Thursday, January 18, 2018
√ Tomatina Benci Hujan
√ Ayam Hebat Paman Darto
Wednesday, January 17, 2018
√ Rumah Kakek Berhantu
Monday, April 17, 2017
√ Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit – Patih Gajah Mada?? Pernah mendengarnya?? Atau melihat film ketika orang bau tanah kau sedang menonton tayangan film yang bercerita perihal kisah kolosal kerajaan dahulu kala, yang berlatang belakang perihal di cuilan Pulau Jawa, tepatnya Jawa Timur?? Yuupp, Kerajaan Majapahit.
Saat ini, santinorice.com akan menguraikan perihal Kerajaan Majapahit, Sejarah Kerajaan, Letak Kerajaan, Peninggalan Kerajaan, Raja – Raja, bahkan kehidupan politik, sosial, budaya serta agama yang dianut oleh masyarakat Majapahit tempo itu.
Yuukk, eksklusif disimak saja gaes..
Contents
Sejarah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit menjadi salah satu kerajaan yang tersohor serta terbesar yang ada di Bumi Pertiwi Nusantara. Raden Wijaya yang telah mendirikan kerajaan ini, sekitar tahun 1293M.
Raden Wijaya pun bertindak sebagai Raja Majapahit yang pertama pada tahun 1293M hingga 1309M.
Kerajaan ini, berdiri disebabkan lantaran adanya penyerangan oleh Adipati Kediri atau yang dikenal dengan Jayaketwang.
Adipati Kediri sebelum menyerang Majapahit, Ia terlebih dahulu membunuh raja terakhir dari Kerajaan Singasari, yaitu Raja Kertanegara, lantaran Kertanegara menolak untuk membayar upeti kepada Jayaketwang.
Lalu, Raden Wijaya yang tidak lain yaitu menantu dari Kertanegara, melarikan diri ke tempat Madura, untuk mencari santunan dari Aryawiraraja.
Aryawiraraja pun menghadiahkan wilayah berupa hutan tarik kepada Raden Wijaya, biar dipakai untuk membangun wilayah kekuasaan sendiri. Singkat cerita, hutan tarik tersebut dijadikan desa gres yang diberi nama “Majapahit”.
Mengapa diberi nama “Majapahit”?? Maja sendiri berarti buah maja dan pahit bermakna rasa pahit. Yang jikalau digabungkan, berarti Maja yang Pahit
Selanjutnya, Pasukan Mongolia mengirimkan 3 utusannya ke tanah Jawa, yakni Ike-Mise, Shis-Pi serta Kau-Hsing, diperintahkan untuk memberi eksekusi kepada Kertanegara lantaran tidak membayar pajak upeti.
Pada situasi diatas, Pasukan Mongolia datang, dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk bekerja sama mengalahkan pasukan dari Jayaketwang. Setelah, Jayaketwang terbunuh, Raden Wijaya pun mengusir para pasukan Mongolia dari wilayah mereka.
Pengusiran itu terjadi, dikarenakan pasukan Mongolia berpesta merayakan kemenangannya atas Jayaketwang. Ketika semua pasukan Mongolia lengah lantaran pesta itu, Raden Wijaya kemudian memanfaatkannya untuk menyerang pasukan Mongolia.
Dengan berhasil mengusir pasukan Mongolia tersebut, Raden Wijaya pun naik tahta serta diberi gelar Sri Kertajasa Jayawardhana pada tahun 1293M. Para andal menyimpulkan, pada tanggal 10 Nopember 1293M, telah dinobatkan Raden Wijaya Sebagai Raja Kerajaan Majapahit.
Letak Kerajaan

