Showing posts with label Anak-Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak-Anak. Show all posts

Thursday, January 18, 2018

√ Tomatina Benci Hujan



Di dalam hutan, hiduplah sekelompok peri buah yang berjulukan Tomatina, Apelina, dan Melonia. Mereka bertiga sudah akrab semenjak kecil. Tugas peri buah adalah menciptakan buah menjadi matang.
Dalam menjalankan tugas, mereka selalu mengerjakannya bersama-sama, itulah sebabnya mereka sering dijuluki “tiga perbu” yang artinya tiga peri buah yang selalu bersama dimanapun dan kapanpun.
Ketika mereka bertiga sedang menjalankan tugas, Tomatina gelisah lantaran tugasnya belum final sedangkan langit semakin mendung, ini tanda hujan akan turun. Sejak kecil Tomatina benci pada hujan, itulah sebabnya mengapa Tomatina selalu menghilang ketika muncul awan hitam dilangit.
“Dheeerrr!” terdengar bunyi petir dari langit dan pada ketika itu juga awan hitam datang. Tomatina gelisah, kedua sahabatnya menanyakan apa yang menciptakan ia gelisah menyerupai itu. Tetapi Tomatina tidak menjawab pertanyaan mereka, dalam hatinya ia benci pada hujan. Menurut ia hujan itu jahat, lantaran hujan yang menciptakan sayapnya berair dan sulit digerakkan sehingga sangat sulit untuk terbang.
Tidak disangka hujan eksklusif mengguyur mereka saat itu juga. “aku pulang ya” kata Tomatina yang eksklusif terbang secepat mungkin agar tidak basah. Apelina dan Melonia masih melakukan kiprah mereka ketika Tomatina terbang meninggalkan mereka.
Keesokan harinya ketika mereka bertiga sedang berada diladang anggur, matahari bersinar terang, hal inilah yang menciptakan Tomatina bersemangat mematangkan buah anggur disekelilingnya.
Tiba-tiba hujan turun, sayap dan badan mereka bertiga berair kuyup. “Aku benci hujan, hujan menciptakan kita tidak dapat terbang” kata Tomatina menyalahkan keadaan.
Kedua sahabatnya berusaha menasihati Tomatina bahwa hujan itu hadiah dari Tuhan, hujan menciptakan buah cepat matang. Hujan sangat membantu kiprah mereka sebagai peri buah. Haruslah mereka bersyukur kepada Tuhan lantaran diturunkan-Nya hujan ditempat mereka berada.
“Baiklah, mulai kini saya tidak akan membenci hujan lagi dan saya akan selalu bersyukur kepada Tuhan dikarenakan telah menciptakan hujan turun” kata Tomatina dengan mantap. Mulai ketika itu Tomatina tidak takut, benci, dan gelisah lagi ketika hujan turun.


