki, suatu dikala ketika di bersahabat Ka’bah ia mendengar sebagian apa yang dibaca oleh Nabi saw.
Sebagai andal syair Thufail sanggup membedakan mana kalimat yang indah dan tidak indah. Maka begitu mendengar sebagian bacaan Rasul tatkala shalat, bertambah kuatlah keinginannya untuk mengetahui aliran Islam. Segera ia tiba ke rumah Nabi dan meminta semoga mendapatkan keterangan wacana apa yang dia ajarkan. Nabi memberikan beberapa kalimat, dan membacakan beberapa ayat Al Qur’an. Demi mendengar klarifikasi Nabi, tidak ragu lagi Thufail segera masuk Islam dengan membaca kalimat syahadat di depan Nabi saw.
Lihatlah bagaimana perubahan besar terjadi dalam dirinya. Baru saja ia mengucap kalimat syahadat, yang terbayang di benaknya yaitu kewajiban untuk mendakwahi keluarga dan lingkungannya semoga masuk Islam. Bergegas ia pulang ke kampung halamannya untuk menunaikan kiprah besartersebut. Yang pertama kali ia jumpai yaitu bapaknya, untuk disampaikan kebenaran Islam. Luar biasa, kiprah dakwah pertama ini berhasil. Bapaknya masuk Islam atas izin Allah, sesudah mendengar keterangan Thufai. Yang kedua ia temui ibunya dan disampaikan kalimat dakwah. Kembali ia berhasil melaksanakan kiprah dakwah, ibunyapun segera masuk Islam.
Dakwah berlanjut kepada isterinya. Subhanallah, keterangan Thufail telah menciptakan isterinya berketatapan hati untuk masuk Islam. Selesailah kiprah dakwah yang besar di lingkungan keluarganya sendiri. Bapak, ibu dan isterinya telah masuk Islam. Thufail tidak berhenti. Segera ia sebarluaskan dakwah kepada tetangga dan seluruh masyarakart Daus. Betapa murung hatinya tatkala dakwah kali ini tidak ada yang menyambut. Tidak aa masyarakat Daus yang mau masuk Islam atas dakwahnya, kecuali Abu Hurairah.
Segera Thufail pergi ke Mekah dan menjumpai Nabi saw. “Ya rasulallah, saya tidak kuasa menghadapi banyaknya perjodian dan perzinahan di desa Daus. Mohonkan kepada Allah semoga Ia menghancurkan penduduk Daus”. Tetapi apakah yang dilakukan Nabi? Segera dia menengadahkantangan sembari memohon kepada Allah, “Ya Allah berilah petunjuk kepada penduduk Daus, dan datangkanlah mereka kepadaku dengan memeluk Islam”. Setelah itu dia bersabda, “Kembalilah engkau kepada kaummu, dakwailah mereka dan bersikap lembutlah kepada mereka”
Ucapan Nabi pada pertemuan kedua ini amat menakjubkan bag diri Daus. Kata-kata yang amat indah, mencerminkan kepribadian yang amat luhur. Segera ia kembali ke kampung halamannya dan kembali melaksanakan dakwah kepada masyarakat Daus. Hari berganti hari, hingga Nabi saw melaksanakan hijrah ke Madinah dan terjadilah perang Badar, uhud serta Khandak. Pada dikala Nabi saw berada di Khaibar, sesudah negeri itu sudah dikuasai kaum muslimin, satu rombongan besar penduduk Daus tiba menghadap Nabi untuk menyatakan masuk Islam.
Subhanallah, ketekunan dakwah Thufail kembali membuahkan hasil. Delapan puluh kepala keluarga beserta seluruh penghuni rumahnya menghadap nabi dan mengucapkan kalimat syahadat di depan beliau. Inilah pola perubahan besar pada orang yang telah bekrar syahadat. Baru saja Thufail masuk Islam, ia segera bergerak, tidak usah menunggu besok, untuk mengajak orang lain menuju keindahan Islam. Syahadat yaitu awal mula perubahan yang besar pada diri Thufail bin Amr Ad Dausi.
Kalimat Laa ilaha illallah telah membongkar mentalitas dan kejiwaan setiap manusia, dari penghambaan kepada sesama manusia, penghambaan kepada benda-benda, menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Inilah kunci pembalikan yang terjadi pada individu dan masyarakat. Pengha,mbaan kepada benda-benda telah menciptakan insan menjadi hina dan tiada berharga, mengakibatkan insan menjadi kehilangan harkat kemanusiaannya.
b. Perubahan Sosial
Dalam konteks sosial, sanggup kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masyarakat paganis penyembah berhala di masa Nabi dibangkitkan. Di masa jahiliyah, mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain, saling merampas hak, pencurian dan perampokan merajalela, gemar melaksanakan pembunuhan terhadap belum dewasa perempuan, perzinahan dan mabuk-mabukan menjadi tradisi yng berkembang luas. Setelah mereka dicelup dalam shibghah Islam, terjadilan pembalikan yang totalitas.
Masyarakat Islam yang terbentuk sesudah diutusnya Nabi saw, diliputi oleh cinta dan kasinh sayang sesama mereka, saling menjaga hak, menjaga martabat kemanusiaan, mengangkat dan memperlihatkan penghormatan kepada perempuan yang semula dirensdahkan, dan mereka tunduk kepada hukum Allah Ta’ala dalam segala aspeknya. Tradisi minum khamr yang selama bertahun-tahun menjadi kebiasaan hidup masyarakat jahiliyah, masih terbawa pada sebagian masyarakat Islam. Nabun begitu turun ayat yang melarang minum khamr, serentak masyarakat Islam mkeninggalkannya, tanpa ada yang membantah dan melanggar.
Anas bin Malik, seorang budak dari Abu Thalhah, dikala itu sedang melayani tamu-tamu tuannya, di antaranya ada Ubay bin Ka'ab, Suhail bin Baidha', Abu Ubaidah dan lain-lain. Tiba-tiba ada yang mengabarkan bahwa telah turun ayat yang mengharamkan minum khamr. Saat itu pula para sobat yang memegang botol minuman pribadi memecahkannya, yang sudah melekatkan gelas di bibirnya pribadi membuangnya dan yang telah terlanjur meminum, memasukkan jari tangannya ke dalam ekspresi semoga sanggup memuntahkan kembali.
Simpanan-simpanan khamr yang ada di rumah pribadi dibuang di jalan-jalan. Madinah laksana banjir khamr. Mereka ke luar rumah dan berteriak, "Kami tinggalkan ya Rabbana! Kami tinggalkan ya Rabbana!”
Kaisaan, seorang sobat pedagang khamr tiba dari negeri Syam sambil membawa khamr dalam beberapa kantong kulit untuk dagangan. Dia menghadap Rasulullah saw sambil membawa khamrnya.
"Ya Rasulullah, saya tiba membawa untukmu minuman yang lezat."
Jawab Rasulullah Saw, "Ya Kaisaan, khamr telah diharamkan sepeninggalmu."
"Apa boleh saya jual, ya Rasulullah?" tanya Kaisaan. "Ia telah diharamkan diminum dan diharamkan untuk diambil harganya," jawab Rasulullah saw.
Segera Kaisaan ke luar mengambil kantong-kantong khamr dagangannya dan ditendangnya kuat-kuat hingga hancur berantakan.
"Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menjadikan permusuhan dan kebencian di antara kau karena (meminum) khamr dan berjodi itu, dan menghalangi kau dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kau (dari pekerjaan-pekerjaan itu)" (Al Maidah: 91).
Dengan pengumuman itu orang-orang yang semula di tangannya masih memegang botol dan gelas berisi minuman keras segera membuangnya; yang di dalam mulutnya ada seteguk arak segera memuntahkannya; yang masih menyimpan persediaan arak di rumah-rumahnya segera mengambil untuk membuangnya. Semua orang berseru, "Ya Rabbi, kami berhenti!" sebagai tanggapan atas perintah Allah: "Maka berhentilah kau (dari mengerjakan pekerjaan itu)" (Al Maidah: 91).
Demikianlah perubahan dan pembalikan total terjadi pada masyarakat sesudah mengikrarkna kalimat syahadat. Mereka gampang mendapatkan dan melaksanakan hukum yang Allah berikan, tanpa tawar menawar, tanpa keberatan dan tanpa penolakan.
4. Haqiqatu Da’watir Rasul (hakikat dakwah Rasul)
Setiap Nabi dan Rasul senantiasa menyeru kepada pemurnian tauhid. Mereka mengajak insan hanya menyembah kepada Allah dengan mengingkari thaghut. Nabi saw diutus oleh Allah untuk menjadi da’i yang mengajak insan kepada tauhid. Firman Allah:
“Hai Nabi, sebetulnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar bangga dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi da’i (penyeru) kepada (agama) Allah dengan idzinNya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi” (Al Ahzab 33 : 45 - 46).
Salah satu misi kerasulan sebagaimana isu ayat di atas yaitu da’iyan ilallah sebagai da’i yang menyeru ke jalan Allah. Dakwah hanyalah berorientasi mengajak insan semoga menyembah kepada Allah semata sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Bagi tiap-tiap umat Kami telah memutuskan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kau dalam urusan (syariat) ini, dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kau benar-benar berada pada jalan yang lurus” (Al Haj 22 : 67).
