Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Monday, July 30, 2018

√ Surat Terakhir B.J.Habibie Untuk Alm. Ainun Habibie

Sebenarnya ini bukan ihwal kematianmu, bukan itu.
Karena, saya tahu bahwa semua yang ada niscaya menjadi tiada pada akhirnya,
dan janjkematian yaitu sesuatu yang pasti,
dan kali ini yaitu giliranmu untuk pergi, saya sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa janjkematian benar-benar sanggup memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, kemudian rasanya bisa membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku menyerupai tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang,
rasanya menyerupai angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, saya selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kamu ukir, pada kenangan pahit elok selama kamu ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kamu disini.
Mereka menerka saya lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang mengakibatkan saya kekasih yang baik.
mana mungkin saya setia padahal memang kecenderunganku yaitu mendua,
tapi kamu ajarkan saya kesetiaan, sehingga saya setia,
kau ajarkan saya arti cinta, sehingga saya bisa mencintaimu menyerupai ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan kini kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
BJ.HABIBIE

http://chapuccino.wordpress.com

Sumber http://kickfahmi.blogspot.com

√ Kangen

 Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu yaitu siksa.
Kesepian yaitu ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila saya dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

WS Rendra

Sumber http://kickfahmi.blogspot.com

√ Bunga Dan Tembok (By Wiji Tukul)

Seumpama bunga
Kami ialah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami ialah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami ialah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami kami bunga
Engkau ialah tembok itu
Tapi di badan tembok itu
Telah kami tebar biji-biji
Suatu ketika kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakina: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Dimanapun – tirani harus tumbang!

(1987-1988)
Sumber http://kickfahmi.blogspot.com

Sunday, July 29, 2018

√ Catatan Seorang Demonstran


ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjodi di miraza
tapi saya ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara wacana anjing-anjing kita yang badung dan lucu
atau wacana bunga-bunga yang anggun di lembah mendala wangi
 
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi saya ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Sumber http://kickfahmi.blogspot.com

√ Bagi Sahabatku Yang Tertindas


Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan,
diberi makan pada dada penurunan nilai,
yang bermain sebagai seorang anak di rumah tirani,
engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur dengan airmata yang getir.
Wahai askar yang diperintah oleh aturan yang tidak adil oleh lelaki yang meninggalkan isterinya,
anak-anaknya yang masih kecil,
sahabat-sahabatnya,
dan memasuki gelanggang maut demi kepentingan cita-cita, yang mereka sebut 'keperluan'.
Wahai penyair yang hidup sebagai orang gila di kampung halamannya, tak dikenali di antara mereka yang mengenalinya,
yang hanya berhasrat untuk hidup di atas sampah masyarakat dan dari tinggalan atas undangan dunia yang hanya tinta dan kertas.
Wahai tawanan yang dilemparkan ke dalam kegelapan kerana kejahatan kecil yang dibentuk seumpama kejahatan besar oleh mereka yang membalas kejahatan dengan kejahatan,
dibuang dengan budi yang ingin mempertahankan hak melalui cara-cara yang keliru.
Dan engkau, Wahai perempuan yang malang,
yang kepadanya Tuhan menganugerahkan kecantikan.
Masa muda yang tidak setia memandangnya dan mengekorimu,
memperdayakan engkau,
menanggung kemiskinanmu dengan emas.
Ketika kamu mengalah padanya, ia meninggalkanmu. Kau serupa mangsa yang gementar dalam cakar-cakar penurunan nilai dan keadaan yang menyedihkan.
Dan kalian, teman-temanku yang rendah hati,
para martir bagi aturan buatan manusia.
Kau bersedih, dan kesedihanmu ialah jawaban dari kebiadaban yang hebat,
dari ketidakadilan sang hakim, dari licik si kaya,
dan dari keegoisan hamba demi hawa nafsunya Jangan putus asa,
kerana di sebalik ketidakadilan dunia ini,
di balik persoalan, di balik awan gemawan,
di balik bumi, di balik semua hal ada suatu kekuatan yang tak lain ialah seluruh kadilan, segenap kelembutan, semua kesopanan, segenap cinta kasih.
Engkau laksana bunga yang tumbuh dalam bayangan.
Segera angin yang lembut akan bertiup dan membawa bijianmu memasuki cahaya matahari kawasan mereka yang akan menjalani suatu kehidupan indah.Engkau laksana pepohonan telanjang yang rendah kerana berat dan bersama salju isu terkini dingin. Lalu isu terkini bunga akan tiba menyelimutimu dengan dedaunan hijau dan lembap banyak.Kebenaran akan mengoyak tabir airmata yang menyembunyikan senyumanmu. Saudaraku, kuucapkan selamat tiba padamu dan kuanggap hina para penindasmu.
:+: Khalil Gibran :+:

Sumber http://kickfahmi.blogspot.com

Saturday, July 28, 2018

√ Tanya Sang Anak


Konon pada suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga
Terdiri dari sang ayah dan ibuSerta seorang anak gadis muda dan naif!
Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!Ibu!
Mengapa saya dilahirkan wanita?Sang ibu menjawab,
"Kerana ibu lebih berpengaruh dari ayah!
"Sang anak melamun dan berkata,"Kenapa jadi begitu?
"Sang anak pun bertanya kepada sang ayah
!Ayah!
Kenapa ibu lebih berpengaruh dari ayah?
Ayah pun menjawab,"Kerana ibumu seorang wanita!!!
Sang anak kembali terdiam.
Dan sang anak pun kembali bertanya!
Ayah!
Apakah saya lebih berpengaruh dari ayah?
Dan sang ayah pun kembali menjawab," Iya,
kau yakni yang terkuat!"
Sang anak kembali melamun dan sesekali mengerut dahinya.
Dan ia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.
Ayah!
Apakah saya lebih berpengaruh dari ibu?
Ayah kembali menjawab,"Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!
""Kenapa ayah, kenapa saya yang terkuat?
" Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.
Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan.
"Kerana engkau yakni buah dari cintanya!
Cinta yang sanggup menciptakan semua insan tertunduk dan terdiam.
Cinta yang sanggup menciptakan semua insan buta, tuli serta bisu!
Dan kamu yakni segalanya buat kami.
Kebahagiaanmu yakni kebahagiaan kami.
Tawamu yakni tawa kami.
Tangismu yakni air mata kami.
Dan cintamu yakni cinta kami.
Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?
Apa itu cinta, Ibu?
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,"Kau, kamu yakni cinta kami sayang.."
:+: Khalil Gibran :+:

Sumber http://kickfahmi.blogspot.com

√ Waktu

Dan seorang pakar astronomi berkata,
"Guru, bagaimanakah ihwal Waktu?
"Dan ia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu berdasarkan jam dan musim.
Suatu saat kamu ingin menciptakan anak sungai, di mana atas tebingnya kamu akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu ialah kesedaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok ialah harapan dan cita-cita utk hari ini.
Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandang di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?
Tapi jikalau di dalam fikiranmu gres mengukur waktu ke dalam musim,
biarkanlah tiap isu terkini merangkumi semua isu terkini yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.
:+: Khalil Gibran :+:

Sumber http://kickfahmi.blogspot.com