Tata letak kerajaan ini berada didaerah Pulau Jawa, tepatnya ialah Provinsi Jawa TImur. Terletak didesa, yang berjulukan Triwulan sebuah wilayah di Mojokerto. Berdiri pada tahun 1293M hingga 1500M.
Sistem Pemerintahan
Pada masa pemerintahan Raja ke – 4, Hayam Wuruk, birokrasi serta pemerintahan berjalan dengan sangat teratur. Berikut sistim Birokrasi yang diterapkan oleh Hayam Wuruk dikala itu :
- Raja yang menjabat diasumsikan sebagai Penjelmaan Dewa oleh rakyat Majapahit dan mempunyai kekuasaan penuh didalam kerajaan..
- Rakryan Mahamantri Kartini, biasanya akan diduduki oleh para putra raja.
- Dharmadyaksa, yaitu pejabat dibidang aturan didalam pemerintahan kerajaan.
- Dharmaupattati, yakni pejabat dalam bidang keagamaan di kerajaan.
Tak hanya itu, Hayam Wuruk pun, membagi wilayah Kerajaan Majapahit dengan sangat teratur, antara lain :
- Bhumi : kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja.
- Negara : dipimpin oleh seorang Raja atau Natha atau Bhre, setara dengan tingkat provinsi.
- Watek : dipimpin oleh Wiyasa, setara tingkat kabupaten.
- Kuwu : dipimpin oleh seorang Lurah, setara dengan kelurahan.
- Wanua : dipimpin oleh seorang Thani, setara dengan desa.
- Kabuyutan : setara dengan dusun atau bisa juga menjadi tempat – tempat sakral Majapahit.
Baca Juga : Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Raja – Raja Kerajaan Majapahit

- Raden Wijaya (periode 1293M – 1309M) (pendiri kerajaan).
- Jayanegara (periode 1309M – 1328M).
- Tribuana Tungga Dewi (periode 1328M – 1350M).
- Hayam Wuruk (periode 1350M – 1389M).
- Kusumawardani – Wikramawardhana (periode 1389M – 1399M).
- Suhita (periode 1399M – 1429M).
- Bhre Tumapel (Kertawijaya (periode 1447M – 1451M).
- Rajasawardhana (periode 1451M – 1453M).
- Purwawisesa (periode 1456M – 1466M).
- Kartabumi (periode 1466M – 1478M).
Bidang Politik, Ekonomi dan Kebudayaan Majapahit
1. Bidang Politik

Politik di Majapahit, banyak terjadinya pemberontakan dalam intern kerajaan sendiri, yang dipimpin oleh Ranggalawe, Nambi dan Sora, yang bertujuan untuk melengserkan pemerintahan Raden Wijaya.
Raden WIjaya dikenal dengan sifatnya yang sangat cerdik, sehingga pemberontakan itu bisa mereka atasi. Raden Wijaya wafat di tahun 1309M, kemudian digantikan oleh anaknya yang masih berumur 15 tahun, berjulukan Jayanegara.
Baca Juga : Kerajaan Kutai
Penunjukkkan tahta kerajaan kepada Jayanegara, sangat tidak tepat. Dimana, banyak terjadinya pemberontakan di Majapahit, lantaran tidak tegasnya kepemimpinan Jayanegara. Sehingga, ada sebutan “Kala Jamet” untuk Jayanegara, yang berati lemah nan jahat.
Beruntung Majapahit mempunyai Gajah Mada, yang ketika itu belum menjadi Mahapatih. Dengan adanya Gajah Mada, Jayanegara dilarikan ke desa Badaran, yang ketika itu pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti hampir berhasil untuk membunuh Jayanegara.
Di desa Badaran, ternyata Jayanegara dibunuh oleh Tancha ketika menjalankan proses operasi. Tancha itu sendiri, berprofesi sebagai tabib dan mempunyai dendam kesumat kepada Jayanegara. Hal ini diketahui Gaja Mada, kemudian Tancha ditangkap serta dibunuh oleh Gajah Mada sendiri.
Setelah wafatnya Jayanegara, Majapahit dipimpin oleh adiknya yang berjulukan Gayatri. Jayanegara tidak mempunyai keturunan, maka tahta kerajaan diwariskan ke Gayatri. Gayatri sendiri bergelar Tribuana Tunggadewi, yang memimpin Majapahit dari 1328M hingga 1350M.
Pemerintahan Gayatri pun tidak lepas dari pemberontakan, tetapi lagi dan lagi Gajah Mada berhasil menghalaunya. Berkat jasanya, alhasil Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih. Pada ketika pelantikan, Gajah Mada mengucap sumpah, yang kita kenal kini dengan “Sumpah Palapa”.
Bunyi Sumpah Palapa :
“Gajah Mada pantang bersenang – senang, sebelum berhasil menyatukan Nusantara”
Tribuana Tunggadewi wafat tahun 1350M, sehingga tahta kerajaan diteruskan Hayam Wuruk. Pada kepemimpinan Hayam Wuruk inilah, Majapahit yang dibantu oleh Gajah Mada menjadi berpengaruh dan besar. Yang kekuasaannya hampir menguasai seluruh wilayah di Indonesia.
2. Bidang Ekonomi
Majapahit terletak di tempat yang sangat strategis, hampir semua masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang. Namun, banyak juga bekerja sebagai pengrajun emas, perak dan lain – lain.
Majapahit pun banyak mempunyai barang = barang alam, menyerupai kain, garam, lada serta burung kakaktua yang berhasil menjadi komoditas ekspor dari sebagian rakyatnya. Untuk impornya, mereka menentukan barang – barang yang terbuat dari besi, mutiara, perak, emas, keramik. Mata uang yang dibentuk Majapahit, terbuat dari adonan timah putih dan hitam, perak, serta tembaga.
Kemajuan dalam bidang ekonomi, disebabkan oleh 2 faktor, Yaitu :
- Sungai Bengawan Solo dan Lembah Sungai Berantas, yang cocok untuk bertani lantaran datarannya yang rendah.
- Pelabuhan yang berada di utara pantai Pulau Jawa, untuk sekedar pembayaran upeti ketika pedagang – pedagang lain singga di Majapahit.
3. Bidang Budaya
Perayaan keagamaan yang diadakan tiap tahunnya, bidang seni dan sastra, yang berperan penting dalam kebudayaan di Majapahit. Itulah yang menciptakan Majapahit sangat maju dalam bidang kebudayaan.
Masa Kejayaan
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350M – 1389M), Kerajaan Majapahit hampir menguasai seluruh Nusantara. Yang dibantu dengan seorang Mahapatih yang berjulukan Gajah Mada. Sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang terkuat, terbesat serta ditakuti pada masanya.
Tak hanya di Indonesia saja, Majapahit ternyata bisa menguasai wilayah Asia Tenggara lainnya, menyerupai Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Runtuhnya Majapahit
Era emas Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, yang telah menaklukan banyak wilayah di Indonesia berakhir sudah. Sepeninggalan mereka, Majapahit pun mengalami suatu kemunduran yang drastis.
Selain itu, perkembangan kerajaan – kerajaan Islam di Indonesia, sudah semakin banyak. Yang sudah usang berdiri atau gres berdiri, saling menyerang Majapahit, sehingga menciptakan Kerajaan ini menjadi runtuh tahun 1518M.
Peninggalan – Peninggalah Majapahit
- Candi Tikus