Ayat di atas memakai fi’il amr (kata kerja perintah) wad’u ila rabbika, serulah kepada Tuhanmu. Tujuan utama dakwah telah ditetapkan dengan tegas oleh Allah dengan rumusan ilallah atau ila rabbika. Dalam ayat yang lain Allah telah berfirman :
“Dan serulah mereka kepada Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kau termasuk orang-orang yang musyrik” (Al Qashash 28 : 87).
Perintah berdakwah mengajak insan ila rabbika, kepada Tuhanmu, dikaitkan pribadi dengan larangan syirik. Hal ini semakin memperjelas rumusan tujuan utama dalam dakwah, yakni semata-mata mengajak insan kepada Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apapun. Allah juga telah berfirman :
“Katakanlah : Sesungguhnya saya hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepadaNya saya seru (manusia) dan hanya kepadaNya saya kembali” (Ar Ra’du 13 : 36).
Ilaihi ad’u kepada Allah sajalah saya menyeru manusia, wa ilaihi ma’ab dan hanya kepada Allah saja saya kembali. Proses dakwah harus senantiasa terjaga otensitasnya, menyeru kepada Allah, berpaling dari selain Allah. Pada pecahan lain, Allah menggambarkan tujuan utama dakwah sebagai ila sabili rabbika, sebagaimana firmanNya :
“Serulah insan ke jalan Tuhanmu dengan pesan tersirat dan pelajaran yang baik” (An Nahl 16 :125).
Menyeru insan menuju kepada jalan Tuhan, bukan jalan-jalan yang lain, alasannya yaitu hanya jalan Allah yang lurus. Allah menghendaki umat dibawa menuju jalan yang satu, jalan Allah, jalan ketuhanan, yang akan menyelamatkan manusia.
Tujuan dakwah yang dilakukan oleh setiap Rasul Allah dari zaman ke zaman senantiasa sama, yakni mengajak insan kepada Allah, tak ada tujuan yang lain. Mereka mengajak umatnya semoga menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi ilah selain Allah. Nabi Nuh as mengajak umatnya menyembah Allah :
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya kemudian ia berkata : Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain Ia (Al A’raf 7 : 59).
Demikian pula Nabi Hud as, dia menyeru umatnya menuju tauhid, sebagaimana firman Allah :
“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud. Ia berkata : Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain Ia” (Hud 11 : 50).
Nabi Shalih as mengajak kaum Tsamud menyembah kepada Allah semata dengan meninggalkan sesembahan selainNya (Al A’raf 7 : 73). Nabi Syu’aib menyerukan hal yang serupa kepada penduduk Madyan (Al A’raf 7 : 85). Pendek kata, seluruh Rasul telah diberikan misi yang sama kepada umatnya masing-masing, sebagaimana telah difirmankan Allah :
“Dan sebetulnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu” (An Nahl 16 : 36).
Dengan demikian seluruh acara dakwah dari masa ke masa hingga kiamat tiba, telah disatukan oleh kesatuan tujuan utama, yaitu mengajak insan kepada Allah dengan menyembahNya, tanpa mempersekutukan dengan ilah-ilah yang lain.
5. Laha Fadha’il Azhimah (keutamaan esensial dari syahadat)
Terdapat sejumlah keutamaan yang amat mendasar pada kalimat syahadat yang diikrarkan setiap muslim. Di antara keutamaan yang mendasar pada kalimat syahadat adalah:
- Kalimat syahadat memperlihatkan kejelasan identitas
Seseorang yang telah mengikrarkan syahadat akan mempunyai identitas dan abjad diri yang terang dan kokoh. Ia menjadi pribadi yang tamayyuz (spesifik) dan segera terbedakan dengan yang lain. Seseorang yang berikrar syahadat akan tercelup dalam warna ketuhanan dan kenabian dalam segala acara hidupnya.
Keimanan yang diikrarkan dengan kalimat syahadat akan membuahkan abjad diri, sebagaimana manusia dengan beranekan ragam ideologinya akan mempunyai batas-batas identitas yang terang dan membedakan mereka dari yang lain. Seseorang yang terwarnai dalam ideologi kapitalisme akan melahirkan pandangan, sikap hidup dan tingkah laris yang sesuai dengan prinsip kebendaan. Demikian pula jikalau seseorang terwarnai dalam ideologi sosialisme atau komunisme, akan melahirkan pandangan, sikap hidup dan tingkah laris yang khas sesuai tuntutan ideologi tersebut.
Kalimat syahadat melahirkan pandangan, sikap hidup dan sikap yang Rabbani. Cara berpikir, sudut pandang, cara merasakan, cara menikmati, hingga pada hal-hal simpel aplikatif dalam kehidupan menyerupai perkataan, perbuatan, penampilan, dan selera, akan terwarnai dalam keimanan kepada Allah. Inilah identitas yang sangtat terang dan kiuat pada setiap orang yangmengikrarkan syahadat.
- Kalimat syahadat mendatangkan kebahagiaan hakiki
Kalimat syahadat akan memperlihatkan kebahagiaan hakiki kepada setisaap orang yang mengikrarkannya. Kebahagiaan yaitu duduk perkara hati dan cara mencicipi kehidunpan. Tanpa dibimbing oleh iman yang terungkap dalam ikrar syahadat, seseorang akan cenderung mempunyai hati yang tidak mengenal batas kebutuhan, perasaannya serba tidak puas dengan apa yang dimiliki, merasa serba kurang dengan banyak sekali kemelimpahan harta dan sarana yang ada.
Syaikhul Islam Ibn u Taymiyah berkata, “Tidak ada kebahagiaan dan kenikmatan tepat bagi hati kecuali dalam mahabatullah (mencintai Allah) dan taqarub kepada Allah dengan hal-hal yang dicintaiNya. Mahabatullah mustahil terwujud kecuali dengan berpaling dari yang dicintai selainNya. Inilah hakikat Laa ilaha illallah. Ia yaitu agama Inbrahim al Khalil, juga agama semua Nabi dan Rasul yang ada”.
Demikianlah kebahagiaan hakiki menjadi milik orang yang berikrar syahadat, karena mereka telah menentukan jalan yang benar. Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku yaitu orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah secara tulus tulus dari hatinya” (Shahih Muslim).
- Kalimat syahadat menghantarkan umat menuju kemenangan
Jika kita tengok sejarah kenabian, faktor apakah yang mengakibatkan kaum muslimin generasi pertama mencapai kemenangan dakwah? Sejumlah faktor sanggup kita kemukakan, di antaranya soliditas umat Islam, kepemimpinan yang tangguh, ketaatan dan loyalitas kepada pimpinan, semangat juang yang tinggi, semangat pengurbanan dan kekuatan tekad. Akan tetapi, landasan apakah yang menghantarkan kaum muslimin generasi awal mempunyai sikap-sikap menyerupai itu?
Tidak ada tanggapan lain, kecuali dampak kalimat syahadat dalam jiwa mereka. Ikrar setia kepada Allah dan Rasul telah menciptakan mereka merelakan segala yang dimiliki untuk diberikan hanya kepada Allah. Harta, tenaga, waktu bahkan jiwa telah mereka serahkan sepenuhnya untuk Allah. Lihatlah ketangguhan dan kegigihan para sobat dalam memperjuangkan kebenaran Islam. Tanpa ragu mereka melaksanakan pembelaan terhadap kebenaran hingga kematian menjemput mereka.
Sebaliknya, jikalau umat Islam tidak lagi memegangi kalimat syahadat yang terjadi yaitu kehinaan menimpa mereka. Musuh-musuh akan bergembira melihat kelemahan kaum muslimin. Terjadilah degradasi moral, kerusakan akhlaq dalam banyak sekali segi kehidupan, sehingga tidak ada lagi akad terhadap Allah dan rasulNya. Dalam kondisi inilah kaum muslimin senantiasa mencapai klimaks kehancuran dan kelemahannya.
- Kalimat syahadat menghantarkan kepada surga
Rasul mulia saw dalam banyak keterangan memperlihatkan kabar wacana keutamaan kalimat syahadat. Ornag-orang yang berikrar syahadat akan mencapai surga. Perhatikan sabda rasul saw berikut:
“Barang siapa meninggal sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, ia masuk surga” (Shahih Muslim).
Abu Hurairah bercerita bahwa Rasul saw telah bersabda:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa saya yaitu utusan Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu Allah dengan kedua kaalimat itu dan tidak ragu-ragu dengan keduanya, kecuali masuk surga” (Shahih Muslim).
Demikian juga Nasbi saw bersabda:
“Siapa saja yang engkau temui di balik tembok ini bersaksibahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah dengan keyakinan hati, sampaikan kabar bangga kepdanya ngan surga” (Shahih Muslim).
Cukuplah keterangan-keterangan di atas memperlihatkan sedemikian besar keutamaan kalimat syahadat.
Sumber http://frequencia89.blogspot.com