Sumber http://moonlightrocks.blogspot.com

√ Ayam Hebat Paman Darto



“Kukuruuyuuuuuk....” bunyi ayam hebat Paman Darto kembali terdengar, dan lagi-lagi bunyi itu memaksa saya untuk bangkit tidur, tapi saya tetap saja malas pergi dari daerah tidur. “Sebal!, gres lezat tidur, ayamnya ganggu banget!” teriakku dalam hati, sebetulnya paman Darto punya beberapa hewan peliharaan, tapi entah kenapa ayam hebat nya yang paling menyebalkan. “Sa, bangun.. sudah pagi..” teriakan ibu berhasil membangunkanku pada waktu itu.
“Ma, ayam hebat nya paman Darto kenapa cerewet sekali?” tanyaku pada mama dikala sarapan, mama tertawa begitu saja mendengar pertanyaanku, “Kok malah ketawa, ma? Aku serius..” kataku sambil terus melahap sarapan. Lalu mama menjawab “Setiap ayam hebat sudah niscaya menyerupai itu Sasa, memangnya kenapa? Kok kelihatannya kau sebal sekali hari ini?”. “Tidak usah ditanya lagi ma..” jawabku singkat, dan pribadi menuju garasi untuk mengeluarkan sepeda alasannya ialah hari ini saya sekolah, pada waktu itu jam menunjuk pukul 06.45.
“Kukuruyuuuuk... Kukuruyuuuk...” bunyi itu terdengar lagi dikala dalam perjalanan menuju sekolah. Karena bunyi itu terdengar secara tiba-tiba, saya kaget dan pribadi jatuh di selokan, selokannya kotor dan bau sekali. Sebenarnya saya ingin pulang saja alasannya ialah seragamku kotor, tapi alasannya ialah ada ulangan Matematika di jam pertama, terpaksa saya harus tetap masuk sekolah meskipun seragamku kotor.
Setelah hingga dipintu gerbang saya berhenti dan melihat sekitar, “kok sepi? Ini temam-teman kemana ya?” batinku. Lalu saya melirik jam ditanganku dan ternyata sudah jam 07.10, saya segera berlari menuntun sepedaku ke daerah parkir dan segera berlari sekuat tenagaku supaya cepat hingga di kelas.
“Tok tok tok....” saya mengetuk pintu perlahan. “Masuk!...” kata seseorang yang berada didalam kelas, orang itu ternyata Bu Gina, ia guru matematika yang populer bernafsu di sekolahku.
“Maaf bu, saya terlambat..” kataku pada Bu Gina. “Kenapa kau terlambat? Kamu lupa jikalau hari ini ada ulangan?” tanya Bu Gina dengan nada tinggi, mungkin Bu Gina kesal alasannya ialah saya tiba terlambat, Bu Gina memang orangnya disiplin.
“Saya tidak lupa bu, jikalau hari ini ada ulangan Matematika, sebetulnya tadi jatuh dari sepeda, makanya seragam saya kotor bu” jawabku. “Oke, berhubung kau terlambat masuk, kau dilarang ikut ulangan Matematika hari ini, sehabis istirahat kau kemeja saya untuk ulangan.” kata ia padaku. “iya bu..” jawabku, sebetulnya saya kecewa dengan diriku sendiri kenapa saya tadi tidak berangkat lebih pagi, kejadiannya niscaya tidak menyerupai ini, tidak bertemu ayam Jagonya Paman Darto dan tentunya tidak sial menyerupai hari ini.
“Mamaaaa!!” teriaku sambil menjatuhkan badan ke daerah tidur, hari ini ialah hari paling menyebalkan, dari bangkit tidur hingga disekolah terus saja sial.
Mendengar teriakanku mama pribadi kekamarku sambil bertanya padaku apa yang telah terjadi dan saya menjelaskan pada mama jikalau tadi pagi waktu saya berangkat saya jatuh dari sepeda dan jatuh ke selokan, disekolah saya dieksekusi dilarang ikut ulangan matematika, dan kalaupun saya mau ulangan saya harus mengerjakan ulangan di mejanya Bu Gina dan diawasi sendiri sama Bu Gina.
“Sa, mungkin kau yang kurang sabar  menghadapi suatu kondisi, kau harus berguru dari pengalaman sa.. Jangan suka kesal, tahan emosi kamu” nasehat mama, saya akui memang saya pemarah, praktis patah semangat. “Tapi susah ma,.. semua itu tidak akan terjadi jikalau tidak ada ayam hebat nya Paman Dartoo ma..” kataku.
Mama selalu berkata jikalau ayam hebat nya paman Darto itu tidak salah, mungkin saya saja yang terlalu berlebihan menghadapi suatu masalah.
“Sa, jikalau kau terus berfikir positif, semuanya akan baik-baik saja nak.. Jangan aib mengakui kesalahan yang kau lakukan” kata mama kepadaku. Mungkin selama ini saya terus-menerus menyalahkan ayam hebat Paman Darto, tapi sebetulnya ayam hebat Paman Darto tidak salah apa-apa.
“Sasa... Coba kau berfikir ke arah yang positif, bayangkan.. Ayam hebat Paman Darto dapat menciptakan kau bangkit lebih pagi, jadi kau tidak akan terlambat masuk sekolah, selain itu kau juga punya hiburan dengan mendengarkan bunyi ayam hebat Paman Darto yang merdu itu kan?” kata mama. Setelah kupikirkan berulang kali, memang benar apa kata mama, bunyi ayam hebat Paman Darto dapat menciptakan saya bangkit lebih pagi. Mulai dikala ini saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa lagi.


Sumber http://moonlightrocks.blogspot.com

Wednesday, January 17, 2018

√ Rumah Kakek Berhantu



“Sreeng.. Sreng..” Suara dari dapur membuatku berdiri dari tidur siang, tidak sadar saya eksklusif berjalan ke dapur dan ternyata ibu sedang menumis kangkung.
“Ita, jikalau makanannya sudah matang tolong kau antar ke rumah kakek” kata ibu sambil terus menumis kangkung, saya mengangguk sambil berkata “iya bu”. Sebenarnya di dalam hati saya takut ke rumah kakek, sebab rumahnya populer berhantu, tidak terawat, kusam, kotor, serta berantakan.
“Ita, makanannya sudah jadi, cepat kemari dan antarkan ke rumah kakek” kata ibu dari dapur. Aku segera menuju dapur untuk mengambil rantang berisi masakan untuk berbuka puasa kakek, kemudian saya eksklusif mengeluarkan sepedaku dan menaruh rantang di keranjang.
Setelah hingga di halaman rumah kakek, perasaan takut itu muncul. Rumah kakek terlihat tidak terawat serta sangat awut-awutan menyerupai tidak ditempati orang.
“Meong.. Meong..” Muncul sebuah bunyi yang mengagetkan aku, perasaan takutku semakin menjadi-jadi dan sehabis beberapa dikala muncul seekor kucing dari bawah kursi, ternyata kucing itu yakni si Pussy kucing tetangga kakekku.
“Tok Tok Tok… Kakek” Kataku sambil mengetuk pintu rumah kakek. Tidak ada tanggapan dari dalam, hanya ada bunyi Pussy yang terus mengeong di dekatku.
“Tok Tok Tok… Kakek” kataku sekali lagi sambil mengetuk pintu. Dan masih tidak ada jawaban, sama menyerupai tadi tetapi kali ini terdengar bunyi orang sedang menyapu dari dalam rumah.
“Kakek… Kakek..” kataku untuk ketiga kalinya, dan lagi lagi tidak ada jawaban, tetapi bunyi orang yang sedang menyapu it uterus menerus terdengar olehku.
“kukuruukuuuk… kukuuruuukuuk…” muncul bunyi burung yang semakin menciptakan saya merinding. Setelah kulihat, banyak burung-burung yang hinggap diatas rumah kakek, hal ini semakin membuatku takut sekali.
Beberapa dikala kemudian, muncul bunyi orang menangis dari dalam rumah. Aku eksklusif berlari menghampiri sepedaku dan mengayuhnya dengan sekuat tenaga supaya saya dapat cepat hingga rumah sebab saya sudah tidak berpengaruh menahan takut dikala di rumah kakek.
“Loh, kau belum mengantar makanannya ke rumah kakek?” tanya ibu padaku. Aku masih takut, dan tanpa sadar saya eksklusif berlari menuju kamarku dan meninggalkan rantang di keranjang sepedaku.
“Ita, kau kenapa? Apa yang terjadi? Ceritakan pada ibu” kata ibu sambil terus mengetuk pintu kamarku. Aku keluar dan menceritakan kejadian di rumah kakek tadi sore. Ibu tidak percaya serta yakin jikalau rumah kakek itu terawat dan tidak berhantu menyerupai yang saya ceritakan.
Keesokan harinya, ibu pergi ke rumah kakek untuk memastikan semua ceritaku kemarin sore itu benar atau tidak. Setelah ibu pulang dari rumah kakek, ibu tidak menemukan hal-hal yang kualami kemarin. “Mungkin kau salah rumah ita, rumah kakek tidak berhantu ataupun tidak terawat” kata ibu padaku.
Aku masih tidak yakin jikalau saya salah rumah, waktu kecil saya sudah beberapa kali pergi ke rumah kakek dan rumah kakek yakni rumah yang kemarin saya datangi itu.
Saat sore, ibu kembali menciptakan masakan untuk kakek buka puasa. Dan lagi-lagi, saya disuruh ibu untuk mengantarkannya ke rumah kakek. Kali ini saya memberanikan diri untuk mengantarkan masakan ke rumah kakek lagi, selalu kuingat perkataan ibu tadi pagi yang menyatakan jikalau rumah kakek itu tidak berhantu. “Tok Tok Tok... Kakek..” kataku sambil mengetuk pintu rumah kakek, dikala itu belum ada jawaban. Aku mengamati rumah kakek, bersama-sama rumah kakek tidak menyeramkan.
“Kakek.. Kakek...” kataku sekali lagi sambil mendorong pintu rumah kakek, pintunya tidak terkunci dan saya eksklusif masuk ke dalam rumah. Aku berkeliling rumah untuk mencari kakek, dan ternyata kakek berada di dapur sedang berusaha menyalakan api pada kompor minyaknya.
“Kakek….” Ucapku sambil memeluk kakek, kakek kaget dikala tiba-tiba ada yang memeluknya. “Ita, ini kamu?” tanya kakek padaku, “iya kakek, ini Ita” jawabku pada kakek sambil memperlihatkan rantang berisi masakan titipan ibu.
“Kenapa tadi pagi tidak kesini bersama ibumu?” tanya kakek kepadaku, “Tidak kek, Ita takut ke rumah kakek” jawabku, kemudian semua kejadian kemarin sore yang kualami kuceritakan kepada kakek sampai-sampai kakek tertawa.
“Si Pussy kucing tetangga itu memang sering main ke rumah kakek, kemarin sore itu kakek memang sedang menyapu lantai sebab lantainya kotor sekali, terus burung-burung memang sering bertengger diatas rumah kakek, itu hal yang biasa” Penjelasan kakek kepadaku mengenai kejadian kemarin.
“oh, jadi memang benar jikalau rumah kakek tidak berhantu” ujarku sambil tertawa, kakek ikut tertawa dikala melihatku tertawa. Mulai dikala itu, saya lebih sering pergi ke rumah kakek untuk bermain ataupun untuk menemaninya.


Sumber http://moonlightrocks.blogspot.com