- Candi Jabung

- Candi Brahu

- Gapura Wringin Lawang

- Gapura Bajang Ratu

Demikian warta perihal sejarah singkat, pendiri, runtuhnya, dan peninggalan Kerajaan Majapahit yang melegenda, yang berhasil santinorice.com rangkum. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kalian ya.
Sumber aciknadzirah.blogspot.com
Friday, April 14, 2017
√ Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara – Pernah mendengar perihal Tarumanegara?? Sekarang, SantinoRice.com akan membahas perihal Sejarah Perkembangan Kerajaan Tarumanegara. Pasalnya, kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu terbesar kedua sehabis sebelumnya ada Kerajaan Kutai.
Untuk itu, yuukk disimak artikel berikut perihal Kerajaan Tarumanegara.
Contents
Sejarah Berdirinya
Tarumanegara sendiri, dibagi menjadi 2 kata, yaitu Tarum dan Negara. Kata Tarum artinya sungai, namun sebagian menyebutkan kata Tarum ini yaitu nama sebuah tanaman berwarna yang ada di sungai Citarum. Serta Negara, berarti Negara.
Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Jayasingawarman yang bergelar Rajadiraja, tahun 358M. Kerajaan ini menganut pemikiran Hindu. Karena ditemukannya Naskah Wangsakerta.
Isi dari Naskah Wangsakerta membuktikan bahwa wilayah di Nusantara banyak didatangi pengungsi – pengungsi dari kerajaan di India. Pengungsi yang datang, kebanyakan berasal dari Kerajaan Palawa dan Kerajaan Calankayana. Karena pada ketika itu, di India sedang terjadi perang besar.
Dewawarman VIII atau Raja Salakanagara yang ketika itu menjabat sebagai raja di Jawa Barat, menawarkan izin bermukim kepada para pengungsi tersebut. Salah satu pemimpin tersebut dipimpin oleh Maharesi, yang berjulukan Jayasingawarman, Calankayana. Tempat bermukim dari rombongan Jayasingawarman beserta rombongan ini dinamakan Tarumadesya yang berarti Desar Taruma, terletak didekat sungai Citarum.
Seiring berjalannya waktu, Jayasingawarman mendirikan kerajaan yang berjulukan Tarumanegara, alasannya yaitu semakin banyaknya orang yang tiba di desa ini.
Letak Geografis Kerajaan

Kerajaan Tarumanegara berkembang di erat aliran sungai Cisadane, Ciliwung dan Citarum. Dibangun sekitar era ke-6M disebelah barat Pulau Jawa, kini masuk Provinsi Banten, Jakarta dan Jawa Barat.
Raja – Raja Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Hindu kedua ini, sempat dipimpin oleh 12 orang Raja, yaitu :
- Jayasingawarman (358m – 382m).
- Dharmayawarman (382m – 395m).
- Purnawarman (395m – 434m).
- Wisnuwarman (434m – 455m).
- Indrawarman (455m – 515m).
- Candrawarman (515m – 535m).
- Suryawarman (535m – 561m).
- Kertawaman (561m – 628m).
- Sudhawarman (628m – 639m).
- Hariwangsawarman (639m – 640m).
- Nagajayawarman (640m – 666m).
- Linggawarman (666m – 669m).
Masa Kejayaan
Kerajaan Tarumanegara ini hanya berlangsung selama 3 generasi saja dan memperoleh masa kejayaannya ketika dipimpin ole Raja ke-3, yaitu Raja Purnawarman, yang tak lain yaitu cucu dari pendiri kerajaan, Jayasingawarman.
Pada pemerintahan Raja Purnawarman, kerajaan ini berkembang dengan sangat pesat. Dengan berhasil memperluas kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan – kerajaan disekitar Tarumanegara.
Tak hanya itu, Raja Purnawarman pun mendirikan beberapa bangunan infrastruktur biar mendukung perekonomian kerajaan, sebagai misalnya yaitu sungai Gomati dan sungai Candrabaga. Raja Purnawarman telah menyumbangkan 1.000 ekor sapi untuk pembangunan sungai tersebut.
Dengan melaksanakan perluasan secara besar – besaran, luas kekuasaan Tarumanegara sebanding dengan luas seluruh Jawa Barat. Raja Purnawarman juga dikenal sebagai raja yang bakir bijaksana, adil, besar lengan berkuasa serta tegas kepada rakyatnya.
Dia juga menyusun taktik dalam berperang, peraturan peperangan, membangun dinasti Warman serta menciptakan undang – undang perihal perkembangan kerajaan dan rakyatnya biar lebih berkualitas.
Masa Runtuh
Tarumanegara runtuh dikarenakan ketika dipimpin oleh Raja Tarusbawa, raja ke-13. Raja Tarusbawa lebih menentukan memimpin di kerajaan kecilnya di wilayah hilir sungai Gomati, daripada harus menduduki tahta di Tarumanegara.
Selama kokosongan yang terjadi itu, terjadi banyaknya serangan dari beberapa kerajaan di Jawa Barat. Salah satunya ialah Kerajaan Majapahit, yang menjadi tombak penting atas kehancuran Tarumanegara ini.
Tahta Kerajaan Tarumanegara, dipegang oleh Sudawarman. Yang mengakibatkan Tarumanegara mengalami kemunduran. Beberapa hal tersebut, antara lain :
- Sudawarman tidak mengerti perihal dilema yang ada di Tarumanegara.
- Sudawarman semenjak kecil tinggal di tempat Kanci, sehingga membuatnya tidak peduli perihal kasus kerajaan.
- Sudawarman menyerahkan ekonomi kepada raja dibawahnya.
Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Seperti kerajaan – kerajaan lain yang ada di Indonesia, Kerajaan Tarumanegara pun meninggalkan beberapa prasasti bersejarah. Berikut peninggalan bersejarah yang berhasil kami rangkum.
1. Prasasti Ciarunteun

Ditemukan didekat sungai Ciarunteun, erat sungai Cisadane di Bogor. Prasasti yang berlukiskan sepasang tapak kaki ini, disinyalir yaitu tapak kaki Dewa Wisnu.
Prasasti ini dikenal juga sebagai Prasasti Ciampea, ditulis memakai huruf Palawa dan berbahasa Sanskerta. Makna dari tapak kaki ini bahwa Raja Purnawarman selain menjadi Raja Tarumanegara, juga sebagai pengayom atau melindungi rakyat Tarumanegara.
Baca Juga : Kerajaan Sriwijaya
2. Prasasti Kebon Kopi

Prasasti ini ditemukan di Kampung Muara Hilir, Kec. Cibungbuang. Merupakan sebuah kerikil yang terdapat jejak kaki gajah airawata. Gajah ini merupakan tunggangan dari Dewa Wisnu. Prasti ini ditulis degan huruf Palawa dan berbahasa Sanskerta.
3. Prasasti Tugu

Prasasti ini, tidak beda jauh dengan prasasti – prasasti lainnya, bertuliskan huruf palawa dan berbahasa Sanskerta. Ditemukan di tempat Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Berisi tentang, cerita Purnawarman yang ketika menjabat raja, memerintahkan pasukan untuk menggali jalan masuk air di Gomati dan Chandrabaga selama 21 hari sepanjang 6.112 tombak.
4. Prasasti Jambu
Ditemukan didaerah perbukitan, yaitu Bukit Koleangkak Bogor. Berisi perihal sanjungan – sanjungan kepada Purnawarman yang gagah dan berani.
5. Prasasti Muara Cianten

Prasasti ini bertuliskan abjad ikal, sampai kini belum diketahui apa isi dari prasasti tersebut.
6. Prasasti Cidanghiyang

Ditemukan di pinngir sungai Cidanghiyang, tepatnya di desa Lebak, Pandeglang, Banten tahun 1947. Prasasti yang bertuliskan huruf Palawa ini, dikenal juga dengan sebutan Prasasti Lebak.
Isi prasasti ini ialah, “Ini tanah keperwiraan, keagungan dan keberanian yang bersungguh-sungguh dari Raja Dunia, Yang Mulia Purnawarman, yang menjadi sekalian raja”.
7. Prasasti Pasir Awi

