Sebenarnya ini bukan ihwal kematianmu, bukan itu. Karena, saya tahu bahwa semua yang ada niscaya menjadi tiada pada akhirnya, dan janjkematian yaitu sesuatu yang pasti, dan kali ini yaitu giliranmu untuk pergi, saya sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa janjkematian benar-benar sanggup memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, kemudian rasanya bisa membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku menyerupai tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya menyerupai angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, saya selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kamu ukir, pada kenangan pahit elok selama kamu ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kamu disini. Mereka menerka saya lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang mengakibatkan saya kekasih yang baik. mana mungkin saya setia padahal memang kecenderunganku yaitu mendua, tapi kamu ajarkan saya kesetiaan, sehingga saya setia, kau ajarkan saya arti cinta, sehingga saya bisa mencintaimu menyerupai ini. Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan kini kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku …. BJ.HABIBIE
Seumpama bunga Kami ialah bunga yang tak Kau kehendaki tumbuh Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga Kami ialah bunga yang tak Kau kehendaki adanya Engkau lebih suka membangun Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga Kami ialah bunga yang Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami kami bunga Engkau ialah tembok itu Tapi di badan tembok itu Telah kami tebar biji-biji Suatu ketika kami akan tumbuh bersama Dengan keyakina: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami Dimanapun – tirani harus tumbang!
Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan,
diberi makan pada dada penurunan nilai,
yang bermain sebagai seorang anak di rumah tirani,
engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur dengan airmata yang getir.
Wahai askar yang diperintah oleh aturan yang tidak adil oleh lelaki yang meninggalkan isterinya,
anak-anaknya yang masih kecil,
sahabat-sahabatnya,
dan memasuki gelanggang maut demi kepentingan cita-cita, yang mereka sebut 'keperluan'.
Wahai penyair yang hidup sebagai orang gila di kampung halamannya, tak dikenali di antara mereka yang mengenalinya,
yang hanya berhasrat untuk hidup di atas sampah masyarakat dan dari tinggalan atas undangan dunia yang hanya tinta dan kertas.
Wahai tawanan yang dilemparkan ke dalam kegelapan kerana kejahatan kecil yang dibentuk seumpama kejahatan besar oleh mereka yang membalas kejahatan dengan kejahatan,
dibuang dengan budi yang ingin mempertahankan hak melalui cara-cara yang keliru.
Dan engkau, Wahai perempuan yang malang,
yang kepadanya Tuhan menganugerahkan kecantikan.
Masa muda yang tidak setia memandangnya dan mengekorimu,
memperdayakan engkau,
menanggung kemiskinanmu dengan emas.
Ketika kamu mengalah padanya, ia meninggalkanmu. Kau serupa mangsa yang gementar dalam cakar-cakar penurunan nilai dan keadaan yang menyedihkan.
Dan kalian, teman-temanku yang rendah hati,
para martir bagi aturan buatan manusia.
Kau bersedih, dan kesedihanmu ialah jawaban dari kebiadaban yang hebat,
dari ketidakadilan sang hakim, dari licik si kaya,
dan dari keegoisan hamba demi hawa nafsunya Jangan putus asa,
kerana di sebalik ketidakadilan dunia ini,
di balik persoalan, di balik awan gemawan,
di balik bumi, di balik semua hal ada suatu kekuatan yang tak lain ialah seluruh kadilan, segenap kelembutan, semua kesopanan, segenap cinta kasih.
Engkau laksana bunga yang tumbuh dalam bayangan.
Segera angin yang lembut akan bertiup dan membawa bijianmu memasuki cahaya matahari kawasan mereka yang akan menjalani suatu kehidupan indah.Engkau laksana pepohonan telanjang yang rendah kerana berat dan bersama salju isu terkini dingin. Lalu isu terkini bunga akan tiba menyelimutimu dengan dedaunan hijau dan lembap banyak.Kebenaran akan mengoyak tabir airmata yang menyembunyikan senyumanmu. Saudaraku, kuucapkan selamat tiba padamu dan kuanggap hina para penindasmu. :+: Khalil Gibran :+:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu berdasarkan jam dan musim.
Suatu saat kamu ingin menciptakan anak sungai, di mana atas tebingnya kamu akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu ialah kesedaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok ialah harapan dan cita-cita utk hari ini.
Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandang di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?
Tapi jikalau di dalam fikiranmu gres mengukur waktu ke dalam musim,
biarkanlah tiap isu terkini merangkumi semua isu terkini yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan. :+: Khalil Gibran :+: