Showing posts with label islami. Show all posts
Showing posts with label islami. Show all posts

Monday, September 17, 2018

√ Al Walaa’ Wal Baraa’

Objektif

1. Memahami bahawa Laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah ialah dasar seluruh aliran Islam.
2. Menyedari bahawa Laa ilaha illa Allah mengandungi erti menolak segala sembilan selain Allah dan hanya mendapatkan Allah sahaja sebagai satu-satunya sembahan.
3. Menyedari bahawa memperlihatkan loyaliti kepada Allah dan Rasul dengan beribadah yang tulus kepada Allah serta mengikut sunnah ialah wajib.

Sinopsis

Kalimat laa ilaha illa Allah terdiri dari 3 jenis karakter (alif, lam dan ha) serta 4 kata (Laa, ilaha, illa, Allah) tetapi mengandung pengertian yang meliputi seluruh aliran Islam. Keberadaan kata ini ialah Wala terhadap Allah dan Bara terhadap selain Allah. Bagi muslim perilaku ini merupakan perilaku hidup yang inti dan warisan para nabi. Penyimpangan dari perilaku ini tergolong dosa besar yang tidak diampuni (syirik). Dengan perilaku Wala dan Bara seorang mu’min akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah di setiap perbuatannya. Untuk memahami wala dan bara ini kita perlu mengkaji unsur-unsur kalimatnya, menyerupai laa, ilaha, illa dan sebagainya. Kalimah Muhammad Rasulullah merupakan bahagian kedua dari syahadatain. Didalamnya terkandung suatu akreditasi wacana kerasulan Muhammad SAW. Ertinya di dalam rangka mengamalkan Wala dan Bara yang terkandung di dalam Laa ilaha illa Allah maka mesti mengikuti petunjuk dan jejak langkah Muhammad SAW. Beliau mendapatkan ratifikasi Ilahi untuk memperlihatkan kebenaran dan melaksanakannya. Maka dia merupakan teladan pelaksanaan Wala dan Bara.

Hadits :
Rasulullah saw : “ Innamaa uriidu an taquula kalimatan waahidatan tantahu bihar ruumu wal farsu “
Abu Jahl : “ Wallaahi wa ‘asyru kalimaatin “
Rasulullad saw : “Innamaa uriidu an taquula Laa ilaaha illallaahu “
Abu Jahl : ”Haadzaa amrun takruhumul muluuku”


◊ Laa ilaaha illallaah ialah sebuah kalimat yang menjadi inti aliran semua nabi & rasul utusan Allah ialah mengingkari sembahan selain Allah dan hanya mendapatkan Allah sahaja sebagai satu-satunya sembahan ( 21:25, 16:36, 7:59,65,73,85,158 )

◊ 21 : 25 “ Dan tidak Kami utus Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepada-Nya bahwa : Tidak ada Tuhan selain Aku, lantaran itu sembahlah Aku (Wamaa arsalnaa min qablika min rasuulin illaa nuhii ilaihi : annahu laa ilaaha illaa ana fa’buduun) “.

◊ 16 : 36 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat ( wa laqad ba’atsnaa fii kulli ummatin rasuulan ) (untuk menyerukan) sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thagut itu ( ani’budullaha wajtanibuth thaaghuuta ) maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kau di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) “.

◊ 7 : 59 “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya kemudian ia berkata : ‘wahai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Nya ( yaa qaumi’budullaaha maa lakum min ilaahin ghairuhuu ), sesungguhnya ;kalau kau tidak menyembah Allah; saya takut kau akan ditimpa azab hari yang besar;kiamat; “.

◊ 7 : 65 “Dan ;Kami telah mengutus; kepada kaum ‘Aad, saudara mereka : Hud, ia berkata : ‘hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Nya ( yaa qaumi’budullaaha maa lakum min ilaahin ghairuhuu ), Maka mengapa kau tidak bertakwa kepadaNya ?”.

◊ 7 : 73 “Dan ;Kami telah mengutus; kepada kaum Tsamud, saudara mereka : Shaleh, ia berkata : ‘hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Nya ( yaa qaumi’budullaaha maa lakum min ilaahin ghairuhuu ). Sesungguhnya telah tiba bukti yang faktual kepadamu dari TuhanMu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kau mengganggunya dengan gangguan apapun ;yang karenanya; kau akan ditimpa siksaan yang pedih.”

◊ 7 : 85 “Dan ;Kami telah mengutus; kepada penduduk Madyan, saudara mereka : Syu’aib, ia berkata : ‘hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Nya ( yaa qaumi’budullaaha maa lakum min ilaahin ghairuhuu ). Sesungguhnya telah tiba bukti yang faktual kepadamu dari TuhanMu. Maka sempurnakanlah dosis & timbangan dan janganlah kau kurangkan bagi insan barang-barang dosis & timbangannya dan janganlah kau membuat kerusakan dimuka bumi setelah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jikalau betul-betul kau oprang-orang yang beriman “.

◊ 7 : 158 ‘ Katakanlah : ‘Hai manusia, sesungguhnya saya ialah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit & bumi, tidak ada Tuhan selain Dia, yang menghidupkan & mematikan. (Qul yaa ayyuhan-naasu innii rasuulullaahi ilaikum jami’an, alladazii lahuu mulkus-samaawaati wal-ardhi, laa illaahuwa yuhyii wa yumiitu) Karena itu berimanlah kau kepada Allah & Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kau menerima petunjuk ‘

◊ Makara pada dasarnya ialah mengesakan Allah, mentauhid kan Allah, memusnahkan kesmusyrikan, satu-satunya dosa yang tidak diampuni Allah (4:48, 116, 5:76) ancaman menyimpang dari Tauhid .

◊ 5 : 76 “Katakanlah :,mengapa kau menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak sanggup memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat ? ( Qul ata’buduuna min duunillaahi maa laa yamliku lakum dharran wa laa naf’an ). Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

◊ 4 : 48 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik ( innallaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi ) dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar “.

◊ 4 : 116 “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan ;sesuatu; dengan Dia ( innallaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi ) dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya ( wa yaghfiru maa duuna dzalika li man yasyaa-u ). Barangsiapa yang mempersekutukan ;sesuatu; dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya “.


◊ Hadits. Barang-siapa yang mengasihi lantaran Allah,membenci lantaran Allah, memberi lantaran Allah dan melarang lantaran Allah, maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman.

◊ Kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ terdiri dari 3 jenis karakter saja (alif, lam, ha) dan 4 kata (laa, ilah, illa, Allah), tetapi mengandung pengertian yang meliputi seluruh aliran Islam, oleh lantaran itu Allah menyuruh kita untuk memahaminya (47:19) - dosa-dosa insan diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid.

 47 : 19 “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan ;yang haq; melainkan Allah ( fa’lam annahuu laa ilaha illallaahi ) dan mohonlah ampunan bagi dosamu ( wastaghfiru lidzambika ) dan bagi (dosa) orang-orang mu’min pria dan perempuan. Dan Allah mengetahui kawasan kau berusaha dan kawasan tinggalmu “.

◊ Kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ bukanlah formasi ‘mantra’ yang memiliki kekuatan ghaib tertentu, tetapi ia ialah sebuah pernyataan, sebuah komitmen !!
◊ Laa kata penolakan ( kalimatun nafii ) yang artinya : meniadakan, menolak & menafikan semua hal yang ada dibelakang kata tsb
◊ Ilaaha kata yang ditolak ( kalimatul manfii ) yang artinya : seluruh bentuk ‘ilaah’ atau sembahan yang ditolak oleh kata Laa
◊ Illa kata peneguhan ( kalimatul itsbaatu ) yang artinya : pengecualian yang bermakna meneguhkan & menguatkan kata di belakangnya sebagai satu-satunya yang tidak ditolak
◊ Allah kata yang diteguhkan ( kalimatul mutsbit ) yang artinya : bahwa Allah sebagi satu-satunya yang dikecualikan oleh kata ‘ illa’ , sehingga Dia-lah satu-satunya ‘ilaah’ .

◊ Dua kata pertama : ‘ Laa Ilaaha ‘ = tidak ada ‘ilaah’ yang bermakna sebuah perilaku Baraa’ yang artinya membebaskan diri daripada segala bentuk sembahan. ‘melepaskan diri’ dari segala bentuk ikatan sembahan / pengabdian. Pembebasan ini berarti : mengingkari, memisahkan diri, membenci, memusuhi dan memerangi.
Melepaskan diri itu dalam bentuk perilaku :
1. al kufru : pengingkaran,
2. al ‘adaawatu : permusuhan,
3. al mufaashalatu : menetapkan hubungan,
4. al bughdhu : kebencian.
Keempat masalah ini ditunjukkan pada segala ilah selain Allah baik berupa sistem, konsep maupun pelaksana.

◊ Sikap bara’ berarti melepaskan diri menyerupai yang dilakukan oleh Rasul terhadap orang-orang kafir dan musyrik.
9:1. (Inilah pernyataan) pemutusan perhubungan daripada Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kau (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).

◊ Sikap bara’ ialah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.
9:7. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kau ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kau dalam beberapa urusan benar-benarlah kau akan menerima kesusahan tetapi Allah mengakibatkan kau cinta kepada keimanan dan mengakibatkan doktrin itu indah dalam hatimu serta mengakibatkan kau benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

◊ Ke-empat perilaku ini ditujukan kepada semua ‘ilaah’ selain Allah, segala bentuk berhala : patung, konsep atau thagut. ( 60:4 ) teladan perilaku bara yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya terhadap kaumnya. Mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memusuhi. (58:22 ) perilaku bara sanggup diartikan juga memerangi dan memusuhi meskipun terhadap familinya. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya, Umar bin Khattab membunuh bapa saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang masih musyrik. Semua ini berlangsung di medan perang.

◊ 60 : 4 “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia , ketika mereka berkata kepada kaum mereka (Qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibraahiima wal-ladziina ma’ahuu idz qaaluu li qaumihim): ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kau dan dari apa yang akmu sembah selain Allah, kami ingkari ;kekafiran; mu dan telah faktual antara kami dan kau permusuhan dan kebencian buat selam-lamnya hingga kau beriman kepada Allah saja. ( inna bara-aa-u minkum wa mimmaa ta’buduuna min duunillaahi kafarnaa bikum wa badaa bainanaa wa bainakumul ‘adaawatu wal baghdhaa-u abadan hatta tu’-minuu billahi wahdahu ). Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : sesungguhnya saya akan memohonkan ampunan bagi kau dan saya tiada sanggup menolak sesuatupun dari kau ;siksaan; Allah. ;Ibrahim berkata; ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali “.

◊ Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala sembahan kaumnya 26:77. “ lantaran sesungguhnya apa yang kau sembah itu ialah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, “.

◊ 58 : 22 “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akherat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah & RasulNya ( laa tajidu qauman tu’-minuuna billaahi wal yaumil aakhiiri yuwaadduuna man haaddallaaha wa rasuulahu), sekalipun orang-orang itu bapak-bapaknya atau anak-anaknya atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka ( walau kaanuu aabaa-ahum wa abnaa-ahum wa ikhwaanahum au ‘asyiiratahum ) . Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka & menguatkan mereka dengan sumbangan yang tiba daripadaNya (Ulaaika kataba fii quluubihimul iimaanaa wa ayyadahum bi ruuhin-minhu). Dan dimasukkanNya mereka ke dalam nirwana yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka abadi didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap ;limpahan rahmat;Nya. Mereka itulah golongan Allah ( ulaa-ika hizbullaahi ), ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung “.


◊ 9 : 1 “ (Inilah pernyataan) pemutusan perhubungan daripada Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kau (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) ( baraa-atum minallahi wa rasulii ilal-ladziina ‘aahadtum minal musyrikiina )”.

◊ 2 : 167 “ Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti ; ‘seandainya kami sanggup kembali (ke dunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’ (Wa qaalal-ladziinat taba’uu lau anna lanaa karratan fanatabarra-a minhum kamaa tabarra-uu minnaa). Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka “.


◊ Dalam tataran aplikatif, perilaku baraa’ itu diwujudkan dengan ‘ Al Hadmu ‘ atau upaya penghancuran, pemusnahan terhadap segala bentuk dedikasi terhadap tandingan-tandingan Allah.

 21 : 56-58 “Ibrahim berkata : sebenarnya Tuhan kau ialah Tuhan langit & bumi yang telah menciptakannya, dan saya termasuk orang-orang yang sanggup memperlihatkan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya saya akan melaksanakan budi bulus terhadap berhala-berhalamu ( wa tallaahi la-akiidanna ash-naamakum ) setelah kau pergi meninggalkannya Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain (faja’alahum judzaadzan illaa kabiiran lahum) semoga mereka kembali ;untuk bertanya; kepadanya “.

 Catatan : Nabi Ibrahim as, berusaha menghancurkan berhala-berhala yang membodohkan masyarakatnya dan inilah cara terbaik untuk situasi ketika itu, akan tetapi Rasulullah saw membersihkan aqidah & fikrah umatnya dahulu sebelum menghancurkan 360 berhala di sekitar ka’bah pada masa fathu mekkah.

◊ Dua kata berikutnya : ‘ Illa Allah ‘ Illallaah ‘ yang berarti pengukuhan terhadap ‘waliyatullah’ / kepemimpinan Allah dan memperlihatkan loyalitas secara total kepada Allah saja Al Walaa’ .

Al Wala (loyaliti)
Kalimat Illa Allah berarti pengukuhan terhadap wilayatulLlah (kepemimpinan Allah). Artinya : selalu mentaati, selalu mendekatkan diri, mengasihi sepenuh hati, dan membela, mendukung dan menolong. Semua ini ditujukan kepada Allah dan segala yang diizinkan Allah menyerupai Rasul dan orang yang beriman.
Dalil :
• Q.5:7, 2:285, Iman terhadap kalimat suci ini berarti bersedia mendengar dan taat.
• Q.10:61,62, jaminan Allah terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah lantaran selalu bersahabat kepada Nya.
• Q.2:165, wala kepada Allah mengakibatkan Allah sangat dicintai, lihat 9:24.
• Q.61:14, sebagai bukti dari wala ialah selalu siap mendukung atau menolong dien Allah.

◊ Memberikan walaa’ atau loyalitas itu ialah dengan perilaku :
1. ath thaa’atu : ta’at, ( 7:2, 59:7, 33:36, 4:59, 5:7 )

◊ 7 : 2 “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu ( ittabi’uu maa unzila ilaikum min rabbikum ) dan janganlah kau mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya ( wa laa tattabi’uu min duunihi auliyaa-a ). Amat sedikitlah kau mengambil pelajaran ;daripadanya; “.

◊ 59 : 7 “Apa saja harta rampasan perang ;fa-I; yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari ppenduduk kota-kota maka ialah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, bawah umur yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah , dan bertakwalah kepadaAllah ( wa maa aataa kumur rasuulu fa khudzuuhu wa maa nahaakum ‘anhu fantahuu wat taqullaha ), sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya “.

◊ 33 : 36 “Dan tidaklah patut bagi pria yang mu’min dan tidak ;pula; bagi wanita yang mu’min apabila Allah dan Rasul_nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan ;yang lain; wacana urusan mereka ( wa maa kaana limu’-minin wa laa mu’-minatin idzaa qadhaallaahu wa rasuuluhuu amran an yakuuna lahumul khiyaaratu min amrihim ) . Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh lah dia telah sesat, sesat yang faktual “.

◊ 4 : 59 “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul;Nya; dan ulil amri di antara kau ( yaa ayyuhalladziina aamanuu athii’ullaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri minkum ). Kemudian jikalau kau berlainan pendapat wacana sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah ;al qur’an; dan Rasul ;sunnahnya; jikalau kau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian ( fain tanaza’tum fii syai-in farudduuhu ilallaahi wa rasuulihi in kuntum tu’-minuuna billaahi wal yaumil aakhiri ). Yang demikian itu lebih utama ;bagimu; dan lebih baik akhirnya “.

◊ 5 : 7 “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu ( wadzkuruu ni’matallahi ‘alaikum ) dan perjanjianNya yang telah di-ikat-Nya dengan kau ( wa miitsaaqahul-ladzii waatsaqakum bihi ), ketika kau menyampaikan : kami dengar & kami taati ( idz qultum sami’naa wa atha’naa ). Dan bertawakal lah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui :isi hatimu; “

2. an nushratu : membela, mendukung, menolong ( 47:7, 61:14, 22:78 )

◊ 47 : 7 “Hai orang-orang beriman jikalau kau menolong ;agama; Allah pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. ( yaa ayyuhalladziina aamanuu in tanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum )

◊ 61 : 14 “ Hai orang-orang beriman jadilah kau penolong-penolong ;agama; Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia : siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku ;untuk menegakkan agama; Allah ?. Pengikut-pengikut yang setia itu berkata : kamilah penolong-penolong agama Allah. Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan ;yang lain; kafir, maka Kammi berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang menang “.

◊ 22 : 78 “ Dan berjihadlah kau di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya ( wa jaahiduu fillaahi haqqa jihaadihi ). Dia telah menentukan kau ( huwajtabaakum ) dan Dia sekali-kali tidak mengakibatkan untuk kau dalam agama suatu kesempitan ( wa maa ja’alaa ‘alaikum fiddiini min haraj ). ;Ikutilah; agama orang tuamu, Ibrahim. Dia ;Allah: telah menamai kau sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan ;begitu pula; dalam ;al qur’an; ini ( huwa sammaakumul muslimiina min qablu wa fii haadzaa ) supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kau semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kau pada tali Allah. Dia ialah pelindungmu maka Dia-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong “.

3. al qurbu : mendekatkan diri ( 2:186)

• 2 : 186 “Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu wacana Aku, maka ;jawablah; bergotong-royong Aku ialah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu ( ujiibu da’watad daa’i idzaa da’aani ), maka hendaklah mereka itu memenuhi ;segala perintah; Ku ( fal yastajiibuulii ) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu ( wal yu’ minuubii ) semoga mereka selalu berada dalam kebenaran “.

4. al mahabbatu : mengasihi sepenuh hati (2:165, 9:24, 3:31)

◊ 2 : 165 “Dan diantara insan ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mengasihi Allah ( yuhibbuunahum kahubbillaahi ). Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah ( asyaddu hubban lillaahi ). Dan jikalau seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa;pada hari kiamat; bahwaq kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya ( annal quwwata lillaahi jamii’an ) dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya ;niscaya mereka menyesal;’.

◊ 9 : 24 ‘ Katakanlah : jikalau bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kau usahakan, perniagaan yang kau khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah kawasan tinggal yang kau sukai ( qul in kaanaa aabaa-ukum wa abnaa-ukum wa ikhwaanukum wa azwaajukum wa ‘asyiiratukum wa amwaaluniqtumuuha wa tijaaratun takhsyauna kasaadahaa wa masaakinu tardhaunahaa ), ialah lebih kau cintai daripada Allah dan RasulNya dan ;dari; berjihad di jalanNya ( ahabba ilaikum minallahi wa rasuulihi wa jihaadin fii sabiilihi ) maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusanNya ( fa tarabbashuu hattaa ya’-tiyallaahu bi amrihi ) , dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’.

◊ 3 : 31 “Katakanlah : jikalau kau ;benar-benar; mengasihi Allah ikutilah saya ( qul in kuntum tuhibbuunallaha fattabi’uunii ) pasti Allah mengasihi & mengampuni dosa-dosamu ( yuhbibkumullahu wa yaghfirlakum dzunuubakum ). Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.


◊ Ke-empat perilaku ( at-tha’atu, an-nushratu, al qurbu, al mahabbatu) ini ditujukan sepenuhnya hanya kepada Allah dan kepada segal sesuatu yang diperkenankan oleh Allah, mis : kepada Rasul dan orang-orang yang beriman.

◊ Dalam tataran aplikatif, perilaku walaa’ atau loyalitas itu melahirkan sebuah upaya “ Al Binaa’ “ atau membangun segala sesuatu yang akan menguatkan dedikasi kepada Allah. Membangun system dan aktifitas yang menyeluruh baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat maupun negara ( 8:39 “…hataa laa takuuna fitnah, wa yakuunad-diinu kulluhuu lillaah)
Al Bina (membangun).
Sikap wala beserta segala akhirnya merupakan perilaku mukmin membangun kekerabatan yang besar lengan berkuasa dengan Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga berarti membangun sistem dan aktiviti Islam yang menyeluruh pada diri, keluarga, maupun masyarakat.
• Q.22:41, ciri mukmin ialah senantiasa menegakkan agama Allah.
• Q.24:55, posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi insan yang membangun dienullah.
• Q.22:78, jihad di jalan Allah dengan sebenarnya jihad ialah upaya yang tepat membangun dienullah.

◊ Oleh lantaran itu, ciri seorang mu’min sejati ialah : senantiasa berusaha menegakkan agama Allah terhadap dirinya, lingkungannya dan alam semesta ini (22:41)

 22 : 41 “`(Yaitu) orang-orang yang jikalau Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ( Alladziina in makkannahum fil ardhi ), pasti mereka mendirikan shalat ( aqaamush shalaata ), menunaikan zakat ( wa aatuz zakaata ), menyuruh berbuat yang ma’ruf & mencegah dari perbuatan yang munkar ( wa amaruu bil ma’ruufi wa nahau ‘anil munkari ) dan kepada Allah-lah kembali segala urusan ( wa lillaahi ‘aaqibatul umuuri ) “.

◊ Sehingga bentuk dedikasi yang tepat kepada Allah atau ‘ Al Ikhlash ’ hanya sanggup dicapai dengan perilaku “ baraa’ “ terhadap selain Allah dan memperlihatkan walaa’ atau loyalitas total kepada Allah ( 98:5, 39:11,12,14 )

◊ 98 : 5 “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus ( wa maa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahud diina hunafaa-a ), dan supaya meeka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus “.

◊ 39 : 11 “Katakanlah : sesungguhnya saya diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama ( qul innii umirtu an a’-budallaaha mukhlishal lahud diina )“.

◊ 39 : 12 “Dan saya diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (wa umirtu li an-akuuna awwalal muslimiin)“.

◊ 39 : 14 “Katakanlah : hanya Allah saja yang saya sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam ;menjalankan; agamaku (qul illaaha a’-budu mukhlishal-lahuu diinii ) “.


 5 : 78-79 “ Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani israil dengan ekspresi Daud dan Isa putera Maryam (Lu’inal-ladziina kafaruu min banii israaiila ‘ala lisaani Daawuda wa ‘Iisa-bni Maryam). Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka & selalu melampaui batas (Dzaalika bimaa ‘ashauw-wa kaanuu ya’taduun) Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat ( Kaanuu laa yatanaa hauna ‘an munkarin fa’aluuhu ). Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat ( labi‘-sa maa kaanuu yaf’aluuna )“

 4 : 95 “ Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak memiliki uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka & jiwanya (Laa yastawiil-qaa’iduuna minal-mu’-miniina ghairu ulidh-dharari wal-mujaahiduuna fii sabiilillaahi bi amwaalihim wa anfusihi ). Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta & jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat ( fadh-dhalallaahul mujaahidiina bi amwaalihim wa anfusihim ‘alal-qaa’idiina darajah ). Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar ( wa fadh-dhalallahul mujaahidiina ‘alal qaa’idiina ajran ‘adzhiima )“

Ikhlas.
Keikhlasan iaitu dedikasi yang murni hanya sanggup dicapai dengan perilaku bara terhadap selain Allah dan memperlihatkan wala sepenuhnya kepada Allah.
• Q.98:5, mukmin diperintah berlaku tulus dalam melaksanakan ibadah.
• Q.39:11,14, perilaku tulus ialah inti aliran Islam dan pengertian dari Laa ilaha illa Allah.