Ditemukan di tempat Leuwiliang, yang terdapat gambar pahatan dahan, ranting, daun-daunan, buah-buahan, serta tapak kaki juga. PRasasti yang bertuliskan abjad ikal pun, sampai kini belum sanggup diketahui isinya.
Itulah Sejarah Singkat perihal Kerajaan Tarumanegara yang ada di Jawa Barat. Semoga sanggup menambah ilmu serta wawasan kalian ya.
Sumber aciknadzirah.blogspot.com
Wednesday, April 12, 2017
√ Peninggalan Kerajaan Demak
Peninggalan Kerajaan Demak – Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas perihal Kerajaan Demak. Sejarah singkat, lokasi kerajaan, raja yang memimpin, hingga runtuhnya kerajaan tersebut yang disebabkan oleh faktor perebutan tahta di pihak keluarga Kerajaan Demak itu sendiri.
Untuk artikel ini, SantinoRice.com akan membahas perihal penyebaran Ajaran Islam dan peninggalan – peninggalan bersejarah dari Kerajaan Demak atau disebut juga dengan Kesultanan Demak.
Okee gaes, eksklusif disimak dengan secama ya artikel berikut.
Contents
Penyebaran Ajaran Islam di Kerajaan Demak
Secara Geografis, Kesultanan Demak berada dilokasi yang amat strategis, yaitu di daerah Bintoro yang dikelilingi oleh muara sungai dari perairan Laut Muria. Sehingga menciptakan tanah – tanah di daerah Kerajaan Demak menjadi sangat subur, khususnya bidang pertanian.
Tak hanya itu, dalam bidang perdagangan, kerajaan ini menjadi kendali jalur dagang lantaran terletak diantara 2 pelabuhan besar, yaitu pelabuhan Mataram dan Pelabuhan Jepara.
Penyebaran fatwa Islam dipermudah dengan banyaknya pedagang yang singgah di daerah Kerajaan Demak. Terlebih lagi dengan keberadaan Wali Songo, yang sangat berperan penting dalam kemajuan fatwa Islam di kerajaan ini.
Terbukti dengan dibangunnya tempat ibadah bagi penganut agama Islam, yaitu Masjid Agung Demak. Dengan adanya Masjid Agung Demak itu, Wali Songo memusatkan aktivitas dan pengenalan perihal Islam menjadi lebih gampang dan tepat.
Contohnya ibarat Sunan Kalijaga, yang membuatkan dan mengenalkan Agama Islam melalui seni pewayangan, yang menciptakan Islam lambat laun mulai diterima oleh khalayak banyak di daerah kerajaan, yang pada dikala itu sebagian rakyat kerajaan masih menganut fatwa Hindu.
Disinilah asal muasal, Raden Patah mendirikan pesantren, yang dimana murid – murid dari Raden Patah tak hanya dari Pulau Jawa saja. Bahkan hampir seluruh pulau di Indonesia yang tiba dan menuntut ilmu di pesantren ini, ibarat Ambon, Sumatera, Kalimantan dan lainnya.
Sejak Kerajaan Majapahit yang menganut fatwa Hindu terbesar hancur, Demak memisahkan diri dan mulai mengembang kerajaannya sendiri. Kerajaan Demak pun menjadi peranan penting dalam berkembangnya Ajaran Islam di Pulau Jawa.
Dimulai dari mengambil alih kembali Malaka yang sempat diduduki oleh Portugis. Fatahillah dan pasukannya lah yang berhasil mengusir Portugis dari Malaka, yang dahulu dikenal dengan Sunda Kelapa. Seiring perkembangannya, Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta dan kini kita mengenalnya sebagai ibukota Indonesia, yakni Jakarta.
Kerajaan Demak memang sudah menguasai tanah Jawa sekitar setengah kala yang lalu, namun peradabannya masih dapat kita rasakan hingga dikala ini, ibarat :
- Senopati Jimbun menyusun suatu undang – undang serta peraturan dalam bidang hukum, yaitu Salokantara. Kitab ini berisi perihal hakim dalam memimpin program keagamaan, yang disebut Kertopapatti dan Dharmahyaksa.
- Imam Masjid Demak bergelar Penghulu atau Kepala. Gelar ini diberikan kepada orang penting dimasanya, yaitu Sunan Kalijaga. Kali disini yaitu turunan dari Bahasa Arab, yaitu Qadli.
- Semakin berkembangnya bidang militer, terbukti dengan dibangunnya bangunan – bangunan di Demak serta di ibukota di kala ke-16 ini.
- Peranan Masjid Demak selain sebagai tempat peribadatan rakyat Demak, juga dipakai sebagai sentra pertemuan dengan Kekhalifahan Ustmaniyah yang ada di Turki.
- Dalam bidang kesenian, ibarat wayang topeng, wayang orang, tembang macapat, hikayat Jawa, pembuatan keris – keris dan gamelan.
- Berkembangnya juga sastra Jawa di pantai timur Jawa dan pelabuhan – pelabuhan sebelah utara, yang sudah diubah menjadi lebih Islami.
Peran penting Agama Islam di Kerajaan Demak, memang mendorong kemajuan dalam bidang yang lainnya, ibarat Ekonomi, Militer, Pertahanan Kota, Kesenian, Sosial Budaya dan sebagainya. Ajaran Islam yang digalakkan oleh para keluarga kerajaan serta tugas penting dari Wali Songo. mengakibatkan Islam sebagai Fondasi kokoh untuk rakyat Demak yang unggul dan berkualitas.
Baca Juga : Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno
Peninggalan Bersejarah Kerajaan Demak
1. Masjid Agung Demak

Peninggalan bersejarah yang pertama, ialah Masjid Agung Demak. Masjid ini, didirikan oleh Wali Songo pada tahun 1479M. Masjid yang terletak di Desa Kauman, Demak, Jawa Tengah ini, menjadi bukti kasatmata bahwa Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama kali di tanah Jawa. Meskipun telah beberapa kali direnovasi, Masjid Agung ini masih bernuansa kental dengan arsitektur serta nilai filosofinya.
2. Pintu Bledeg

Bledeg sendiri berarti Petir, yang disebut juga Pintu Petir. Ki Ageng Selo, selaku pembuat pintu Bledek di sekitar tahun 1466M, serta menjadi pintu utama Masjid Agung. Menurut isu masyarakat, mengapa dinamakan pintu petir?? Karena pintu ini memang dibentuk dari petir. Pintu ini, kini tak dipakai lagi sebagi pintu Masjid Agung, tapi lantaran sudah tersimpan didalam Masjid Agung, sebagai koleksi museum peninggalan Kerajaan Demak.
3. Soko Tatal dan Soko Guru

Soko Guru merupakan tiang penyangga bangunan Masjid Agung Demak yang mempunyai diameter hingga 1 meter. Soko Guru yang berjumlah 4 buah ini, dibentuk oleh Sunan Kalijaga. Saat Masjid Agung siap berdiri, Sunan Kalijaga gres menuntaskan 3 buah Soko Guru. Akhirnya, dengan terpaksa Sunan Kalijaga mengeluarkan ilmu spiritualnya, untuk menyambungkan semua potongan kayu atau tatal bekas pembuatan dari 3 buah Soko Guru tadi.
4. Bedug dan Kentongan

Bedug dan Kentongan yang ada di Masjid Agung Demak, merupakan peninggalan bersejarah yang dihentikan dilupakan. Keduanya dipakai sebagai menunjukan bahwa adzan akan dikumandangkan serta panggilan sholat berjamaah di Masjid Agung. Kentongan yang ibarat tapal kuda ini, mempunyai filosofi semoga masyarakat di sekitar Masjid Agung segera datang, ibarat sedang menaiki kuda.
5. Situs Kolam Wudlu

Kolam Wudlu ini dibentuk seiring dibangunnya Masjid Agung Demak. Kolam ini dulunya, dipakai untuk berwudhu santri atau musafir yang tiba untuk melakukan sholat. Saat ini, Kolam Wudlu tidak dipakai untuk berwudhu lagi, tetapi hanya dilihat saja sebagai tempat peninggalan kerajaan.
6. Maksurah

Maksurah merupakan kaligrafi bertuliskan bahasa Arab yang menghiasi dinding Masjid Demak. Dibuat pada tahun 1866M, dikala Adipati Demak di pegang oleh Aryo Purbaningrat. Maksurah tersebut mempunyai makna Keesaan Allah SWT.
7. Dampar Kencana

Merupakan sebuah singgasana Sultan yang dialihfungsikan sebagai Mimbar Khutbah Masjid Agung Demak. Hingga kini, Dampar Kencana telah disimpan di Masjid Agung, sebagai bukti peninggalan Kerajaan Demak.
8. Piring Campa

Piring Campa merupakan pinjaman dari seorang Putri asal Campa. Putri tersebut ialah ibu Raden Patah. Piring tersebut, berjumlah 65 buah. Sebagian dipasang di area imam sholat dan sebagiannya ditempel di dinding – dinding Masjid Agung Demak.
Baca Juga : Kerajaan Majapahit
Demikian isu yang telah kami rangkum, semoga dapat menambah wawasan kalian perihal Kerajaan Islam Pertama di Tanah Jawa.
Sumber aciknadzirah.blogspot.com
Tuesday, April 11, 2017
√ Peninggalan Kerajaan Singasari
Peninggalan Kerajaan Singasari – Setelah kita membahas perihal awal mula berdirinya Kerajaan Singasari, kini SantinoRice.com akan membahas perihal benda peninggalan bersejarah dari kerajaan tersebut.
Langsung saja kita masuk ke topik pembahasan gaes. Cekidootttss!!!

Peninggalan bersejarah dari Kerajaan Singasari banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur, sebagian besar merupakan bangunan candi – candi dan prasasti. Berikut rangkuman yang sudah penulis siapkan perihal Peninggalan – Peninggalan Bersejarah Kerajaan Singasari :
Contents
1. Candi Singasari / Singosari

Bangunan candi ini terletak di Kecamatan Singasari, Malang, Jawa Timur. Tepatnya berdiri di antara Gunung Tengger dan Gunung Arjuna.
Berdasarkan Kitab Negarakertagama dan Prasasti Gajah Mada tahun 1351M, didaerah komplek candi ini merupakan sebuah tempat yang dinamakan “Pendharmaan” bagi sang raja terakhir Kerajaan Singasari, yakni Kertanegara.
Kertanegara yang wafat tahun 1292M, yang disebabkan bahwa Kerajaan tersebut diserang oleh Jayakatwang beserta pasukan Gelang – Gelangnya.
Konon info yang didapat, bahwa Candi Singasari ini belum sepenuhnya selesai dibangun.
2. Candi Jago

Bentuk dari bangunan ini disusun secara Teras Punden Berundak. Candi Jago sangat unik, menurut info masyarakat setempat, potongan atas dari candi ini pernah tersambar petir, yang membuatnya hanya tersisa sebagian saja.
Tersusun dengan berbahan kerikil Andesit, Relief – Relief Pancatantra dan Relief – Relief Kunjarakarna terhias di potongan candi ini.
Baca Juga : Peninggalan Kerjaan Demak
3. Candi Sumberawan

Candi Sumberawan Merupakan sebuah bangunan Stupa yang ditemukan di wilayah Jawa Timur.
Digunakan oleh penganut anutan Buddha ini, terletak sekitar 6 km dari bangunan Candi Singasari.
Latar belakang candi yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama Candi Rawan ini, sungguh cantik, lantaran berada didekat telaga yang airnya begitu jernih.
4. Arca Dwarapala

Menurut penjaganya, arca ini merupakan pintu gerbang wilayah Kotaraja, namun hingga kini belum ditemukan niscaya dimana lokasi yang bahu-membahu dari Kotaraja Singasari. Arca ini mempunyai bentuk yang besar.
5. Prasasti Majusri
Merupakan seuah manuskrip yang dipahat di belakang Arca Majusri. Ditemukan di tempat Candi Jago, kini prasasti ini berada di Musem Nasional Jakarta.
6. Prasasti Mula Malurung
Prasasti ini diberikan kepada Pranaraja, yang merupakan sebuah piagam penganugerahan untuk Desa Mula dan Desa Malurung.
Dibuat dikala Kertanegara masih menjadi raja muda tahun 1255M, atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana selaku Raja Kerajaan Singasari kala itu.
Prasasti ini berbehtuk lempengan – lempengan tembaga. Masing – masing lempengan ditemukan ditempat yang berbeda – beda.
Sekitar sepuluh buah lempengan ditemukan tahun 1975M, bersahabat kota Kediri, Jawa Timur.
Sedangkan, ditemukannya lagi sekitar 3 lempengan di tempat penjual pasar loakan, yang tak jauh dari ditemukannya lemperngan sebelumnya. Semua lempengan tersebut, kini tersimpan rapi didalam Musem Nasional, Jakarta.
Baca Juga : Kerajaan Kutai
7. Prasasti Singasari
Prasasti ini dibentuk oleh Mahapatih Gajah Mada, yang merupakan sebuah manuskrip yang dibentuk untuk mengenang sebuah Caitya atau Candi Pemakaman.
Prasasti yang bertarikh ini dibentuk sekitar tahun 1351M, dimana pada potongan pertama, berisi perihal pentarikhan tanggal yang jelas dan pemaparan perihal posisi – posisi benda di angkasa.
Serta potongan kedua, berisikan perihal maksud dibuatnya prasasti ini, yakni sebagai kejadian pembangunan sebuah caitya.
Ditemukan di Singsasari, Malang, Jawa Timur dan kini telah tersimpan di Museum Gajah serta ditulis memakai Aksara Jawa.
8. Candi Jawi

Merupakan sebuah tempat untuk pendharmaan atau penyimpanan sebagian debu raja terakhir Singasari, Kertanegara.
Dan sebagiannya lagi tersimpan di Candi Singasari. Candi Jawi dan Candi Singasari, saling terkait dengan Candi Jago, yang merupakan sebuah tempat peribadatan Kertanegara.
Candi ini terletak di tengah jalan raya, tempat Kecamatan Pandaan – Kecamatan Prigen dan Pringebukan.
Baca Juga : Kerajaan Majapahit
9. Prasati Wurare
Merupakan sebuah prasasti yang berisi perihal dinobatkannya Arca Mahaksobhya didaerah Wurare. Prasasti ini yang ditulis memakai bahasa Sanskerta sekitar tahun 1289M atau 1211 Saka.
Arca Mahaksobhya menjadi lambang kehormatan Kertanegara dan Kerajaan Singasari, yang dianggap telah mencapai derajat Jina atau Buddha Agung. Yang Tertulis dibagian bawahnya secara melingkar.
10. Candi Kidal

Dibangun sebagai penghormatan kepada Anusapati, raja kedua Singasari. Anusapati memerintah semenjak tahun 1227M hingga 1248M, yang dibunuh oleh Tohjaya atau Ken Umang, sebagai bentuk perebutan tahta Singasari serta balas dendam atas selesai hidup ayahnya, Ken Arok. Kematian Anusapati juga diyakini lantaran kutukan Mpu Gandring.
Nah itulah, beberapa benda Peninggalan Bersejarah Kerajaan Singasari beserta gambar dan letaknya yang sudah penulis bagikan. Sejatinya setiap benda peninggalan bersejarah, perilaku kita yaitu menjaganya sebaik mungkin, ibarat tidak mencoret – coret atau menggambar pada dinding candi yang kita kunjungi.
Agar kelestarian dari benda peninggalan kerajaan ini menjadi tumpuan kasatmata bagi kehidupan anak – anak kita kelak. Semoga sanggup menambah wawasan kalian perihal benda-benda bersejarah yang ada di Nusantara.
Sumber aciknadzirah.blogspot.com