1. Muhammad Rasulullah.

Konsep Wala dan Bara ditentukan dalam bentuk :
a. Allah sebagai sumber.
Allah sebagai sumber wala, dimana loyaliti mutlak hanya milik Allah dan loyaliti lainnya mesti dengan izin Allah.
b. Rasul sebagai cara (kayfiyat).
Pelaksanaan Wala terhadap Allah dan Bara kepada selain Allah mengikuti cara Rasul.
c. Mukmin sebagai pelaksana.
Pelaksana Wala dan Bara ialah orang mukmin yang telah diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.

• Dalam pelasaksanaan Bara, Rasulullah memisahkan insan atas muslim dan kafir. Hizbullah dengan Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin ialah mereka yang mengimani Laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah sedangkan orang kafir ialah mereka yang mengingkari salah satu dari dua kalimah syahadat atau kedua-duanya.
• Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah secara pesan yang tersirat dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak, kemudian menghalangi jalan dakwah maka mereka boleh diperangi hingga mereka mengakui ketinggian kalimah Allah.
• Hubungan kekeluargaan menyerupai ayah, ibu, anak tetap diakui selama bukan dalam kemusyrikan atau maksiat terhadap Allah.
• Dengan demikian pelaksanaan Wala dan Bara telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Dalil :
• Q.5:55-56, Allah, Rasul dan orang-orang mukmin ialah wali orang yang beriman.
• Q.4:59, ketaatan diberikan hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dari kalangan mukmin.
• Q.5:56, orang-orang yang memperlihatkan wala kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin ialah Hizbullah (golongan Allah), lihat pula 58:22. Selain golongan ini ialah Hizbus Syaithan.
• Q.60:7-9, kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu. Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk rumahnya sebelum menerima izin dari Rasulullah, lihat pula 31:15.


Ringkasan Dalil :

• Laa ilaha illa Allah : (Laa) ialah perkataan penolakan, (ilaha) ialah yang ditolak.
• Al Baro’ (melepaskan diri) (60:4, 7:59, 65, 73, 85) :
• Mengingkari
• Membenci
• Memusuhi
• Memutus hubungan
• Menghancurkan
• Illa (melainkan) ialah ungkapan pengukuhan (isbat).
• Allah ialah yang dikukuhkan (diisbatkan).
• Al Wala’/loyaliti (7:196, 5:55, 4:59, 5:7, 47:7, 2:165, 3:31) ialah :
• Taat
• Mendekati
• Membela
• Mencintai
• Membangun
• Menghancurkan dan membangun ialah makna Ikhlas (98:5, 39:11,14).
• Muhammadu Rasulullah – Konsep Al Wala’ dan Al Barro’ :
• Allah ialah sumber nilainya (2:147, 7:2)
• Rasul ialah teladan pelaksanaannya (33:21, 59:7)
• Orang mukmin ialah pelaksananya (33:36, 35:32)
• Kaifiyat “Membina” dan “Menghancurkan” ialah dengan “ittiba’ (3:31).
Sumber http://frequencia89.blogspot.com

Friday, September 14, 2018

√ Rijalud-Da’Wah

رِجَالُ الدَّعْوَةِ
RIJALUD-DA’WAH

Oleh: Ahmad Madany

Jika kita membicarakan salah satu tokoh diantara tokoh ummat yang pernah hidup dalam perjalanan sejarah, kita akan menemukan persamaan antara tokoh yang satu dengan tokoh lainnya. Persamaan itu sanggup kit ambil titik temunya, mereka yaitu orang-orang yang memiliki:
1.Quwwatur-ruh
2.Quwwatul qalb.
Dengan kekuatan ini, berpengaruh pula segala hal lain yang mereka miliki.
Benar apa yang diungkapkan oleh Bisyr Al Khothib yang dikutip oleh Syekh Ahmad Rasyid dalam kitabnya, katanya: “Cukuplah bagimu, engkau melihat orang-orang yang telah mati yang ketika sejarah hidupnya dipelajari hati menjadi hidup, sebagaimana ada pula manusia-manusia yang hidup diantara kita yang dengan melihatnya hati kita menjadi mati”.
Rasulullah saw pernah bersabda dalam sebuah hadits shahih yang banyak dikutip dalam buku-buku sirah, ketika para sahabat menceritakan kepribadian Umar ra, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ (رواه أحمد والبخاري).
“Sesungguhnya pada setiap ummat ada orang yang mendapatkan wangsit (muhaddits). Sesungguhnya jikalau di dalam ummatku ada muhaddits, maka dia yaitu Umar”.
Jika kita membaca sejarah hidup Umar ra, kita akan menemukan bahwa dia yaitu orang yang mempunyai banyak keistimewaan. Salah satunya yaitu wangsit yang dimilikinya. Suatu ketika, ketika dia berdiri di mimbarnya, Allah memperlihatkan kepadanya perjalanan pertempuran antara Sariyyah dan Romawi, dari jarak ratusan, bahkan ribuan mil, Umar memerintahkan: “Wahai Sariyyah, berlindunglah ke balik gunung, berlindunglah ke gunung”. Para sahabat yang mendengar kebingungan, tapi diantara mereka tidak ada yang berprasangka bukan-bukan terhadap Umar. Ketika Sariyyah pulang dari pertempuran dengan membawa kemenangan, mereka bertanya: “Apakah kalian mendengat undangan Umar?”. Kata Sariyyah: “Kami mendengar dan kami mentaatinya”.
Dalam kesempatan lain, dalam kesendiriannya, Umar berkata: “Barang siapa dari keturunanku nanti mempunyai luka di wajahnya, dia akan meramaikan dunia dengan keadilannya”.
Ketika Umar bin Abdul Aziz lahir, di wajahnya tidak ada luka. Tapi ketika ia masih kecil, dia pernah terluka di wajahnya ketika sedang bermain-main.
Ini sekaligus sebagai bukti kebenaran Ilham Umar ra.
Ketika Abdul Aziz bin Marwan (Bapaknya Umar bin Abdul Aziz) melihat hal itu, ia mengatakan: “Kalau engkau yaitu orang yang diungkapkan oleh kakekmu dulu, engkaulah pemakmur dunia ini dengan keadilan”.
Kebenaran ini terbukti kemudian.
Tahun 99 H, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah. Meskipun ia hanya menjabat sebagai khalifah selama dua tahun lima bulan, namun hasil kekhalifahannya terlihat jelas.
Dalam kitab Hayatush-Shahabah disebutkan, ketika Umar menjadi khalifah, yaitu seorang cowok yang menjadi rakyatnya yang setiap shalat digoda oleh perempuan anggun untuk berbuat serong. Lama kelamaan ia termakan dan melaksanakan perbuatan serong. Ia menyesal dan kemudian meninggal. Ketika Umar tidak melihat cowok ini dalam jama’ah shalat, bertanyalah Umar perihal cowok ini. Diceritakanlah kisah perihal cowok itu. Karena kematiannya berada di daerah orang yang hanya cowok itu dan si wanita, segeralah cowok itu dikuburkan tanpa memberitahu orang lain. Ketika Umar ra mengetahui, ia bertanya: “Mengapa kalian lakukan yang demikian?”. Kemudian Umar ra ingin bicara eksklusif dengan cowok itu. Umar ra kemudian mendatangi kuburan cowok itu.
Dalam sejarah kita menemukan pula insiden serupa dalam diri imam Syafi’i. Beliau yaitu orang yang mendapatkan ilham. Muridnya yang empat: Ar-Rabi’ bin Sulaiman, Al Buwaithi, Al Muzani dan Ibnu Abdil Hakam, sebelum meninggal mengungkapkan kepada murid-muridnya tersebut, kau akan menjadi ini, kau akan menjadi ini dan sebagainya. Semua ucapan imam Syafi’i ini kemudian terbukti kebenarannya.
Pada dasa warsa ini, salah satu tokoh yang insya Allah mendapatkan wangsit yaitu asy-syahid imam Hasan Al Banna rahimahullah.
Kalau kita membaca buku Ikhwanul Muslimin; Ahdats Shana’at-Tarikh, kiat akan melihat bahwa perjalanan awal asy-syahid Sayiid Qutub, kelasnya selevel dengan “Nurcholis group”. Saat itu di Mesir terbit majalah sastra yang menjadi ajang pertemuan 20 sastrawan. Salah satu kubunya yaitu para tokoh anutan sastra bebas yang dikomandani oleh Abbas Mahmud Al Aqqad, dan kubu lainnya yaitu sastrawan muslim yang dikomandani oleh Musthofa Shadiq Ar-Rafi’i. Sayyid Qutub yaitu murid pilihan Al Aqqad. Ketika Musthofa meninggal, Al Aqqad naik, lantaran tidak ada saingan, murid-muridnya diberi rangsangan untuk menulis.
Dalam sebuah surat kabar mingguan, Sayyid Qutub menulis makalah di mana dia menyerukan kepada para perempuan muslimah untuk membuka auratnya, lantaran menutup aurat dianggap olehnya sebagai penghambat kemajuan wanita.
Tulisan ini dibaca oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud dan dia menciptakan tanggapan. Tapi sebelum tanggapan ini dimuat di media massa, Ustadz Abdul Halim mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Imam Al Banna.
Kata Imam Al Banna: “Saya menyetujui 100 % goresan pena kamu, tapi saya mempunyai perasaan lain perihal orang ini, berilah beberapa pertimbangan:
Pertama: Dia masih muda, dan apa yang ditulisnya bukanlah dari otaknya sendiri, tapi dari lingkungannya.
Kedua: Anak muda biasanya menyenangi sensasi dan mencari musuh, apa yang dilakukan Sayyid Qutub oleh Imam Al Banna dinilai sebagai upaya mencari eksistensi diri.
Ketiga: lantaran dia masih muda, kita masih mempunyai harapan, siapa tahu dia akan menjadi pemikul beban da’wah.
Pertimbangan yang lain, kata Imam Al Banna, dia (Sayyid) menulis di surat kabar yang tidak terlalu populer di Mesir ini. Kalaupun dikenal, makalah atau kolom, umumnya tidak terlalu menarik perhatian orang banyak untuk membacanya, apalagi kalau ditulis oleh seorang pemula yang belum mempunyai nama. Kalau kita menanggapinya, orang-orang yang semula tidak tahu menjadi ingin mengetahuinya, dan orang-orang yang mungkin pernah membaca secara selintas akan mengulang kembali membacanya untuk mengenali muatan goresan pena tersebut. Tujuan anak muda ini menulis yaitu untuk mendapatkan serangan atau tantangan dari khayalak yang dengan serangan itu akan menaikkan dan mengangkat namanya. Imam Al Banna berkata lagi: “Kalau kita bantah goresan pena itu, kita berarti menutup kesempatan diri cowok itu untuk bertobat lantaran orang cenderung untuk membela diri jikalau kesalahannya diluruskan, apalagi bila pelurusan itu dilakukan di depan umum, ia akan membela dirinya mati-matian, meskipun dalam hati kecilnya ia menyadari kesalahan atau kekeliruannya. Dengan demikian, kalau tanggapan itu ita lakukan, berarti kita telah menutup kesempatan bertaubat bagi dirinya”.
Akhirnya Imam Al Banna mengatakan: “Wahai Mahmud, inilah pandanganku perihal orang ini, akan tetapi, kalau engkau tetap ingin mengirimkannya, silahkan saja”.
Ustadz Mahmud oke untuk meninjau kembali planning pengiriman goresan pena itu, sehingga karenanya goresan pena itu tidak jadi dikirim.
Dan pada akhirnya, terbuktilah kebenaran perasaan Imam Al Banna, alasannya yaitu pada final perjalanan hidupnya, Sayyid Qutub menjadi penopang dan pemikul beban da’wah dan iapun bergabung dengan jama’ah ini.
Hal itu merupakan pecahan dari firasat seorang mukmin yang dimiliki oleh Imam Al Banna.
Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti perjalanan dia semenjak kecil hingga dia meninggalkan dunia yang fana ini.
Imam Al Banna dilahirkan sama dengan tahun dilahirkannya Sukarno, yaitu tahun 1906 M, di suatu wilayah yang berjulukan Al Mahmudiyah. Beliau dilahirkan dari keluarga yang gemar kepada ilmu. Ayahnya seorang ulama’ yang berjulukan Asy-Syekh Ahmad bin Abdur-Rahman As-Sa’ati, seorang tukang jam. Meskipun seorang tukang servis jam, namun dia juga seorang ulama’. Diantara karya besarnya yaitu menertibkan kitab hadits musnad Imam Ahmad sesuai dengan urutan tema fiqih, kitab itu diberi nama Al Fathu Ar-Rabbani fi Tartibi Musnadil Imami Ahmad Asy-Syaibani.
Ketika kecil dia mendapatkan pendidikan di Madrasah Ar-Rosyad Ad-Diniyyah yang diasuh oleh Asy-Syekh Az-Zahroni. Disekolah SD itulah dia menghafal Al Qur’an sebanyak setengah Al Qur’an atau kurang lebih 15 juz. Rupanya sekolah ini tidak usang umurnya, lantaran Asy-Syekh Az-Zahrani ditarik oleh departemen pendidikan di sana, dan bubarlah sekolahan itu.
Beliau kemudian melanjutkan sekolahnya di Al I’dadiyyah. Disana dia membagi waktunya menjadi empat bagian: berguru di pagi hari, kemudian sepulang sekolah dia berguru memperbaiki jam hingga sore hari, dan di malam harinya dia mempersiapkan diri untuk sekolah besok paginya, dan pagi harinya sehabis shalat Shubuh, dia menghafalkan Al Qur’an. Dengan kebiasaan inilah dia hampir menamatkan hafalan Al Qur’annya.
Setelah tamat di Al I’dadiyyah, Hasan Al Banna kecil melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Al Mu’allimin Al Awwaliyyah di Damanhur. Disana dia tamat menghafalkan Al Qur’an. Madrasah Al Mu’allimin ini yaitu sekolah yang di sini setingkat dengan SPG atau SMU. Setelah itu dia mendapatkan dua peluang belajar, di Al Azhar atau di Darul ‘Ulum. Kalau melanjutkan di Darul ‘Ulum ia akan menjadi guru. Dan kalau di Al Azhar dia bisa melanjutkan dan biasanya menjadi ulama’ besar. Namun dia lebih menentukan Ma’had Darul ‘Ulum kegiatan diploma tiga tahun. Lalu pindahlah dia ke Kairo.
Pada masa mudanya –bahkan semenjak masih duduk di dingklik SD- Hasan Al Banna tertarik kepada salah satu tarekat yang memang tumbuh menjamur pada masa itu. Tarekat yang diminatinya berjulukan tarekat Al Hashafiyyah, yang didirikan oleh seorang ulama’ besar berjulukan Syekh Al Hasanain Al Hashafi, seorang tamatan Al Azhar.
Dalam buku yang ditulis oleh Imam Al Banna; Mudzakkiratud-Da'wahwah Wad-Da'wahiyah, disebutkan, tarekat yang didirikan oleh Syekh Al Hashafi berbeda dengan tarekat-tarekat lain yang ada pada masa itu. Syekh Al Hashafi selalu gemar menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Imam Al Banna bercerita perihal Syekh Al Hashafi, meskipun dia belum pernah bertemu eksklusif dengannya. Kata beliau, pada ketika berkunjung kepada Syekh Khudhari Bik, seorang penguasa Mesir, dia memberikan salam yang kemudian dijawab oleh Hudhari Bik dengan isyarat. Dengan berang Al Hashofi mengatakan:
رَدُّ السَّلاَمِ وَاجِبٌ، وَلاَ يَكْفِي بِاْلإِشَارَةِ
Menjawab salam hukumnya wajib dan tidak cukup dengan isyarat.
Akhirnya Khudhari Bik malu sendiri dan menjawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kemudian ketika dia diundang oleh seorang perdana menteri Mesir bersama ulama’-ulama’ yang lain, dia melihat ulama’-ulama’ tersebut menundukkan kepada kepada perdana menteri lantaran mengikuti seorang ulama’ yang menundukkan kepalanya kepada sang perdana menteri itu. Ketika melihat hal itu syekh Al Hashafi memukul dan berkata kepada para ulama’ itu:
يَا هَذَا! اَلرُّكُوْعُ للهِ فَقَطْ، وَلاَ يَحِلُّ الرُّكُوْعُ لِلنَّاسِ!
Wahai orang ini! Ruku’ itu hanya untuk Allah semata, dan tidak halal ruku’ kepada manusia!
Inilah diantara kisah kepribadian Syekh Hasanain Al Hashafi yang menciptakan Hasan Al Banna tertarik kepadanya dan ingin berafiliasi lebih jauh dengan tarekat yang didirikannya.
Beliau mengikuti tarekat Al Hashafiyah semasa dipimpin oleh putra Syekh Hasanain Al Hashafi, namanya syekh Abdul Wahhab bin Hasanain Al Hashafi.
Diceritakan oleh Imam Al Banna bahwa syekh Abdul Wahhab tidak sekeras dan setegas bapaknya. Namun dia orang bersih, lurus dan dikenal sebagai hebat suluk, yaitu orang yang ibadahnya tidak diragukan lagi.
Beliau juga bisa dikatakan sebagai orang yang mulham.
Suatu ketika dia bersama seorang sahabatnya yang berjulukan Ahmad Affandi As-Sakari bertemu dengan syekh Abdul Wahhab, dia menyampaikan kepada keduanya:
أَنَّنِيْ أَتَوَسَّمُ أَنَّ اللهَ سَيَجْمَعُ عَلَيْكُمُ الْقُلُوْبَ وَيَنْضَمُّ عَلَيْكُمْ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ، فَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَوْقَاتِ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ سَيَجْتَمِعُوْنَ عَلَيْكُمْ، أَفَدْتُمُوْهُمْ فِيْهَا، وَيَكُوْنُ لَهُمْ الثَّوَابُ، وَلَكُمْ مِثْلُهُمْ، أَمْ اِنْصَرَفَتْ هَبَاءً فَيُؤَاخَذُوْنَ وَتُؤَاخَذُوْنَ.
Aku melihat dari wajah kalian bahwa Allah swt akan menghimpun hati insan kepada kalian dan Allah akan menyatukan mereka kepada kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah swt akan bertanya kepada kalian atas waktu mereka yang berkumpul kepada kalian itu, apakah kalian memberikan kepada mereka manfaat dan tentunya mereka akan mendapat pahala dan demikian pula kalian, atau waktu mereka itu hilang percuma, maka mereka akan dimintai pertanggung tanggapan dan demikian pula kalian.
Inilah yang diungkapkan oleh Syekh Abdul Wahhab kepada Hasan Al Banna dan Ahmad Affandi As-Sakari.
Dari pengalamannya di tarekat inilah dia mulai berorganisasi dengan membentuk satu organisasi yang diberi nama Jam’iyyah Al Khairiyyah Al Hashafiyyah. Dalam organisasi ini yang menjadi ketuanya yaitu Ahmad Affandi As-Sakari –yang nantinya dalam jama’ah Ikhwanul Muslimin dia menjadi wakil- dan yang menjadi sekretarisnya yaitu Hasan Al Banna.
Aktifitas organisasi ini ada dua:
1. Menyebarkan da'wah kepada akhlaq yang mulia dan memerangi banyak sekali kemunkaran dan hal-hal yang diharamkan dan tersebar luas di masyarakat, seperti: jodi, minuman keras, dan bid’ah-bid’ah yang ada pada perayaan-perayaan.
2. Menghadapi propaganda missi Zending Nasrani yang ada di Mesir pada waktu itu.
Dalam buku Mudzakkirotud-Da'wah Wad-Da'iyah Imam Al Banna menceritakan, beberapa kantor IM berdampingan dengan kantor-kantor missi kristenisasi.
Dan kita lihat pula dalam kitab fi qafilatil Ikhwan Al Muslimin yang ditulis oleh Ustadz Abbas As-Sisi, foto-foto yang ada dalam buku tersebut menggambarkan betapa jama’ah ini mempunyai toleransi dengan orang-orang palangis itu. Hasan Al Hudhaibi, mursyid ‘aam kedua misalnya, dalam foto-foto itu bergambar berdampingan dengan pembesar Nasrani Qibti. Hal itu menunjukan bahwa jama’ah ini semenjak pertama tidak melupakan tugas sosialnya kepada orang Nasrani yang merupakan pecahan dari ummat manusia.
Setelah dia selesai dari Mu’allimin Al Awwaliyyah dan sehabis dia menentukan Darul ‘Ulum sebagai sekolah kelanjutannya, dia terpaksa harus berpisah dengan keluarga dan sahabat yang dicintainya. Disana, di Kairo, dia hidup sendirian dan tidak mengandalkan kiriman wesel dari orang tuanya, dia benar-benar mandiri. Karena kemandiriannya ini, dia menjadi sangat sibuk, sampai-sampai ketika menjelang ujian masuk Darul ‘Ulum dia tidak sempat belajar.
Dalam kitab Ahdats Shana’at-Tarikh Imam Al Banna bercerita: Di malam ujian itu dia melaksanakan shalat tahajjud menyerupai biasanya, dan memohon serta mengadu kepada Allah swt. Dalam do’anya dia berkata: “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu betapa rindunya diriku kepada ilmu dan betapa cintaku kepada-Mu, tapi Engkau juga tahu betapa sibuknya diriku dalam mencari ma’isyah untuk mempertahankan hidup di kota ini, berilah jalan keluar bagiku”.
Beliau karenanya tertidur malam itu dan bermimpi kedatangan seseorang yang membawa buku dan membuka-buka buku itu dan dia turut membuka dan membacanya. Ketika ujian tiba, ternyata apa yang dia baca dalam mimpi itulah yang diujikan esok harinya.
Beliau lulus dan mendapatkan nilai istimewa. Ini juga salah satu tanda bahwa dia termasuk seorang yang Muhaddats, Mulham lantaran kebersihan dan ketaqwaannya, insya Allah.
Beliau selanjutnya berguru di Darul ‘Ulum dengan lancar. Selain menyayangi Al Qur’an dan As-Sunnah, dia juga menyenangi syi’ir-syi’ir Arab. Setiap mendapatkan syi’ir dia mencatatnya hingga buku-bukunya perihal syi’ir bertumpuk.
Ketika ujian kelulusan dari Darul ‘Ulum, ketika tes lisan, dia bawa buku-buku itu. Salah satu dari dua orang penguji bertanya perihal apa yang dihafalnya dari syi’ir-syi’ir itu. Dia menjawab: “Semuanya saya hafal”. Yang satunya lagi bertanya: “Bait mana yang paling engkau senangi dari syi’ir-syi’ir itu? Al Banna mengatakan: “Bait Syi’ir yang diucapkan oleh Thorfah bin Al ‘Abd, salah seorang penyair di zaman jahiliyyah.
إِذَا الْقَوْمُ قَالُوْا مَنْ فَتَى؟ خِلْتُ أَنَّنِيْ عُنِيْتُ فَلَمْ أَكْسَلْ وَلَمْ أَتَبَلَّدِ
Bila orang bertanya : “Siapa pemuda? Saya membayangkan akulah yang dimaksud, karenanya, saya tidak bermalas-malas dan tidak membodohi diri.
Mendengar tanggapan itu, sang penguji mengatakan: “Wahai anakku, dengan demikian saya nyatakan engkau lulus dari Darul ‘Ulum, dan yang mempunyai tanggapan menyerupai ini hanya engkau dan ustadz Muhammad Abduh. Aku melihat bahwa engkau akan mempunyai masa depan yang gemilang”.
Ada syi’ir lain yang selalu dia kumandangkan, yaitu:
قَدْ رَشَّحُوْكَ لأَمْرٍ لَوْ فَطِنْتَ لَهُ فَارْبَأْ بِنَفْسِكَ أَنْ تَكُوْنَ مَعَ الْهَمَلِ
Orang-orang telah mencalonkan kau untuk suatu urusan, kalau saja kau tahu.
Maka jagalah dirimu jangan hingga engkau termasuk orang-orang yang lalai.
Beliau lulus dari Darul ‘Ulum tahun 1926 M dan eksklusif menentukan mengajar di sebuah SD di Isma’iliyyah. Ketika dia hidup di tengah masyarakat, mulailah dia berkomunikasi dan berbaur dengan masyarakat danmendekati tokoh-tokoh agama.
Pada suatu malam di bulan Ramadhan, dia berkumpul bersama tokoh-tokoh ‘ulama’ di rumah salah seorang ‘ulama’ senior yang berjulukan syekh Yusuf Ad-Dajawiy. Di masa itu, orang-orang sosialid komunis, kapitalis dan palanis telah merajalela dalam perngrusakan ummat, sehingga kemungkarantersebar ke mana-mana. Dalam kesempatan tersebut Hasan Al Banna mengutarakan keresahan hatinya dan meminta para ulama’ itu untuk melaksanakan sesuatu demi amar ma’ruf nahi munkar. Jawaban syekh Yusuf pada waktu itu: “Sesungguhnya Allah swt tidak membebani seseorang yang melebih kemampuannya”.
Mendengar tanggapan menyerupai itu Hasan Al Banna tidak puas, ia kemudian berkata: “Wahai Syekh! Andaikan ucapan ini diucapkan oleh selain anda, mungkin kami bisa menerimanya, tapi bila anda yang mengucapkannya, maka sulit bagi kami untuk menerimanya. Ucapan ini terkesan lebih merupakan pembelaan diri, sementara tidak ada sesuatu-pun yag anda lakukan untuk membendung kemungkaran ini”.
Rupanya ucapan Hasan Al Banna ini menciptakan murka hadirin yang lain. Tapi Al Hamdulillah dia didukung oleh salah seorang hadirin yang berjulukan Syekh Bik Kamil. Hasan Al Banna bekerjsama gres pertama kali bertemu dengan syekh Ahmad Bik Kamil ini, namun lantaran pembelaannya yang sempurna pada waktunya itu –di ketika Al Banna dalam posisi tersudut- menciptakan Al Banna tertarik kepadanya dan berharap sanggup berjumpa kembali dengannya pada masa yang akan datang.
Karena pembicaraan itu terus berkepanjangan, sementara mereka yang hadir juga diundang di majlis yang lain, maka syekh Yusuf mengajak tamu-tamunya untuk pergi. Hasan Al Banna yang bekerjsama tidak diundang untuk kegiatan tersebut, ikut pula bersama mereka. Mereka semua berkunjung ke rumah salah seorang ulama’ yang berjulukan syekh Muhammad Sa’ad.
Di rumah syekh Muhammad Sa’ad, Hasan Al Banna sengaja menentukan daerah duduk persis di sebelah syekh Yusuf yang merupakan ulama’ yang dituakan, supaya perhatian turut pula ditujukan kepadanya. Benar saja, tuan rumah tidak usang kemudian bertanya kepada syekh Yusuf perihal cowok yang ada di sebelahnya, yang tidak lain yaitu Hasan Al Banna, yang ketika itu usianya gres 21 tahun.
Di rumah syekh Sa’ad mereka disuguhi aneka makanan lezat. Melihat semuanya itu, Hasan Al Banna merasa panas dan tidak bahagia hatinya. Beliau kemudian berkata: “Apakah kalian kira Allah swt tidak akan menghisab kalian dengan apa yang kalian perbuatan menyerupai ini? Jika kalian tahu bahwa Islam mempunyai ulama’-ulama’ selain kalian, tolong tunjukkan saya kepada mereka, mungkin saya akan mendapatkan sesuatu dari mereka yang tidak saya dapatkan pada kalian!”
Mendengar ucapan Hasan Al Banna ini, syekh Sa’ad menangis, kemudian ia berkata: “idzan, madza af’al (kalau begitu, apa yang harus saya lakukan?) jawab Al Banna: Masalah ummat ini yaitu duduk perkara yang berat. Sebagaimana mereka menyerang ummat ini dengan tulisan-tulisan, kita hadapi pula tindakan mereka dengan tulisan, kalian yaitu ulama’-ulama’ besar dan mempunyai kekerabatan yang luas. Kumpulkan orang-orang kaya untuk menyokong dana dan kalian para ulama’ menyiapkan tulisan-tulisan untuk menghadapi serangan mereka”.
Mendengar tanggapan Hasan Al Banna, syekh Sa’ad segera memerintahkan menyingkirkan makanan dan minuman, dan kemudian mengambil pena dan kertas. Malam itu juga mereka menginventarisir siapa ulama’ yang harus mereka hubungi untuk menciptakan goresan pena dan siapa orang-orang kaya yang akan mereka mintai pertolongan dananya.
Kelompok ini pada ketika itu agak berseberangan jalan dengan kelompok syekh Rasyid Ridha dan kawan-kawannya. Pada malam itu syekh Sa’ad memerintahkan pula untuk melibatkan syekh Rasyid Ridha dkk. Diantara yang hadir mengatakan: “Bukankah mereka berbeda (tidak sefikrah) dengan kita? Jawab syekh Sa’ad: “Masalah kini ini lebih besar daripada duduk perkara yang kita perselisihkan selama ini, lupakan semua perbedaan itu dan kita cari apa yang kita sepakati”.
Dari pertemuan inilah kemudian berdiri satu jam’iyyah, yaitu: Jam’iyyah Syubbanul Muslimin.
Tidak usang sehabis itu terbitlah majallah Syubbanul Muslimin yang berjulukan Al Fath Al Islami.
Hasan Al Banna sebelumnya, semasa di Kairo, selain belajar, dia juga aktif berda’wah. Ketika di Al Isma’iliyyah, dia kembali melakukannya. Beliau mendatangi kedai-kedai kopi. Da’wah dia begitu indahnya. Meskipun hanya beberapa menit saja, bisa mengundang sempati orang-orang yang kurang terpelajar. Mengenai hal ini semua antum sudah mengetahui.
Suatu ketika datanglah beberapa orang kepada Hasan Al Banna. Mereka berkata: “Wahai Ustadz! Kami sudah tidak sabar. Kami hanyalah orang yang tidak mengerti apa-apa, hendak engkau bawa kemana-pun kami, kami akan ikuti. Sekarang, apa yang harus kami lakukan?
Dari pembicaraan-pembicaraan menyerupai ini, kemudian pada bulan Maret 1928 M terjadilah pembai’atan pertama dalam sejarah jama’ah ini. Ada enam orang yang berbai’at, yaitu:
1. Hafizh Abdul Halim.
2. Ahmad Al Hushari.
3. Fuad Ibrahim.
4. Abdur-Rahman Hasbullah.
5. Isma’il Izz, dan
6. Zakkiy Al Maghribi.
Setelah keenam orang ini berbai’at, salah seorang diantaranya bertanya: “Sekarang kita sudah berkumpul, hendak kita namakan apa kelompok kita ini? Apakah kita perlu membentuk organisasi atau klub atau salah satu tarekat atau yang lainnya dan kita mengambil bentuk yang formal?
Hasan Al Banna menjawab: “Sesungguhnya kita tidak termasuk yang ini atau yang itu dan kita tidak terlalu peduli duduk perkara formal menyerupai ini. Hendaknya kita mengakibatkan awal dan dasar pertemuan ini lantaran kesamaan fikrah, perasaan dan kesamaan untuk beramal. Kita bersaudara dalam berkhidmah kepada ummat Islam. Berarti kita yaitu Ikhwanul Muslimin”. Sejak itulah istilah Ikhwanul Muslimin digunakan.
Ada beberapa sisi lain dari kehidupan Hasan Al Banna yang sanggup kita pelajari. Diantaranya yaitu sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud ketika dia berjumpa dengan seorang ulama’ Al Azhar yang dikenal dengan sebutan Hakimul Islam, yaitu: Syekh Thanthawi Jauhari. Beliau yaitu seorang ulama’ yang berusaha menggabungkan ilmu qauli dengan ilmu kauni, salah seorang ulama’ tafsir, kitab tafsirnya bernama: Al Jawahir. Dalam usianya yang sudah tua, dia rela dipimpin oleh seorang yang masih muda dan hanya sebatas guru SD. Padahal dia yaitu syekh yang dituakan dan ulama’ terkenal.
Kata Ustadz Abdul Halim, ketika dia sedang menulis Arjuzah di kantor Ikhwanul Muslimin, ketika itu dia sedang sendirian, datanglah syekh Thanthawi menjumpainya. Sebelumnya Ustadz Abdul Halim sempat berharap sanggup bertemu eksklusif dengan syekh Thanthawi dan berbicara secara khusus, dan Al Hamdulillah Allah swt mengabulkannya.
Syekh Thanthawi bertanya kepada Ustadz Abdul Halim: “Apa yang sedang engkau tulis? Dijawab oleh ustadz Abdul Halim: “Saya sedang menulis syi’ir yang dipesankan oleh Imam Hasan Al Banna”. Syi’ir itu kemudian dibaca oleh syekh Thanthawi dan dia kemudian meminta ustadz Abdul Halim membacakanya untuknya. Ustadz Abdul Halim yang hanya lulusan teknik dan bukan lulusan syari’ah serta tidak memahami cara membaca syi’ir, kemudian membaca syi’ir itu. Kata syekh Thanthawi: “Bukan begitu cara membaca syi’ir”. Ustadz Abdul Halim bertanya: “Apakah ada pecahan yang keliru saya baca? Jawab syekh Thanthawi: “Tidak, tidak ada satupun pecahan yang keliru, akan tetapi bukan begitu cara membaca syi’ir”. Kemudian syekh Thanthawi menambahkan lagi: “Dulu, di masa jahiliyyah, ada sebuah pasar berjulukan Ukazh, di sana orang-orang jahiliyyah mengambil syi’irnya, seandainya syi’ir itu dibaca dengan cara hafal membacanya, tidak ada daya tariknya, akan tetapi, syi’ir itu harus dibaca sesuai dengan ruhnya”. Maka syekh Thanthawi kemudian mencontohkan cara membacanya dengan demikian indahnya.
Kemudian syekh Thnathawi melanjutkan: “Wahai anakku, insan dalam hidup ini membutuhkan riyadhah (latihan), sebagaimana fisik itu harus dilatih, ruh itupun harus dilatih. Orang-orang yang biasa berlatih akan mempunyai satu tingkat dari orang-orang yang tidak pernah berlatih”. (Di dalam tarekat ada satu tingkatan yang paling tinggi, yaitu Al Kasyf, yaitu kemampuan mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh orang lain, bi-idznillah, suatu tingkatan bagi orang-orang yang mempunyai tingkat latihan ruhiyyah paling tinggi). Syekh Thanthawi kemudian bertanya: “Adakah orang lain yang kedudukannya lebih tinggi lagi dari Ahlul Al Kasyf wahai anakku! Kata ustadz Abdul Halim: “Saya kira tidak ada wahai syekh!”.
Dijawab oleh Thanthawi: “Tidak wahai anakku”. Abdul Halim bertanya lagi: “Kedudukan mana lagi yang lebih tinggi dari itu?”. Jawab syekh Thanthawi: “Kedudukan yang lebih tinggi dari itu yaitu kedudukan para rijal yang dibuat oleh Allah swt dan dipilih diantara makhluq-Nya, mereka dipilih oleh Allah swt untuk memusnahkan kerusakan, menghilangkan kezhaliman, menghidupkan api keimanan di dalam hati setiap orang, serta membuatkan ukhuwwah diantara orang-orang yang beriman, hingga da’wah ini menjadi berpengaruh dan bisa mengangkat nama Allah di atas bumi dan bisa menghadapi orang-orang zhalim yang menciptakan kerusakan”.
Selanjutnya syekh Thanthawi mengatakan: “Ketahuilah anakku, misi ini, yang Allah pilih mereka untuk mengemban-Nya, menuntut mereka menjadi ahlul hajb, menjadi orang yang tidak nampak kekuatan spiritualnya (tidak bisa jalan di air, tahan dibakar api, dsb) –akan tetapi kedudukan mereka lebih tinggi dari Ahlul Kasyf, mengapa? Sebab, ilmu ahlul kasyf tidak sanggup dipelajari, sedangkan ilmu ahlil hajb sanggup dipelajari dan sanggup berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga final zaman”. Tambah syekh Thanthawi, “termasuk diantara ahlil hajb yaitu para rasul, nabi Musa as (ahlul hajb) kedudukannya lebih tinggi dari nabi Khidhir as (ahlul kasyf), alasannya yaitu nabi Musa as termasuk ulul ‘azmi minar-rasul, hanya lima dari sekian banyak nabi dan rasul yang mendapatkan gelar ini, meskipun di dalam Al Qur’an secara sepintas seolah nabi Khidhir lebih tinggi daripadanya. Demikian pula dengan nabi Sulaiman as, ketika burung pelatuk kecil menemukan kerajaan Bilqis, berkata nabi Sulaiman: “Siapa yang sanggup memindahkan singgasana ratu Bilqis kemari sebelum mereka tiba ke sini? Berkata salah satu jin Ifrith: “Aku bisa memindahkan singgasana itu sebelum engkau bangun dari daerah dudukmu”. Berkatalah seseorang yang diberi ilmu kitab, Asyif namanya: “Aku bisa memindahkan singgasana itu sebelum matamu berkedip”. Meskipun ilmu hebat kitab (ahlul kasyf) itu lebih tinggi dibanding nabi Sulaiman as, akan tetapi kedudukan nabi Sulaiman tetap lebih mulia, alasannya yaitu dia yaitu seorang rasul Allah, sedangkan Asyif tidak”.
Kata syekh Thanthawi: “Diantara ahlul hajb yaitu sahabat-sahabat yang besar, menyerupai Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dll. Diantara mereka yang lain yaitu kibarul mushlihin (para reformer besar) yang diantaranya yaitu Hasan Al Banna”.
Bertanya Ustadza Abdul Halim: “Begitukah engkau melihat Hasan Al Banna?”.
Dijawab: “Ya”.
Ditanya lagi: “Bagaimana engkau sanggup mengenalnya?”
Jawab Thanthawi: “Ketika saya mendangar namanya disebut-sebut orang, saya datangi dia dan saya duduk bersamanya, saya tanya dia: “Apa yang engkau da’wahkan?”. Sebagaimana banyak orang yang yang pernah saya jumpai dia menjawab: “Aku menda’wahi orang kepada Al Qur’an”. Maka saya katakan kepadanya: “Masing-masing kelompok mengaku bernisbat kepada Al Qur’an, tidak ada satu kelompokpun di dalam da’wah Islamiyyah ini –termasuk yang sesat sekalipun- kecuali mereka mengatakan: mengajak kepada Al Qur’an. Jawablah pertanyaan saya dengan rinci perihal da’wah yang engkau serukan itu pada setiap aspek kehidupan! Kemudian ia menerangkan da’wahnya dan saya dapati da’wahnya tidak keluar dari kitabullah dan sunnatur-Rasul saw”.
Diceritakan pula, ketika Thanthawi karenanya terkesan dan tertarik serta ingin bergabung dengan Hasan Al Banna, dia bertanya: “Wahai Ustadz! Engkau yaitu ustadz kami, dan ustadz semua orang di Mesir ini, andalah Hakimul Islam, kulihat anda lebih berhak untuk menduduki kepemimpinan di dalam da’wah ini, ini tanganku, saya siap berbai’at kepadamu”. Ketika Hasan Al Banna menjawab sungkan, dijawab oleh Thanthawi: “Tidak, wahai shahibud-da’wah, engkau lebih bisa untuk memikul beban da’wah ini dan engkau lebih pantas, dan ini tanganku”.
Ketika dia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, teman-teman seangkatan dia meledeknya dengan mengatakan: “Anda seorang ulama’ besar dan seorang syekh, mengapa anda mau menjadi kelompok yang dipimpin seorang anak muda dan anda hanya menjadi seorang pemimpin redaksi? Dijawab oleh Thanthawi: “Seandainya anda mengetahui siapa Al Banna, anda akan lebih dahulu bergabung daripada saya, sayang anda tidak mengetahuinya”.
Dari apa yang diungkapkan oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud, kita sanggup melihat bahwa Hasan Al Banna yaitu orang yang sanggup secara bersahabat menjalin kekerabatan dengan anggota setiap kelompok masyarakat tanpa membedakan satu dengan lainnya.
Dalam buku ini pula sanggup kita saksikan bagaimana kearifan perilaku Hasan Al Banna ketika menghadapi Thaha Husain, gembong kerusakan di bidang pemikiran yang membuka cakrawala pemikiran sesat di kalangan para pemikir Islam di belahan dunia, ketika ia menerbitkan buku Mustaqbaluts-Tsaqafah fi Mishr (Masa depan budaya Mesir), yang mendapat sanggahan bertubi-tubi dari banyak sekali kelompok yang ada di Mesir. Hasan Al Banna sendiri –karena kesibukannya- tidak mempunyai waktu untuk menanggapinya. Beberapa pengikutnya kemudian mengingatkan dia dan berkata bahwa orang-orang menunggu tanggapan Ikhwanul Muslimin atas buku Thaha Husain itu, lantaran kedudukan Ikhwanul Muslimin ketika itu sudah diperhitungkan di masyarakat. Dijawab oleh Hasan Al Banna bahwa dia sibuk dan tidak sempat membacanya.
Tanpa sepengetahuan Hasan Al Banna, para pengikutnya merencanakan untuk mengadakan semacam bedah buku Thaha Husain itu, dengan dia sebagai pembahasanya. Lima hari sebelum kegiatan berlangsung, diberitahukan kepadanya mengenai hal ini. Hasan Al Banna berkata terpaksa dia membaca buku itu dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah, sementara ia berada di atas treem. Ia membaca buku itu dan memberi garis bawah bagian-bagian yang penting. Sebelum lima hari buku itu sudah selesai dibaca dan sudah pula dihafalnya. Buku itu tebalnya dua ratus halaman lebih.
Bedah buku itu diselenggarakan di kantor Syubbanul Muslimin, yang menjadi moderator yaitu DR. Yahya Ad-Dardiri, sekjen Syubbanul Muslimin dan hadir pada kegiatan bedah buku itu tokoh-tokoh Mesir dari banyak sekali kalangan.
Hasan Al Banna mengkritik buku itu dengan cara yang unik, dia mengatakan: “Saya tidak akan mengkritik buku ini dengan pendapat saya, tapi saya akan mengkritiknya dengan buku ini sendiri”. Kemudian dia mengungkapkan bagian-bagian yang kontradiktif dari buku itu, lengkap dengan letak nomor halamannya, sekian dan sekian.
DR. Yahya Ad-Dardiri kemudian menyetop dan menyampaikan bahwa dirinya telah membaca buku itu, tapi tampaknya dia tidak menemukan apa yang Hasan Al Banna kemukakan, dan dia meminta kepada Hasan Al Banna untuk mengijinkannya mengecek kebenaran kutipan-kutipan Hasan Al Banna eksklusif kepada buku itu. Ternyata terbukti, seluruh yang diungkapkan Hasan Al Banna benar adanya.
Dalam kegiatan bedah buku itu bekerjsama Thaha Husain juga hadir, namun ia berada di daerah yang tersembunyi. Sebelum pulang ia menyampaikan bahwa ia ingin bertemu dan berdialog dengan Hasan Al Banna. Ia memperlihatkan tiga tempat; di rumahnya, di kantornya atau di rumah Hasan Al Banna. Adapun waktunya, ia menyerahkannya kepada Hasan Al Banna. (bayangkan! Seorang mustasyar atau penasehat negara, menyerahkan waktu pertemuannya kepada seorang guru SD!).
Akhirnya terjadilah pertemuan di kantor Thoha Husain. Berkata Thoha Husain: “Seandainya di Mesir ini ada tokoh yang paling besar, andalah orangnya, apa yang anda sampaikan perihal buku saya, demikian baik”. Kata Hasan Al Banna: “Al Hamdulillah, adakah hal-hal yang tidak anda setujui?” dijwab oleh Thoha Husain: “Tidak ada, bahkan saya ingin supaya pembahasan itu ditambah lagi”.
Kemudian Thaha Husain bertanya: “Apakah ada perilaku dan perkataan saya yang tidak anda senangi? Ketahuilah! Selama ini saya berhadapan dengan orang yang tidak mempunyai susila dalam berdebat, ketika mereka menyerang saya, diri saya-pun diserang. Seandainya musuh-musuh saya yaitu orang-orang semulia anda, semenjak awal saya akan menghormati mereka”.
Hasan Al Banna menjawab: “Anda yaitu seseorang yang cukup gembira dengan Barat, akan tetapi sayang, anda tidak bisa membedakan dua hal yang sangat berbeda. Adapun ilmu, itu yaitu sesuatu yang terus berkembang, hari ini kita benar, esok hari bisa jadi kita keliru. Akan tetapi agama, dia yaitu sesuatu yang niscaya dan tidak berubah, jikalau kita mengakibatkan agama sebagai ilmu, sama artinya kita merubah agama itu dari hari ke hari, dan jikalau kita mengakibatkan ilmu sebagai agama, kita berarti telah membunuh hak ilmu itu untuk berkembang, padahal semestinya kita meletakkan keduanya pada tempatnya masing-masing.
Hal yang lain lagi, kalian –para pengagum Barat- lebih mendahulukan akan daripada wahyu, ketika nalar bertabrakan dengan wahyu, kalian mengambil nalar dan membuang wahyu”.
Dalam kesempatan obrolan itu Hasan Al Banna juga mengkritik polemik yang tejadi antar sesama ummat Islam. Beliau menyampaikan kalau seandainya berpolemik ummat Islam mempunyai tenggang rasa sedikit saja, mereka akan bertemu pada satu titik persamaan, akan tetapi sayang, mereka menentukan bersikap menyerupai empat orang buta yang mensifati hewan gajah, yang kata Imam Al Ghozali, masing-masing bersikeras pada pendapatnya yang bekerjsama juz’i. Seandainya mereka mempunyai toleransi sedikit saja, mereka bisa bersepakat dalam menilai gajah tersebut dalam bentuknya yang utuh.
Ustadz Abdul Halim mencatat, semenjak ketika itu Thaha Husain menjadi lebih baik sikapnya. Beliau kemudian menentukan untuk mendalami sastra Arab dan mengurangi kiprahnya dalam menyesatkan ummat.
Adapun kekerabatan Hasan Al Banna dengan para ulama’, ketika syekh Abdul yazid tiba ke Indonesia, dia bercerita: “Di Mesir, ada sebuah kota yang berjulukan Zaqzuq. Ketika Hasan Al Banna hendak melaksanakan kunjungan ke sana, yaitu seorang ulama’ tarekat populer yang mempunyai banyak murid. Ia berupaya menciptakan makar untuk menggagalkan kegiatan kunjungan Hasan Al Banna. Namun lantaran tanggal kedatangan Hasan Al Banna dirahasiakan, hanya sedikit orang yang tahu, ulama’ ini tidak mengetahui persis kapan Hasan Al Banna akan tiba berkunjung. Pada suatu hari, sang ulama’ ini dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintunya untuk berkunjung. Ulama’ itu bertanya: “Siapa?” dijawab: “Saya, Hasan Al Banna”. Maka terkejutlah dia, dengan ‘terpaksa’ ia menjamu Hasan Al Banna. Hasan Al Banna kemudian berkata kepada sang ulama’ itu: “Adalah satu hal yang tidak pantas bagi saya, ketika saya masuk suatu negeri dengan tidak meminta ijin pada penguasanya”. Sampai ketika ini keturunan ulama’ itu, meskipun tidak bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, setiap kali ada kegiatan ikhwan, selalu membantu.
Demikian pula perilaku Hasan Al Banna terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Ketika Ikhwanul Muslimin mengirim pasukan ke Paletina, Hasan Al Banna bisa mempergunakan Manthiqul Hal dalam berdialog dengan para penguasa maupun tokoh-tokoh lainnya.
Inilah profil Hasan Al Banna. Kita perlu menggali lebih jauh dan dalam lagi. Dalam sejarah, umumnya memang para tokoh-tokoh utama itulah yang muncul secara mengesankan, sehingga bisa memberi warna perjalanan da’wah.
Di zaman Rasulullah saw misalnya, sepeninggal Rasulullah bisa dibilang tidak ada tokoh sehebat dia yang muncul.
Demikian pula dalam jama’ah ini, yang berdasarkan DR. Al Faruqi, belum ada tokoh sebesar Hasan Al Banna yang muncul, namun kita tetap yakin bahwa :
إِنَّ لِكُلِّ مَرْحَلَةٍ رِجَالُهَا
Sesungguhnya tiap-tiap marhalah itu ada tokohnya.
Pertanyaan kita hari ini:
رِدَّةٌ وَلاَ أَبَا بَكْرٍ لَهَا!
Kalau pada zaman dahulu, ada kemurtadan, dan ada Abu Bakar, sehingga kemurtadan itu sirna.
Sekarang ini ada masyarakat, mana Hasan Al Banna-nya?!!
Sumber http://frequencia89.blogspot.com

Tuesday, September 11, 2018

√ Cinta Dan Keinginan.

Kata yang singkat namun ketahuilah gotong royong tanpanya dunia akan sepi dan hampa. Ibnu Qoyyim mengatakan: “…, maka setiap perbuatan dan gerakan di alam semesta ini yaitu berasal dari cinta dan keinginan. Kedua hal itulah yang mengawali segala pekerjaan dan gerakan, sebagaimana benci dan ketidaksukaan yang mengawali untuk meninggalkan dan menahan diri dari sesuatu.”

Tak heran kalau ada seseorang yang dengan relanya mengorbankan apa saja demi sesuatu yang dicintainya. Ibnu Qoyyim berkata: “Cinta menggerakkan seorang pecinta untuk mencari yang dicintainya, dan kecintaannya akan tepat manakala ia telah mendapatkannya . Maka cinta itulah yang menggerakkan pecinta Arrahman, pecinta Al-Quran, pecinta ilmu dan iman, pecinta bahan dan uang, pecinta berhala dan salib, pecinta perempuan dan anak-anak, pecinta tanah dan air dan cinta pula yang menggerakkan pecinta saudara-saudaranya.”

Orang yang mencinta akan bergetar hatinya ketika yang dicintainya disebutkan namanya. Tentang fenomena para pecinta, Ibnu Qoyyim menyebutkan:” Karena itu engkau dapati pecinta perempuan dan anak-anak, pecinta nyanyian dan qur’an syetan, mereka tidak bergerak hatinya ketika mendengarkan ilmu dan kesaksian iman, juga tidak ketika dibacakan Al-Qur’an. Tetapi ketika disebutkan yang dicintainya serta-merta bangkitlah jiwanya, tergeraklah lahir batinnya, lantaran rindu dan menikmati yang dicintainya, meski sekedar disebut namanya.”

Sungguh benar sekali apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Qoyyim diatas. Dan tak ada yang sanggup memahami apa yang telah dia katakan kecuali orang yang pernah mengasihi sesuatu. Jika ada seseorang menyampaikan kepada orang yang ada dihadapannya: ”Saya mencintaimu !” apakah lantas orang tersebut percaya begitu saja tanpa bukti yang nyata?

Ibnu Qoyyim menyebutkan ada 20 tanda dan bukti cinta:

Pertama, menghunjamkan pandangan mata, pandangan mata seorang pecinta itu hanya tertuju pada orang yang dicintai.
Kedua, malu-malu kalau orang yang dicintai memandangnya, maka dari itu didapati seorang pecinta hanya sanggup memandang kebawah, kepermukaan tanah, disebabkan rasa sungkannya terhadap orang yang dicintainya.
Ketiga, banyak mengingat orang yang dicintai, membicarakan dan menyebut namanya.
Keempat, tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri.
Kelima, bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai, yaitu bersabar dalam menghadapi kedurhakaan dan bersabar dalam melaksanakan keputusan orang yang dicintai.
Keenam, memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya.
Ketujuh, mengasihi daerah dan rumah sang kekasih
Kedelapan, segera menghampiri yang dicintai, kesibukan yang lain ditinggalkan dan menyukai apapun jalan yang sanggup mendekatkan dirinya dengan orang yang dicintai.
Kesembilan, mengasihi apapun yang dicintai sang kekasih
Kesepuluh, jalan yang terasa pendek -padahal panjang- ketika mengunjungi sang kekasih
Kesebelas, salah tingkah kalau sedang mengunjungi orang yang dicintai atau sedang dikunjungi orang yang dicintai
Keduabelas, kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.
Ketigabelas, cemburu kepada orang yang dicintai, cemburunya akan bangun kalau kekasihnya dijahati dan dirampas haknya.
Keempatbelas, berkorban apa saja untuk mendapat keridhaan orang yang dicintai
Kelimabelas, menyenangi apa pun yang menciptakan bahagia orang yang dicintai
Keenambelas, suka menyendiri.
Ketujuhbelas, tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai
Kedelapanbelas, helaan napas yang panjang dan kerap.
Kesembilanbelas, menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dengan yang dicintai dan membuatnya murka
Keduapuluh, adanya kecocokan antara orang yang mengasihi dan yang dicintai

Jika tanda dan bukti cinta itu telah ada maka yang perlu dipertanyakan ditujukan untuk siapakah perasaan cinta itu ? Ibnu Qoyyim menjelaskan sehabis menjelaskan fenomena orang –orang yang mencinta :”Semua kecintaan tersebut yaitu batil kecuali kecintaan kepada Allah dan konsekwensi dari kecintaan padaNya, yaitu cinta kepada rasul, kitab, agama dan para kekasihNya. Berbagai kecintaan inilah yang kekal dan kekal pula buah serta kenikmatannya sesuai dengan abadinya ketergantungan orang tersebut padaNya. Dan keutamaan cinta ini atas kecintaan kepada yang lain sama dengan keutamaan orang yang bergantung padaNya atas orang yang bergantung pada yang lain. Jika hubungan para pecinta terputus , juga terputus pula sebab-sebab cintanya, maka cinta kepadaNya akan tetap langgeng abadi.

Ada sebuah syair goresan pena seseorang:

Sesuatu yang terlupa
biasanya tak berarti apa-apa
Sesuatu yang ingin dilupa
biasanya sesuatu yang pernah dicinta
Namun yang dicinta tak mau memperdulikannya
Sakit memang sakit hatinya
Dan itulah penyakit yang Lebih berat dari biasanya
ingin dia sembuhkan penyakitnya
Namun gambaran kekasih selalu membayanginya
Memang sembuhnya sakit kepala
Ternyata lebih gampang daripada sembuhnya orang yang dimabuk cinta

kemudian dia melanjutkan :

Orang yang dimabuk asmara
bagaikan orang yang terkena panah kaki dan tangannya
dengan kedalaman yang sungguh mengena
Jika dicabut kan terasa benar sakitnya
Jika dibiarkan kan terhambat gerak dan langkahnya
Sungguh sakit kalau tak dihiraukan oleh yang dicinta
Bagaimana kalau tak dihiraukan oleh Sang Pencipta
Tatkala semua makhluk membutuhkanNya
Tak ada cinta yang benar-benar menciptakan sehat hati manusia
Kecuali cinta lantaran Allah dan RasulNYa
Setiap orang menginginkannya
Namun sayang enggan meniti jalannya

Jika sesorang mengatakan:” Saya mengasihi Allah dan Rasulnya !” namun anehnya dia malah melaksanakan perbuatan-perbuatan yang menciptakan murka Allah ‘azza wa jalla maka patut dipertanyakan padanya bagaimana kesungguhan cintanya kepadaNya.

Allah berfirman yang artinnya: “Katakanlah, ‘Jika kau (benar-benar) mengasihi Allah, ikuti aku, pasti Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ “ (Ali imron :31)


Sumber bacaan:
Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin (terjemahan) Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, pustaka Al Kautsar
Mawaridul Aman Al- Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan (terjemahan), Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah editor syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, Darul Falah



sumber
seseorang teman di kampus yang memebrikan artikel ini
Sumber http://frequencia89.blogspot.com

Sunday, September 9, 2018

√ Abdullah Bin Abbas

Lisannya bertanya, Qalbunya mencerna

Di antara sahabat-sahabat RasuluLlah SAW, terdapat beberapa
sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia
sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka
telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada para teman cilik
ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan
beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk
bermain, bicara dan menasehati mereka.

AbduLlah bin Abbas (Ibnu Abbas) yaitu salah satu kelompok
sahabat anabawang ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah.
Semenjak kecilnya, dia sudah memperlihatkan kecerdasan dan ke
sungguhannya terhadap suatu masalah. RasuluLlah mengetahui poten
si besar yang ada pada anak muda ini, ibarat halnya beliau
melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin
Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.

RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL
lah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak
Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya memberikan tarbiyahnya
kepada cowok cilik ini:

"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat
yang sangat berguna?

Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda
patkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laran
ganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu erat di hadapan
mu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka ALlah akan mengenalimu
dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada ALlah. Jika
engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua
hal (yang terjadi denganmu) telah final ditulis. Ketahuilah,
seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan
apa yang tidak ditaqdirkan ALlah untukmu, mereka tidak akan
mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk mengha
langi engkau mendapat apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka
juga tidak akan sanggup melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan
lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar
dalam peristiwa alam itu akan menawarkan hasil positif; dan bahwa
kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan
itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa fasilitas itu
tiba sehabis kesulitan.
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi]

Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang
manakah hasil tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh
menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat
dengan ALlah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung
bagaimana cara RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap
di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist.
Ketika itu ia melihat RasuluLlah berdiri tengah malam dan pergi
berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu,
dengan demikian ia sanggup melihat sendiri bagaimana RasuluLlah
berwudhu. RasuluLlah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele
kan hal ini, dia mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas,
seraya mendo'akan: "Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara
agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."

Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi
oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia
segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah
kemudian menariknya semoga ia berdiri sedikit berjajar dengannya.
Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi kemudian ia
mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper
tanyakan perilaku Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa
rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan
ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau
mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau
sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya berse
dih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk
bertanya dan berguru pada sahabat-sahabat senior mengenai apa
saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan fatwa al-Islam. Logika
Ibnu Abbas, ketika itu menyampaikan bahwa para teman masih berada
di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan
informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota
lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, seruan ini tidak
ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, alasannya mereka rata-rata
beranggapan bahwa para teman senior tidak akan memperhatikan
pertanyaan bawah umur kecil macam mereka.

Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para
sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia
tanyakan. Dengan sabar, dia menunggu para teman pulang dari
kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan jikalau teman tadi kebet
ulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di
depan pintu rumahnya, sampai tertidur, tergolek beralaskan pakai
annya. Tentu saja para teman terkejut menemui Ibnu Abbas terti
dur di muka rumahnya, "Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan?
Kenapa tidak kami saja yang tiba menemuimu, bila engkau ada
keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang
menemui anda."

Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa
dewasanya?

beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang
lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin
Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya
dengan beberapa teman senior, dan dia selalu berkata kepada
Ibnu Abbas semoga ia tidak perlu sungkan memberikan pendapat.
Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas,
dengan selalu berada dalam kalangan teman senior.

Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, dia berga
bung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara,
di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam
pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan
Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk
menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui obrolan dan
diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij
bertaubat dan kembali kepada fatwa Islam yang benar.

AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71
tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini
telah wafat Ulama Ummat. Semoga ALlah SWT berkenan memberikan
pengganti AbduLlah bin Abbas."
Sumber http://frequencia89.blogspot.com

Friday, September 7, 2018

√ Doa Para Nabi

Di bawah ini kami sajikan beberapa teladan pilihan doa yang pernah dicontohkan oleh para Nabi dan Rossul :
 
  1. Doa Nabi Adam
“ Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin “ (
Artinya :
Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, kalau tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.
  1. Doa Nabi Nuh
“ Robbi inni audzubika an as alaka maa laisalli bihi ilmun wa illam tagfirli watarhamni akum minal khosirin “ (surat Hud; 47)
Artinya :
Ya Tuhanku bahwasanya saya berlindung kepadaMu dari sesuatu yang saya tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih pasti saya termasuk orang – orang yang merugi
  1. Doa Nabi Ibrahim
“ Robbana taqobal minna innaka anta sami’ul alim wa tub alaina innaka antat tawwaburrokhim “ (al baqarah; 128-129)
Artinya :
Ya Tuhan kami terimalah amalan kami bahwasanya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah taubat kami, bahwasanya Engkau akseptor taubat lagi Maha Penyayang.
“ Robbi ja alni muqimas sholati wa min dzuriyyati, robbana wa taqobal doa, Robbannagh firli wa li wa li dayya wa li jamiil mukminina yauma yaqumul hisab “ (ibrahim ; 40 -41)
Artinya :
Ya Tuhanku jadikanlah saya dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah saya dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.
  1. Doa Nabi Yunnus
“ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ (al anbiya;87)
Artinya :
Tidak ada Tuhan Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau bahwasanya saya orang yang dholim
  1. Doa Nabi zhadsfiya
“ Robbi latadzarni wa anta choirul warisin “ (an biya ; 89)
Artinya :
Ya Allah janganlah Engkau membiarkan saya hidup seorang diri, bahwasanya engkau pemberi waris yang paling baik
“ Robbi habli miladunka duriyattan, thoyibatan innaka sami’ud du’a “ (ali imron;28)
Artinya :
Ya Tuhan berilah saya seorang anak yang baik dari sisiMu, bahwasanya Engkau maha pendengar Doa
  1. Doa Nabi Musa
“ Robis shrohli shodri wa ya shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli “ (Thoha ; )
Artinya :
Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku
“ Robbi inni dholamtu nafsi fa firlhi “ (al qhosos ; 16)
Artinya :
Ya Allah saya menganiaya diri sendiri, ampunilah aku
“ Robbi Naj jini minal qumid dholimin “ (
Artinya :
Ya Tuhan lepaskanlah saya dari kaum yang dholim
“ Robbi ini lima anzalta illayya min khoirin faqir “ (al qhosos; 24)
Artinya :
Ya Tuhanku bahwasanya saya memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku
“ Robbi firli wa li akhi wa adkhilna fi rohmatika, ya arhamar rokhimin “ (
Artinya :
Ya Tuhanku ampunilah saya dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang diantara yang menyayangi
  1. Doa Nabi Isa
“ Robbana anzil alaina ma idatam minas samai taqunu lana idzal li awalina, wa akhirina, wa ayyatam minka war zukna wa anta khoiru roziqin “ ( al maidah ; 114)
Artinya :
Ya Tuhanku turunkanlah pada kami menu dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang tiba setelah kami, menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi rejeki yang paling baik.
  1. Doa Nabi Syuaib :
“ Robbana taf bainana, wa baina kaumina bil haqqi , wa anta khoirul fatihin “ (A araf; 89)
Artinya :
Berilah keputusan diantara kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik – baiknya.
  1. Doa Nabi Ayyub :
“ Robbi inni masyaniyad durru wa anta arhamur rohimin “
Artinya :
Bahwasanya saya telah ditimpa bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.
  1. Doa Nabi Sulaiman
“ Robbi auzidni an askhuro ni’matakallati an amta allaya wa ala wa li dayya wa an a’mala sholikhan tardhohu wa ad khilni birrohmatika fi ibadikas sholikhin “ (an naml; 19)
Artinya :
Ya Tuhan kami berilah saya inspirasi untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi, dan masukkanlah saya dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.
  1. Doa Nabi Luth
“ Robbi naj jini wa andal mimma ya’malun “
Artinya :
Ya Tuhanku selamatkanlah saya beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan
“ Robbin surni alal kaumil mufsidin “ (assyu araa ; 169)
Artinya :
Ya Tuhanku tolonglah saya dari kaum yang berbuat kerusakan
  1. Doa Nabi Yusuf
“ Fatiros samawati wal ardli anta fiddunya wal akhiro tawwaffani musliman wa al hiqni bissholihin “ (yusuf ; 101)
Artinya :
Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan alam abadi wafatkanlah saya dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah saya dengan orang – orang sholeh.
  1. Doa Nabi Muhammad
“ Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar “ (hadist)
Artinya :
Ya Tuhanku berikanlah saya kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah saya dari api neraka
“ Robbana latuzig qullubana ba’daidz haddaitana wahabblana miladunka, rohmatan innaka antal wahab”
Artinya :
Ya Tuhanku janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat, bahwasanya Engkau yaitu dzat yang banyak pemberiannya.
Sumber http://frequencia89.blogspot.com

√ Pudarnnya Pesaona Cleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, gotong royong semenjak ada dalan kandungan saya telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana ialah sahabat karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu”
kata ibu.
“Kami pernah berjanji, kalau dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap dia dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, hasilnya saya pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu saya harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang tiba begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang terperinci saya sudah punya kriteria dan harapan tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.


Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, sanggup jadi bintang iklan Lux lho, orisinil ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin lantaran saya begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bundar bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, saya berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayit hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku ialah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar lantaran saya seorang insan yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang berjulukan Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, hirau tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.
Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, berguru di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya saya yang tersiksa, Raihanapun mencicipi hal yang sama, lantaran ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin saya belum dewasa, mungkin masih harus berguru berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, saya kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana membisu menunduk, tak usang kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan janji nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas membisu saja, saya harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka lantaran Raihana tetapi lantaran kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup menyerupai orang abnormal tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore saya pulang mengajar dan kehujanan, hingga dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang saya berangkat pagi lantaran ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, saya sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, saya pribadi ke kamar mandi, saya lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas saya buatkan wedang jahe” Aku membisu saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak sanggup kutahan.
Dengan cepat saya berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit bahu dan tengkukku menyerupai yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan membisu saja dong, saya kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku menyerupai anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu saya merebahkan diri di daerah tidur. Kulihat Raihana duduk di bangku tak jauh dari daerah tidur sambil menghafal Al Alquran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.
Dalam tidur saya bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan saya perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, saya melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 saya tiba ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, anggun sekali. Sang ratu mempersilakan saya duduk di bangku yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan saya Mas, menciptakan Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia gres selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya saya merasa sulit hidup bersama Raihana, saya tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum sanggup menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa sanggup dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada program qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan tiba termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita tiba bareng, tidak yummy kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf kalau mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, kemudian perlahan-lahan beranjak meninggalkan saya di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan bunyi parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!”
sahut Hana pribadi menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia senang dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.
Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun saya hirau taacuh dan hirau tak hirau padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa saya ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas perilaku dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana saya mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah abang sulung Raihana membawa sejarah gres lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. ”
Selamat tiba pengantin baru! Selamat tiba pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan senang mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa lantaran saya lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Alquran lantas disebut ideal? Ideal bagiku ialah menyerupai Ibnu Hazm dan istrinya, saling mempunyai rasa cinta yang hingga pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum sanggup mempunyai cinta menyerupai yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibentuk kaget oleh perilaku Raihana yang begitu berpengaruh menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku besar hati dan senang menjadi istriku. Aku sendiri dibentuk pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi perilaku ibuku dan mertuaku yang menyindir ihwal keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal saya ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak usang lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, saya tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah insiden itu, saya mencoba bersikap dekat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, saya hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri saya melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis lantaran cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu saya semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap ketika nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya membisu dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit saya menemukan cinta” gumamku.
Dan hasilnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus daerah saya mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika saya harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika saya pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, saya sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya sanggup demikian. Hanya saja saya sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.
Tapi toh bukan duduk perkara bagiku, lantaran saya sudah terbiasa ketika kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan saya merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu ketika saya pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, saya merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, kemudian menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu saya benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, saya belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu saya ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi saya mendapat kiprah dari universitas untuk mengikuti training mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya ialah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan dia ihwal mesir. Dalam training saya juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kau sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menunjukkan untuk menikah dengan wanita shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melaksanakan langkah yang salah, seandainya saya tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana menyerupai sekarang”. ” Bagaimana itu sanggup terjadi?”. ”
Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita menyerupai ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama abang kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah daerah saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang berjulukan Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil menciptakan garis tegas, akhiri kekerabatan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya menentukan yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta supaya asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi pribadi membeli rumah yang cukup glamor di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih sanggup memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan bawah umur terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan tenang dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan sanggup berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan kuliner Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah menyerupai neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang hasilnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, saya minta kau ceraikan aku, saya tidak sanggup senang kecuali dengan lelaki Mesir”.
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia lantaran tak sanggup menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan ialah tak satupun keluarganya yang membelaku.
Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi informasi bohong.
Sejak ketika itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang kemudian saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.
Mendengar dongeng Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn saya berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar ialah dedikasi dan pengorbanan. Hanya lantaran kemurahan Allah saya mendapatkan istri menyerupai dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin supaya saya mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, saya menyempatkan ke took baju muslim, saya ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin mengatakan kejutan, supaya dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak pribadi ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya saya belum pernah menciptakan surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi�?�ternyata surat-surat itu ialah ungkapan hati Raihana yang selama ini saya zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah daerah ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan lantaran karunia-Mu yang agung ini, pasti hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.
Dalam final tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali tiba mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, kalau memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia lantaran kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang tiba di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu berpengaruh mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu hingga di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa gotong royong yang telah terjadi.
” Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf lantaran tidak sanggup membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .
Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. ”
Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, saya telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kau tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kau sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan supaya kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Kaprikornus Maafkanlah kami”.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika saya mencicipi cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika saya ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika saya ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan saya tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih gres dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah kerikil nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak berpengaruh menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..
Sumber :
repost dari note seorang teman

Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)

 
Sumber http://frequencia89.blogspot.com